Rabu, 17 Agustus 2011

Rakyat Tanpa Negara

|0 komentar

Oleh: Denni Pinontoan (catatan ini pernah dimuat di Harian Media Sulut)

Pagi itu, bersama Greenhill Weol, saya hadir di Pasific TV. Kami diundang oleh tv lokal itu untuk tampil di dialog pagi. Kami bicara soal "Pancasila dan Keberagaman Budaya." Topik yang usang. Sudah banyak seminar dan orang yang bicara soal itu. Tulisan esai, makalah ataupun buku yang menyinggung soal itu juga sudah banyak. Tapi, menurut saya topik ini menjadi penting lagi ketika tampak gejala seolah-olah Pancasila mau dijadikan lagi sebaga ideologi tunggal, seperti pada massa orde baru. .

Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal dialog itu. Meski yang akan saya tulis ini mungkin memiliki hubungan dengan kontradiksi seputar idealisme Pancasila dengan realitas.

Ceritanya begini: Habis dialog itu saya dan Green pulang ke Tomohon. Lewat di SPBU Winangun tampak antrian mobil memanjang untuk mengisi BBM. Sebuah pemandangan yang semakin biasa di daerah ini. Motor Green haus. Harus segera diisi BBM. Karena SPBU tadi banyak kendaraan antri, kami tidak singgah di SPBU itu. Sekira beberapa menit dari situ ada sebuah kios yang menjual bensin. Botol-botol coca-cola 1 liter dipajang. Isinya bensin. Kami singgah di situ. Di sebelah kios bensin itu ada warung makan. Saya menjadi lapar melihat RW yang dipajang. Kamipun singgah di warung makan itu. Saya pesan nasi RW. Tapi Green lebih suka menyantap daging ayam yang disantan.

Pemilik warung makan itu adalah seorang bapak dan ibu, yang kalau ditaksir usianya sekitar 50-an tahun. Sementara pemilik kios bensin agaknya anak mereka. Menu makanannya lumayan enak. Meski tidak terlalu rapih dan bersih bagian dalam warungnya. Sesekali kami harus mengusir lalat yang tidak sopan mau makan bersama. Bensin yang dijual di kios bensin itu, menurut penjualnya diambil dari SPBU.

Beginilah kehidupan rakyat dari negara yang disebut berdasarkan Pancasila ini. Kalau ditanya mungkin mereka tidak hafal 5 sila Pancasila itu. Tapi, untuk mencapai visi hidup sejahtera tampak mereka lakukan secara serius. Mungkin juga mereka tak hafal ayat-ayat kitab suci yang diajarkan oleh agama mereka. Jelas, banyak orang melakukan kerja adalah untuk hidup.

Pun, kisruh elit-elite politik gencar ditayangkan setiap hari oleh media, rakyat yang bekerja itu tidak ambil pusing. Petani tetap bertani. Nelayan tetap melaut. Para buruh tetap memproduksi. Para pedagang tetap menggelar dagangannya untuk dijual. Ini sebenarnya sebuah realitas bahwa rakyat yang paling banyak tidak bergantung pada negara. Jadi, apa fungsi negara?

Saya tidak mau bicara fungsi negara. Sebab itu terlalu abstrak. Mungkin yang menarik ditegaskan bahwa rakyat adalah kenyataan yang tidak boleh dianggap hanya sebagai lampiran dalam sebuah proses membangun. Pemerintah mestinya tidak meminggirkan para nelayan yang melaut di pantai manado hanya demi alasan pembangunan mall untuk PAD. Tidak perlu juga mengorbankan petani cap tikus demi program stabilitas. Dan kebijakan lain yang tidak berpihak pada rakyat hanya karena ambisi membangun secara kuantitas.

Pemerintah yang adil bukan terutama alasan idealisme ideologi apapaun, termasuk Pancasila. Bukan juga karena pemimpinnya berpura-pura baik hati. Tapi karena membangun secara adil dan menempatkan rakyat sebagai subjek adalah kewajiban pemerintah. Hidup sejahtera adalah hak rakyat. Jika kebijakan pemerintah hanya untuk menguntungkan pemodal; sekelompok orang dalam lingkaran kekuasaan; hanya untuk mempertahankan kekuasaan atau hanya sekadar membuai rakyat, maka mungkin pemerintah tidak diperlukan. Sebab, sehari-hari rakyat masih bisa makan tanpa bantuan ini dan itu, atau tanpa kebijakan apa saja. Justru, rakyat sering sulit hidupnya karena tanahnya dirampas oleh negara, politik minyak bikin susah atau kisruh korupsi dana pembangunan di level elit.

Bulan Agustus ini akan semakin gencar lagi pemerintah berwacana soal nasionalisme. Tanggal 17 Agustus akan datang Republik ini akan merayakan HUT Proklamasinya yang 66 tahun. Nantinya rakyat akan menyaksikan lagi seremonial kenegaraan yang kontras dengan korupsi yang kian menggila; perseteruan elit politik dan pembangunan yang meminggirkan rakyat. Nasionalisme semu akan mengusik keseharian rakyat yang sibuk dengan urusan hidupnya.

Namun, setidaknya bulan ini adalah juga bulan Ramadhan bagi umat Islam. Ibadah puasa kembali mengingatkan para elit negara soal makna menjadi manusia yang tidak serakah. Tapi, apakah mereka akan memaknai itu dalam kekuasaannya? Lihat, dengar dan rasakan saja.

Nazar Pulang

|0 komentar

Oleh: Denni Pinontoan (catatan ini pernah dimuat di Harian Media Sulut)

Perhatian publik beberapa bulan terakhir ini tersedot pada nama Muhammad Nazaruddin, atau kita sebut saja Nazar. Dia disebut-sebut sebagai orang yang tahu banyak soal korupsi di lingkaran kekuasaan di Jakarta.

Dari pangkalan ojek sampai restoran mahal, nama Nazar dikenal. Dan sudah tentu orang-orang yang pernah disebutnya. Nama Nazar cepat menjadi terkenal. Nazar mahal. Butuh dana 4,3 miliar untuk memulangkan dia dari Kolombia pada Sabtu, 13 Agustus. Apakah biaya mahal itu semahal 'kicauannya' nanti? Entahlah. Sebab, Nazar pulang bawa "tas hitam". Dia pulang bawa misteri.

Satu yang jelas, banyak pihak yang berkepentingan dengan Nazar. Partai Demokrat, KPK dan terutama nama-nama yang pernah dia sebut. Namun, apa kepentingan rakyat dengan Nazar?

Sesungguhnya ini pertarungan elit. Coba saja jika Nazar bukan bendahara umum Partai Demokrat, partai berkuasa, dan partainya SBY. Atau jika dia tidak pernah menyebut beberapa nama top. Pasti saja namanya tak setenar ini. Nazar sebenarnya tidak mahal. Dia bukan politisi senior.

Nama Nazar menjadi tenar menyusul terungkapnya kasus suap Wisma Atlit. Sejumlah nama politisi beken disebut-sebut terkait dengan kasus ini.

Usia Nazar masih muda. Pada 26 Agustus 2011 ini usianya genap 33 tahun. Dia lahir di Bangun, Sumatera Utara.

Nazar sempat "berkicau" soal keterlibatan Partai Demokrat dengan proyek pembangunan pusat olahraga Hambalang di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Menurut Nazar, fee dari proyek sebesar Rp 1,2 triliun itu, diigunakan untuk dana politik dalam Kongres Partai Demokrat. "Kicauan" itu agaknya tidak merdu di telinga Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat. Anas marah besar. Dia merasa Nazar telah mencemarkan nama baiknya. Padahal, konon Anas dan Nazar sudah berteman sejak 2007.

Publik masih ingat betul, ketika dia menghilang mulai 23 Mei lalu. Hari itu adalah juga hari pencopotannya sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat. Keterangan dari para petinggi Partai Demokrat, bahwa Nazar ke Singapura untuk berobat, bukan lari. "Nazaruddin pulang setelah selesai menjalani pengobatan di Singapura," ujar Anas saat menggelar jumpa pers 6 Juni lalu.

SBY, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, pada 22 Juli lalu, mengatakan senang jika Nazar kembali ke Tanah Air. Waktu itu Nazar disebut-disebut masih di Singapura. Kata SBY, dia sangat berharap Nazar memberikan informasi selengkap-lengkapnya. "Kembalilah Nazaruddin ke Indonesia, ke Tanah Air, kembalilah," kata SBY.

Media memberitakan Nazar. Publik dibuat berharap akan terjadi pengungkapan kebenaran. Namun, jika semua kebusukan yang disimpan Nazar akan mengungkap sumber bau busuknya, apakah rakyat otomatis sejahtera? Apakah tidak akan terjadi lagi penggusuran? Apakah tidak akan terjadi lagi pelanggaran HAM di Papua? Apakah rakyat akan benar-benar merdeka? Hmmm, rasanya tidak. Seperti reformasi, yang dulunya ideal bagi rakyat, tapi ternyata tidak.

Kini, Nazar telah pulang. Dia ternyata tidak lagi di Singapura untuk berobat. Dia sudah terbang jauh ke Kolombia sampai ditangkap oleh polisi negara itu. Dia bawa tas hitam yang misterius. Apakah benar kepergiannya ke Singapura untuk berobat, benar-benar karena dia sakit bukan lari atau dilarikan? Jangan-jangan ini hanya sandiwara.

Muhammad Nazaruddin, bisa saja memang benar, bahwa dia menyimpan rahasia kebobrokan para elit penguasa negeri ini. Apakah, kepulangannya ini - yang mahal itu - akan melahirkan perubahan mendasar dalam sistem politik republik yang pada 17 Agustus ini akan berusia 66 tahun? Saya masih ragu. Sebab, ini adalah masalah pertarungan elit politik yang tidak memiliki korelasi dengan kehidupan rakyat yang susah. Sistem yang korup akan menghasilkan proses hukum yang korup pula. Nazar adalah juga komoditi politik para pembesar negara ini.

Di saat hampir selesai menulis catatan ini, pesan masuk di BBM saya. Teman Latief dari Makassar mengirim pesan begini, "Kita bersyukur karena nazar telah tertangkap..ini membuktikan bahwa kalau polisi serius, ke ujung dunia pun koruptor pasti tertangkap...tapi mengapa buron lain seperti nunung masih bebas berkeliaran? Apa karena tidak membahayakan sby,anas dan partainya?" Ehmm.

Jumat, 29 Juli 2011

Membaca Indonesia dari Nagari Djogja

|0 komentar
Oleh: Denni H.R. Pinontoan

Catatan ini bagian dari perjalanan saya di Yogyakarta dalam rangka mengikuti program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” yang bertajuk “The Role of Christian Higher Education in Interrelious Peacebulding”. Cerita perjalanan lainnya telah saya tulis dengan judul “Ziarah Damai di Nagari Djogja”.

KOTA Yogyakarta adalah Ibu Kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kota ini adalah salah satu kota besar di Pulau Jawa. Di kota inipula tempat kedudukan Sultan Yogyakarta dan Adipati Pakualam. Salah satu wilayahnya, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara 1575-1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Karaton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman, yang merupakan pecahan dari Mataram.

Cikal bakal Provinsi DIY adalah Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Pakualam. Sejak zaman VOC, daerah itu telah memiliki status sebagai “Kerajaan vasal/Negara bagian/Dependent state”. Belanda menyebut status ini sebagai Zelfbestuurende Lanschappen. Jepang menyebutnya Koti/Kooti. Di masa Indonesia, oleh Soekarno, sebagai presiden pertama RI, Yogyakarta ditetapkan sebagai daerah yang diistimewakan, bukan lagi sebagai sebuah negara berdiri sendiri.

Senin pagi, menuju ke kampus UKDW, kami menyusuri jalan Prof. H. Yohannes. Nama jalan ini diambil dari nama mantan rektor UGM, Prof. Ir. Herman Johannes. Dia mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta periode tahun 1961–1966.

Jalan Prof. H. Yohannes pagi itu ramai. Becak lalu-lalang menyusuri sisi kanan dan kiri jalan. Sepeda motor dan mobil beragam merk bergerak cepat, mengancam pejalan kaki dan becak di jalanan. Di perampatan lampu merah, arah ke Jl. Sudirman, berdiri Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit milik Gereja Kristen Jawa Tengah dan Gereja Kristen Jawa ini resmi berdiri pada 20 Mei 1899. Pendirinya Dr. J. Gerrit Scheurer. Awalnya rumah sakit ini bernama Petronella Zienkenhuis. Masyarakat setempat menyebutnya RS Toeloeng/Pitulungan. Nama ini muncul sesuai dengan semangatnya yaitu menolong atau melayani dengan tidak memandang latar belakang pasien.

Di era Jepang (1942-1945) namanya diganti dengan Yogyakarta Tjuo Bjoin. Setelah Indonesia, rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit pusat. Untuk mempertegas warna kekristenannya, pada tanggal 28 Juni 1950 namanya dirubah menjadi Rumah Sakit Bethesda.

Sekira 500 meter dari lampu merah itu berdiri megah gedung Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). ”Duta Wacana” berarti ”utusan firman”. Universitas ini berawal dari Fakultas Theologia yang dikembangkan dari Sekolah Guru Injil pada tahun 1906. Sekolah ini pertama-tama berkembang menjadi Akademi Theologia Yogyakarta (ATY). Ketika pendidikan Theologia Balewiyoto, Malang bergabung pada tahun 1962, ATY menjadi Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana (S.T.Th. Duta Wacana). Pada 31 Oktober 1985 S.T.Th. Duta Wacana dikembangkan menjadi universitas. Fakultas Theologia menjadi salah satu fakultas dalam Universitas Kristen Duta Wacana.

Gedung UKDW tiga lantai, yang memanjang dari utara ke selatan. Setiap kira-kira lima belas menit pesawat-pesawat milik Lion Air, Garuda, Air Asia, Batavia Air dan Sriwiyaja Air melintas di atasnya. Bunyi mesin pesawat menderu. Bandara Adisutjipto terletak kira-kira 3-4 km dari kampus ini.

Ke Yogyakarta, kalo blum ke Malioboro, orang bilang sama deng blum ke Djogja. Suatu malam saya dan beberapa teman ke sana. Seperti yang saya dengar, kawasan ini memang ramai. Di sepanjang jalan itu, andong, kendaraan tradisional Yogyakarta yang ditarik oleh kuda berbaris rapih menunggu penumpang. Emperen toko dipadati dengan pedagang kaki lima. Mereka menjual kaos oblong bermerek ”dagadu”. Motifnya bergambar orang memakai pakaian khas Jawa. Atau tulisan-tulisan dengan berbagai variasi tentang Djogja. Ada blankon. Ada sendal berwarna-warni. Kemeja batik. Daster batik. Di sisinya yang lain warung-warung berjejer menjual soto ayam, nasi uduk, pecel lele, sate ayam.

WAKTU menuju ke Malioboro, dari dalam taxi, saya melihat beberapa spanduk yang terpampang di sejumlah perempatan. Spanduk yang menarik perhatian saya itu bertuliskan ”Bergabung tak berarti Melebur.”

”Apa artinya itu, mas?” Saya bertanya kepada Mas Udin, kusir andong yang mengantar saya mengelilingi alun-alun keraton.

”Mas, itu khan waktu pemerintah mau rubah Jogja. Lha, wong orang-orang sini gak mau. Sultan itu junjugan kami,” balas mas Udin.

Mas Udin, waktu itu memakai blankon. Tampak sekali ke-djogja-annya. Bicaranya medok Jawa. Dia cerita tentang kedatangan Presiden SBY ke Yogyakarta waktu lalu. ”Wah, waktu SBY dateng, rakyat pada menyorakin dia. Huuuuuu...,” ujar Mas Udin.

Rakyat Yogyakarta bereaksi atas Rancangan Undang-undangan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat di senayan, mulai akhir tahun lalu. Intinya, gubernur dan wakil gubernur DIY akan melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat, bukan penetapan. Sontak hal tersebut memunculkan reaksi dari rakyat Yogyakarta.

Drs Sudomo Sunaryo, mantan Asekwilda I Provinsi DIY menulis di harian Kedaulatan Rakyat. Dia menjelaskan posisi Yogyakarta dalam NKRI. ”Pertama, sejarah hubungan Yogya dengan RI adalah penggabungan dua entitas politis, karena baik RI maupun Yogya sebenarnya merupakan negara-negara tersendiri,” tulis Sunaryo.

Sunaryo menulis, Nagari Yogya bersifat monarki. Ia terdiri dari dua kerajaan Jawa, yaitu Kasultanan dan Pakualaman, yang sebelum Indonesia merdeka telah melakukan reunifikasi. ”Jauh sebelum RI merdeka, Kasultanan dan Pakualaman Yogya telah mempunyai dasar hukum atau koninklijke besluit dari Ratu Negeri Belanda Wilhelmina sebagai daerah yang berdaulat sehingga secara internasional kedudukannya sama dengan sebuah negara merdeka!” tulisnya.

Bagi Sunaryo, penggabungan Yogyakarta ke republik Indonesia tidak sama dengan penaklukkan diri atau penyerahan kedaulatan. Bahkan, menurut dia saat itu Yogyakarta dimungkinkan untuk merdeka sendiri karena sudah memiliki syarat untuk menjadi sebuah negara yaitu, ada pemerintahan, wilayah, penduduk (rakyat), dan pengakuan internasional.

”Bahkan Belanda menawarkan Sultan HB IX menjadi super wali nagari atas Jawa dan Madura. Keputusan bergabung dilakukan oleh penguasa Nagari Yogya (Sultan HB IX dan Paku alam VIII) karena jiwa kenegarawanan dan visi keindonesiaan mereka,” tulis Sunaryo.

Maret 2011 terbit buku berjudul ” Monarki Yogya, Inkonstitusional?” Pengarannya adalah para kolumnis dan wartawan Kompas. M Abdurrahman, Pegiat Komunitas Rindu Alas IAIN Walisongo Semarang, Juli lalu, menulis resensi buku itu di news.okezone.com.

Menurut Abdurrahman, buku ini memberi tiga alasan mengapa RUU DIY banyak ditolak oleh masyarakat Yogyakarta. Ketiga argumentasi tersebut meliputi: sejarah Keraton Yogyakarta terhadap kemerdekaan RI, yuridis ketatanegaraan, dan kebudayaan. ”Pada saat Indonesia merdeka, posisi Keraton Yogyakarta masih sebagai kerajaan yang merdeka dan belum bergabung dengan NKRI,” tulisnya/

Secara yuridis ketatanegaraan, keistimewaan Yogyakarta telah diakui oleh Undang-Undang No 3 tahun 1950 tentang pembentukan kepala daerah dan predikat keistimewaannya. Salah unsur keistimewaan Yogyakarta adalah kebudayaan. Keraton Yogyakarta memiliki simbol kebudayaan Jawa yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan.

Kebudayaan unik yang terdapat di Keraton Yogyakarta diantaranya ada buku kuno, serat, babad, dan tembang yang masih tersimpan di sana. Di sana juga mengoleksi jenis tari-tarian, seperti tari bebaya, sirimpi, golek, dan maeso lawenga. ”Kekhasan pemerintah di Yogyakarta adalah kerajaan,” tulis Abdurrahman.

Sedangkan rakyat Yogyakarta yang berada dekat pusat kekuasaan RI di Jakarta bermasalah dengan dominasi pemerintah pusat, apalagi rakyat yang berada di daerah-daerah luar Jawa. Suatu pagi di sebuah pondok kecil Wisma MM UGM, saya bertemu dengan Aan dan Joni Asmosyah, pegawai negeri sipil di kantor Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mereka datang ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah kegiatan yang membahas wilayah-wilayah perbatasan.

”Orang-orang di Kaltim kalau menjual pisang ke Malaysia harganya bisa capai Rp. 15.000 tapi di Kaltim sendiri mungkin harganya hanya Rp. 5.000,” ujar Aan.

Dua orang abdi negara ini berharap pemerintah pusat memberi perhatian pada daerah. Menurut Joni, mungkin karena wilayah Pemerintahan Indonesia terlalu luas maka perhatian ke daerah dari pemerintah pusat tidak terlalu baik. ”Daerah susah berkembang karena semua diatur oleh pemerintah pusat.”

Ketika hendak ke beberapa tempat religi di Yogyakarta dan sekitarnya, saya menulis di status akun Facebook, ” Hari ini ke Ponpes Pabelan, vihara Mendut dan gereja katolik Ganjuran. Belajar sambilan pesiar.. Sbantar malam acara ’Malioboro Nigth’...dapa rasa sekali katu depe Jogja...he..he..”

Ini kali pertama saya ke Kota Djogja. Jadi, dapa rasa sekali depe ke-jogja-an. Begitu orang Minahasa dalam bahasa Melayu Manado ketika menyebut sesuatu yang dirasa khas. Apa lagi ketika di Malioboro, berkeliling di alun-alun keraton, mendengar orang berbicara dalam bahasa Jawa dengan dialek yang medok, melihat para laki-lakinya yang memakai blankon di kepalanya, para perempuannya yang berkebaya batik, naik andong, termasuk ketika melihat spanduk-spanduk bertuliskan, ” Bergabung Tak Berarti Melebur” itu.

”Kalu datang di tomohon, apa dorg dapa rasa sama deng Denni rasa di Yogya? hehehe...” Augustien Kaunang, dekan Fakultas Teologi UKI Tomohon berkomentar membalas status facebook-ku.

Saya balas komentar tersebut,”So musti usul Daerah Istimewa Tomohon supaya depe rasa Tomohon memang muncul. He..he...di sini depe tata kota bagus ada cita rasa kultur jogja. Tomohon pe ’ketombuluan’ musti hidupkan, bukan bangun mall atau tanam merry gold...he..he...”

Saya membandingkan Djogja dengan Kota Tomohon, tempat saya tinggal, sebuah kota kecil di kaki gunung Lokon yang beberapa hari meletus itu. Kultur Jawa yang masih kuat, mungkin antara lain sehingga rakyat Djogja sadar betul keistimewaan Yogyakarta.

”Coba trg lia Toraja jadi tujuan wisata karna dapa rasa tu toraja kalu pi sana. Yogya, Toraja, Bali sama dapa rasa di sana,” Kaunang kembali berkomentar.

”Berharap dr pemerintah untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Minahasa untuk menjadi objek wisata, agak sulit. Daerah2 itu, pemerintahnya sadar betul soal potensi budaya untuk pariwisata,” demikian komentar balasan saya.

Yogyakarta adalah kota pariwisata. Banyak objek wisata budaya di sana. Saya bersama-sama peserta program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” sempat berkunjung ke Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran, Bantul. Bantul adalah salah satu kabupaten yang masuk wilayah pemerintahan Provinsi DIY.

Di samping gedung gereja Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran ada sebuah candi kristiani. Namanya Candi Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran. Candi ini menjadi tempat ziarah dari warga yang datang dari beragam agama. Mereka ke candi ini untuk sembayang dan memohon berkat. Candinya khas candi Hindu-Jawa. Tapi di dalam candi ada pahatan Yesus yang memakai baju khas bangsawan Jawa.

”Berka dalem,” ujar Fransiskus Xaverius Sujud wakil ketua II Paroki Gunjaran menyambut kami.

Para hadirin diminta menjawab dengan ”berkah dalem”.

”Berka dalem,” kami serempak membalas.

Mungkin arti salam itu seperti tabea yang sering orang Minahasa ucap. Atau juga seperti ”syalom” bagi orang Yahudi. ”Wassalam” bagi orang Arab. Mendengar salam itu ke-jawa-annya langsung terasa.

Gedung gereja dibuat terbuka dengan beberapa tiang yang berdiri kokoh. Dominan berwarna hijau, yang melambangkan kesuburan. Langit-langitnya dihiasi dengan relief bermotif tumpang sari, sejenis tumbuhan yang merambat. Relief ini melambangkan prinsip saling mengikat dan berkasih-kasihan. Di depan atas altar ada burung pelikan yang menjaga anak-anaknya. Ini, menyimbolkan seorang ibu yang setia menjaga anak-anaknya. Atap gedung gereja ini lazimnya rumah Joglo Jawa.

Ketika berada di gedung gereja ini terasa sekali Jawanya. Pada altar utama ada mimbar, meja untuk pastor, dan tabernakel dengan dengan pahatan Yesus tersalib. Di bagian kanan dan kirinya ada dua malaikat memakai mahkota pembesar kerajaan Jawa duduk bersimpuh. Ada juga sebuah payung kebesaran kerajaan di bagian kirinya. Ia dilengkapi sebuah lentera bergaya keraton Jawa.

Pada dinding gereja terpajang lukisan batik tulis yang menceritakan kisah kesengsaraan Yesus. Pada sisi kanan altar utama, duduk arca Yesus mengenakan pakaian kebesaran Raja Jawa. Di sisi lainnya, ada patung Yesus kecil dalam pelukan Maria. Si ibu Yesus itu memakai pakaian adat Jawa.

”Semua ini adalah simbol-simbol khas Jawa, yang dipakai sebagai media untuk inkulturasi teologi. Kami berusaha menjadikan gereja kami sebagai gereja Kristen Jawa,” tambah Sujud.

Waktu gempa bumi tahun 2006, gedung gereja Hati Kudus Yesus Tuhan yang lama roboh. Waktu itu sedang acara misa pagi. Ada kira-kira enam orang umat yang meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan gereja yang roboh akibat gempa. Gedung gereja yang waktu itu sudah berusia 62 tahun pun ikut roboh. Gedung gereja yang sekarang mulai dibangun 22 Juni 2008.

Gedung gereja tua yang roboh itu dibangun tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara asal Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Smutzer bersaudara adalah pengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro sejak tahun 1912. Mereka menganut agama Katolik. Dalam mengelolah pabrik gula itu mereka menerapkan ajaran sosial gereja yang disebut rerum novarum. Ajaran ini dimulai Paus Leo XIII pada tahun 1891 yang mengatur prinsip hubungan majikan dan buruh sebagai mitra kerja, bukan atasan dan bawahan.

”Dalam menerapkan ajaran itu, Smutzer bersaudara menetapkan kebijakan, bahwa selain mendapat upah, buruh juga mendapatkan pembagian keuntungan yang adil,” ujar Sujud.

Perancang bangunan gereja ini adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda bernama J. Yh van Oyen. Pemberkatan gereja dilakukan oleh Vicaris Apostolik Batavia Mgr. JM van Velsen pada 20 Agustus 1924. Tiga tahun kemudian yakni pada 1927, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan sebuah candi yang dinamai Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Tahun 1948, pabrik gula dibumihanguskan menyusul terjadinya Agresi Militer Belanda ke II, namun Gereja Ganjuran, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, sekolah-sekolah, dan rumah sakit dibiarkan tetap berdiri.

Orang-orang yang datang dari latar belakang agama yang berbeda banyak yang datang berziarah ke Candi Hati Kudus Yesus Tuhan. Orang beragama Islam, Budha, Hindu yang datang dari berbagai wilayah di Jawa datang berziarah ke candi.

”Dalam bahasa Jawa, kata ’ziarah’ diambil dari kata ’siji’ yang berarti ’satu’ dan ’arah’ berarti ’tujuan’”. Jadi, ’ziarah’ berarti ’satu tujuan’,” ujar Sujud.

”Satu tujuan, yaitu hidup damai.”

Hidup damai, adalah harapan semua. Tapi, melebur dalam satu kesatuan politis yang terpusat, agaknya tidak. Rakyat Nagari Djogja menolak dominasi itu dengan berteriak, ”Bergabung tak berarti Melebur!”

Senin, 25 Juli 2011

Ziarah Damai di Nagari Djogja

|0 komentar
(Catatan Perjalanan Seminggu di Djogja)

Oleh: Denni H.R. Pinontoan

Terminal Bandar udara Adisutjipto, Yogyakarta, sore itu agak lengang. Pesawat Boeing 737 milik maskapai Lion Air baru saja mendarat dengan mulus. Saya salah satu dari ratusan penumpang pesawat itu. Keluar dari pesawat penumpang melewati sebuah ruangan untuk mengambil bagasinya. Di bagian kiri ruangan itu seorang perempuan muda menggunakan kebaya batik berwarna coklat dengan motif daun serasi dengan blus putih yang dipakainya. Dia sedang tekun membantik.

Perempuan muda itu duduk di dingklik. Dengan lincah dia memainkan canting di kain mori putih yang terbentang di gawangan. Uap mengepul dari sebuah wajan. Kompor yang digunakan tak lagi anglo yang terbuat dari tanah liat, melainkan kompor listrik. Di pahanya ada taplak putih. Tekun sekali dia membatik. Para penumpang yang baru turun dari pesawat, sebelum mengambil bagasi, banyak yang menyempatkan diri untuk memperhatikan si perempuan muda yang sedang membatik itu. Saya, salah satu yang ikut memperhatikan dia. Terasa sekali ”ke-jogja-an” kala itu.

Minggu 17 Juli 2011, saya berkesempatan ke Yogyakarta untuk mengikuti program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” yang bertajuk “The Role of Christian Higher Education in Interrelious Peacebulding”. Program ini dilaksanakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta bekerjasama dengan Board United.

Kegiatan ini berlangsung dari Senin 18 sampai Jumat 22 Juli 2011 dan dipusatkan di kampus UKDW. Pesertanya datang dari puluhan perguruan tinggi Kristen senusantara. Selama hampir seminggu kami menginap di Wisma MM UGM. Kegiatan ini membahas pentingnya keterlibatan perguruan tinggi Kristen dalam membangun budaya damai.

”Pendidikan agama kita menerapkan model apartheid,” kata Pdt. Tabita Kartika Christiani, P.hD, ahli pendidikan Kristen dari UKDW. ”Ternyata apartheid itu tidak hanya di Afrika, tapi juga di sini.”

Pdt. Tabita mengatakan itu terkait dengan kritiknya terhadap fenomena pembelajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah. ”Pelajaran agama memisahkan para murid di sekolah. Misalnya, mata pelajaran agama Islam, yang ada di kelas tentu hanyalah para murid beragama Islam. Sebaliknya, mata pelajaran agama Kristen, hanya murid beragama Kristenlah yang mengikutinya,” katanya.

Hadir di ruangan seminar Pdt. Harun Hadiwijono UKDW itu adalah dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi Kristen senusantara. Pdt. Tabita bicara di hadapan mereka mengenai pentingnya pendidikan agama yang berwawasan perdamaian di sekolah-sekolah.

Pendidikan berwawasan peace building, dirasa semakin penting untuk menjadi semangat bagi paradigma, sistem dan kurikulum di perguruan tinggi-perguruan tinggi. Konflik antar agama dan etnis yang terjadi, setidaknya pasca reformasi, akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000 sampai kini adalah alasan penting untuk menjadi perhatian terkait dengan semangat peace building itu.

Menurut Pdt. Dr. Judowibowo Poerwowidagdo, di Indonesia yang berkonflik itu sebenarnya bukan agama, melainkan antar umat beragama. Konflik-konflik di Indonesia, menurut rektor UKDW pertama ini, antara lain disebabkan oleh pembagian kekuasaan yang tidak adil dan dalam konteks keagamaan penyebabnya adalah perbedaan nilai dan ideologi. ”Bukan agama sebenarnya yang berkonflik. Sebab, pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian.”

Selain berdiskusi di kelas, kami juga mengunjungi beberapa tempat religi di sekitar Kota Djogja. Yaitu Ponpes Pabelan di Muntilan dan Vihara Mendut di Desa Mendut, Magelang, Jawa Tengah. Saya juga berkesempatan jalan-jalan ke Malioboro, sebuah nama jalan yang tersohor itu.

Menuju ke Ponpes Pabelan, kami melewati sebuah dusun di kec. Muntilan, Kab. Magelang, Jateng. Di dusun itu tampak sisa-sisa terjangan lahar dingin letusan Merapi. Ada beberapa bangunan roboh. Batu-batu besar terserak. Pasir vulkanik Merapi masih kentara, seperti letusannya baru beberapa minggu lalu.

Waktu merapi meletus November 2010 lalu Muntilan kena imbasnya. Hujan abu vulkanik Merapi membuat wilayah Muntilan hampir lumpuh. Jalan raya Muntilan berjarak kira-kira 20 kilometer dari puncak Merapi. Waktu Merapi meletus, listrik mati total. Muntilan mencekam kala itu. ”Abu ini adalah hadiah dari Merapi,” ujar pimpinan Ponpes Pabela, KH. Nadjib berseloroh.

Hari sudah siang ketika kami tiba di Ponpes Pabelan. Suasananya agak lenggang. Para santrinya sibuk belajar di kelas. Ketika bus yang kami tumpangi berhenti, mata saya lansung tertuju pada sebuah kalimat yang ditulis di papan berwarna kuning. Papan itu menempel dinding salah satu gedung di ponpes itu. ”Janganlah Berdoa agar hidup ini menjadi ringan. Tapi, berdoalah kau jadi orang yang tahan banting.” Demikian bunyi kalimat itu. Di samping kalimat yang ditulis berwarna hitam itu ada gambar seorang duduk bersila, seperti menatap matahari yang akan tenggelam dari atas bukit.

Ada juga kalimat yang menarik perhatian kami. Kalimat itu hanya ditulis di sebuah kertas yang ditempel menggunakan lakban. Sekilas kertas itu seolah tidak bermakna. Tapi kalimat itu sebenarnya menarik. ”Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka.” Memang, ponpes ini disebut-sebut terbuka.

Ponpes ini sebetulnya berbentuk balai pendidikan. Ia berada di bawah naungan Yayasan Wakaf Pondok Pabelan. Resmi sebagai Balai Pendidikan Ponpes sejak 28 Agustus 1965. Pendirinya K.H. Hamam Dja'far. Sekarang jumlah santrinya sekitar 600-an. Seimbang laki-laki dan perempuan.

K.H. Hamam Dja’far lahir di Desa Pabelan 26 Februari 1938. Ia adalah anak sulung dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah. Hamam besar di bawah pengasuhan adik kakek pihak ibu, yaitu K.H. Kholil yang tinggal di sebelah selatan masjid pondok. Dalam keluarga Hamam mengalir darah ulama yang diturunkan oleh Kiai Haji Muhammad Ali bin Kiai Kertotaruno, pendiri Pondok Pabelan (sekitar tahun 1800-an). Kertotauno adalah salah satu ulama pengikut setia Pangeran Diponegoro. Menurut masyarakat setempat, Kiai Kertotaruno adalah keturunana Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Hamam pernah mondok di Ponpes Gontor. Dia tamat dari sana ketika berusia 25 tahun. Setamat di Gontor Hamam kembali ke kampung halamannya dan kemudian mendirikan Balai Pendidikan Pondok Pabelan pada 28 Agustus 1965. Dia penerima Aga Khan Award pada tahun 1980 untuk arsitektur dan Kalpataru untuk lingkungan hidup pada tahun 1982.

Ponpes ini lahir dari semangat Kiai Raden Muhammad Ali. Pada tahun 1800 ia memulai kegiatan mengaji di Pabelan. Tapi di tahun 1825-1830 terjadi Perang Jawa. Banyak ulama yang terlibat dalam perang itu. Sekitar 70 tahun kegiatan mengaji ini menghilang. Nanti pada tahun 1900-an Kiai Anwar dan Kyai Anshor melanjutkan kegiatan itu dalam bentuk pondok pesantren tradisional. Karena mungkin perang yang terus berkecamuk, ponpes ini mengalami kevakuman. Ia aktif lagi pada tahun 1965, oleh Hamam Dja'far. Kali ini tampilan dan isinya disesuaikan dengan kurikulum modern. Nama “Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan” berawal dari sini.

Nama “Pabelan” sendiri diambil dari nama desa di mana ponpes ini berdiri. ’Pabelan’ berarti ’membela’. ”Pabelan atau membela karena di sini dulu banyak warga dan ulama yang membela Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa,” ujar Dr. H. Mahfudz Masduki, wakil ketua pengurus Yayasan Wakaf Pondok Pesantren Pabelan.

Konon, di Pabelan, Kyai Modjo, ulama dan pejuang Perang Jawa yang dibuang ke Tondano, Minahasa pernah tinggal di sebuah kebun, mungkin bersembunyi dari Belanda waktu perang. ”Orang Pabelan menyebut tempat itu ’kebon Modjo’,” kata Masduki.

Di Ponpes ini berdiri sebuah mesjid tua yang dibangun tahun 1820. Mesjid ini masih kokoh. Tapi dia tidak bisa lagi menampung banyak umat untuk sembayang. Atap gentengnya bertingkat dua. Arsiteturnya khas rumah adat Jawa, Joglo. ”Sekarang sudah ditambah gedung baru karena mesjid tua tak lagi bisa menampung jemaah,” kata Masduki.

Ponpes ini, menurut cerita Kiai Najib sering didatangi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang agama. Baik mereka sebagai tokoh masyarakat, intelektual, maupun mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang Islam. Romo Mangun, semasa dia hidup sering ke datang ke sini. Pdt. Djaka Soetapa, intelektual yang mengkaji Islam dari UKDW juga sering ke ponpes ini. Di ponpes ini juga pernah tinggal pengajar bahasa Inggris dari luar negeri selama tiga tahun. ”Dia itu beragama Kristen. Tapi, tiga tahun tinggal di sini tidak mengubah agamanya. Dia tetap sebagai orang Kristen,” ujar Kiai Nadjib.

Kiai Nadjib bercerita. Pernah suatu waktu, ada orang yang datang mencari ayahnya di ponpes itu. Bertepatan Romo Mangun sedang ada di ponpes itu. Dia memakai peci dan sarung. ”Si orang yang mencari ayah saya mengira Romo Mangun adalah kiai yang dicarinya karena penampilannya seperti kiai betulan,” jelas Kiai Nadjib sambil tertawa.

Kurikulum Ponpes Pabelan mengikuti kurikulum Ponpes Gontor dan disesuaikan dengan kurikulum nasional. Para alumninya kini banyak yang menjadi intelektual, aktivis dan wiraswasta yang sukses. ”Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, yang sekarang sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta adalah alumni Ponpes ini. Ada juga yang menjadi aktivis perempuan.”

Saya sempat mewawancarai salah satu santri pria. Namanya Irfan Zidni. Zidni berasal dari Pekalongan. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya yang perempuan sudah menikah, yang laki-laki bekerja. Zidni aktif di Organisasi Pondok Pelajar Pria (OPPP) urusan penerimaan tamu.

”Mengapa mondok di Ponpes ini”?

”Cari ilmu. Khan kita mencari ilmu tidak hanya di daerah sendiri”

”Kamu betah tinggal di sini?”

”Iya. Kayak rumah sendiri."

Menurut Zidni, waktu Merapi meletus semua santri dipulangkan. Ponpes mereka waktu itu dijadikan tempat untuk menampung pengungsi. ”Waktu itu kami harus dipulangkan. Sebab, listrik mati. Makan aja susah karena hujan debu,” Zidni mengenang kejadian beberapa bulan lalu.

Relasi antara santri laki-laki dan perempuan, seperti Ponpes pada umumnya sangat terbatas. Santri laki-laki dan perempuan dipisahkan. Ada banyak aturan yang tidak membolehkan para santri yang berbeda jenis kelamin ini berhubungan. Zidni sendiri punya sepupu perempuan yang mondok di ponpes itu. Tapi mereka nanti bisa bertemu kalau orang tua Zidni menitipkan uang. ”Ketemu dengan santri perempuan kalau ada perlunya.”

Saya memberanikan diri bertanya soal tatacara berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Zidni sesuai yang dia dapat dari pelajaran agama oleh para ustad, memang antara laki-laki dan perempuan tidak sembarangan dalam berhubungan. Pun itu hanya berjabatan tangan. ”Ya tidak boleh, karena bukan muhrim.”

Zidni bercerita, waktu SD di Pekalongan, sebelum masuk ke ponpes ini, dia punya teman beragama Kristen. Namanya, Teguh. Tapi begitu dia ke pindah belajar di ponpes Pabelan, temannya yang kristen itu juga ikut orang tuanya pindah kerja di luar Pekalongan. Teguh, kata Zidni adalah teman baiknya. Mereka akrab tapi tidak pernah bercerita mengenai agama masing-masing. ”Saya tidak pernah ketemu lagi dengan dia sejak saya masuk ke ponpes ini. Rindu sebenarnya,” kata Zidni.

Di sebelah barat Pebelan, sekira 4 km jaraknya ada Vihara Mendut. Vihara ini berdiri di dekat Candi Mendut. Ia terletak di desa Mendut, Kec. Mungkid, Kab. Magelang, Jateng. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an. Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara.

Samping kiri bagian muka Vihara itu ada patung Buddha sedang tidur. Stupa candi diatur di samping kiri dan kanan jalan menuju ke bagian dalam Vihara. Bunga teratai ungu yang tengahnya kekuning-kuningan sedang mekar di kolam kecil bagian depan ketika masuk di vihara itu. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang. ”Patung Budha sedang tidur di depan itu asalnya dari Burma yang terbuat dari marmer,” ujar Bhikkhu Jotidhammo yang juga ketua Sangha Theravāda Indonesia.

Vihara ini berdiri karena banyak umat Buddha yang datang berkunjung ke candi Mendut untuk sembayang. Warga desa Mendut sendiri mayoritas beragama Islam. Sisanya beragama Katolik dan Kristen. Selain vihara, di desa ini berdiri masjid dan gereja. ”Hubungan antar umat budhha dengan umat beragama lain di sini baik. Tuh, para tukang kebun di vihara ini adalah orang-orang dari desa sini yang beragama Islam,” kata Bhikkhu Jotidhammo.

Inti ajaran agama Buddha, menurut Bhikkhu Jotidhammo adalah bagaimana mengantar manusia manuju ke pencerahan. Meditasi antara lain adalah cara mengendalikan nafsu untuk mencapai pencerahan. ”Tapi tidak semua meditasi itu buddhis lho. Kalau kita ke toko-toko buku, banyak buku yang bicara meditasi. Tidak semua meditasi itu buddhis.”

Simple life, menurut Bhikkhu Jotidhammo adalah prinsip hidup yang sering diajarkan kepada umat buddha. Intinya adalah pengendalian diri. Umat buddha diajarkan bagaimana mengendalikan nafsu yang ada di pikiran. ”Nafsu itu ada di pikiran. Jangan sampai blank dari kesadaran,”

Candi Mendut yang berdiri di depan vihara ini adalah sebuah candi Buddhis. Menurut sejarah, candi ini didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Seorang ahli arkeologi asal Belanda, J.G. de Casparis mengkaitkan cerita itu dengan Candi Mendut.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī dan Āţawaka. Konon, dua bidadari itu adalah yaksi yang bertobat dan mengikuti Buddha. Di dalam induk candi terdapat tiga arca Buddha besar masing-masing Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda yang diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi). Di sebelahnya arca Wajrapāņi.

Hari terakhir di Kota Djogja, saya sempat mampir di kantor Dian/Interfidei. Sebuah NGO yang sejak tahun 1991 konsern pada persoalan agama-agama. Sore itu, Dian/Interfidei kedatangan tamu. Mbak Nina Mariani mahasiswa program doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRCS), UGM, mengantar enam mahasiswa asing untuk berdialog dengan Dian/Interfidei. Keenam mahasiswa asing tersebut, masing-masing Kellyann Conners, dari USA kuliah di Union Theological Seminary New York; Zeyneb Temnenko, dari Ukraine kuliah di Temple University,Philadelphia; Daeseop Yi, warga negara Korea kini kuliah di Graduate Theological Union, Berkeley; Jillian Schedneck, dari USA kuliah di Adelaide University, Australia; Kyeong Il dari Korea, kuliahnya Union Theological Seminary, New York; dan Michael Bender, dari USA, kuliah di Florida International University, Florida.

Bersama Elga Sarapung dan Indro Suprobo dari Dian/Interfidei, para mahasiswa tersebut banyak bertanya mengenai situasi keagamaan di Indonesia. Diskusi sempat menyinggung relasi agama dan kekuasaan. Elga Sarapung, sebagai direktur Dian/Interfidei dengan fasih menjelaskan mengenai kondisi keberagaman agama di Indonesia beserta masalah-masalahnya dalam relasi dengan kekuasaan. Elga Sarapung juga menyinggung soal merebaknya gerakan fundamentalisme agama-agama, baik di Islam maupun di Kristen.

Elga Sarapung mengambil contoh kasus yang dialami Ardha, seorang pemuda yang tinggal di Surakarta. Pada Kamis, 15 Juni 2011, Ardha memakai kaos produksi Dian/Interfidei bertuliskan ”Tuhan Agamamu Apa?”. Gara-gara memakai kaos itu dia harus berurusan dengan Front Pembela Islam (FPI) dan pihak kepolisian. ”Kafir...kafir!” begitu FPI meneriakan Ardha.

”Anehnya, pihak kepolisian justru meminta Ardha untuk meminta maaf kepada FPI dengan alasan yang tidak jelas. Apa salahnya sih, orang bertanya kepada Tuhan?”

Ardha pun wajib lapor setiap hari di kantor polisi setempat.

Hukum di Indonesia, aneh, ya...

Selasa, 12 Juli 2011

Cerita Dua Minggu di Jakarta

|0 komentar

Tiga jam di atas udara dari Manado ke Jakarta, terasa cukup lama. Pesawat Boeing 737 milik maskapai Lion Air akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Soekarno-Hatta. Hari itu, Senin (4/7). Para penumpang, termasuk saya, segera keluar melalui pintu pesawat melewati lorong belalai menuju ke terminal A1.

Saya tak berlama-lama di terminal. Sudah agak terlambat. Kursus Jurnalisme Sastrawi di Pantau sudah dimulai jam 10.00. Sementara jam di hp saya sudah pukul 12.00.

Saya segera mencari taxi menuju ke kantor Pantau. Di seberang, ada seorang sopir dengan mobil taxinya menunggu penumpang. Menyebrang dan mendekati si sopir itu. ”Bisa antar saya ke kebayoran lama, Pak,” kata saya.

”Boleh.” Laki-laki itu tampak senang, ada penumpang.

”Berapa ongkosnya?” tanya saya.

”Dua ratus ribu, Pak.”

”Wah, kemahalan. Seratus lima puluh aja, mas.”

”Emmm... Boleh.”

Kami berdua sepakat. Koper saya diambilnya, lalu ditaruh di bagasi. Saya pun masuk ke dalam mobil. Duduk di kursi depan. Si Sopirnya pun sudah siap di depan setir. Atur porsneling dan menancapkan gas. Kamipun meluncur keluar bandara. Di dalam mobil saya menyebutkan alamat lengkap kantor Pantau.

Dia, Mas Kharim. Seorang sopir taxi.

“Jakarta ini mas, tiada hari tanpa macet,” katanya sambil terus menyetir mobil taxinya saat melewati Tol masuk-keluar bandara.

Jalanan Jakarta macet. Seperti biasanya. Untung Mas Kharim orangnya suka ngobrol. Aku menikmati kemacetan itu dengan cerita-cerita Mas Kharim. Saat itu, dan seperti biasanya, langit Jakarta berkabut. Bukan kabut karena mau turun hujan. Tapi polusi. Kalau di Manado, kemarin, kabutnya karena debu akibat letusan gunung Soputan. Gara-gara itu, keberangkatan saya dari sana ditunda satu hari.

”Menjadi sopir taxi di Jakarta harus lincah. Kalau tidak, sulit dapat penumpang,” kata Mas Kharim sambil kakinya menginjak pedal rem. Jalanan macet lagi.

Tubuh Mas Kharim agak gemuk. Berkumis. Dia memakai kemeja putih kekuning-kekuningan, kusam, Celananya berwarna abu-abu. Itu seragam perusahaan taxinya. Mobil taxinya kelihatan sudah tua. Beberapa bagian jok mobilnya tampak robek. Saya sempat ragu.

”Mas Kharim asalnya dari mana,” tanya saya setelah mungkin 15 menit perjalanan kami dari bandara.

”Saya dari Pekalongan, Pak.”

”Kalau saya dari Minahasa. Di daerah saya banyak orang Jawa berjualan bakso atau ayam lalapan,” balasku.

Mas Kharim bekerja sebagai sopir taxi di Jakarta sudah empat tahun. Sebelumnya dia sopir truck antar daerah. Dia sering melewati Pelabuhan Penyeberangan Jawa-Sumatera di Merak. Anaknya tiga orang. Yang bungsu berumur empat tahun, yang kedua 6 tahun. Yang tua SMP.

”Saya kerja untuk mencari nafkah buat keluarga. Itu ibadah saya,” ujarnya. Mobil taxi Mas Kharim terus berjalan dengan susah payah menantang kemacetan.

Istri dan anak-anaknya di kampung. Sebulan sekali dia mengirim uang untuk keluarganya. Dia bertekad agar anak-anaknya bisa selesai sekolah.

”Anak-anak saya harus sekolah. Kalau tidak, nanti sulit mereka bisa hidup,” kata Mas Kharim.

Adik Mas Kharim, seorang laki-laki, kini menjadi guru di Kalimantan. Adiknya itu, dulu guru honorer di kampung. Dia seorang Sarjana Pendidikan. Tapi, berapa tahun mengabdi sebagai guru honorer, adiknya itu tak kunjung diangkat menjadi PNS. Makanya, dia memutuskan untuk ke kalimantan setelah mendapat informasi dari temannya di sana.

”Adik saya contohnya. Kalau dia tidak sekolah, ya mungkin dia ikut jejak ayah kami, petani,” kata Mas Kharim.

”Mas, NU atau Muhammadiyah?” tanyaku.

”Ehmmm, saya Islam. Dulu aktif di NU, tapi juga pernah masuk Muhammadiyah,” ujarnya.

Ayah Mas Kharim di Pekalongan, Jawa Tengah, sekitar tahun 1960-an, pernah aktif di Banser Nadlahtul Ulama (NU). Mas Kharim sendiri, waktu di Madrasah Tsawaniyah pernah aktif di organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Tapi, setelah menikah dan menjadi sopir, dia tidak aktif lagi.

”Saya muslim yang tidak fanatik, Pak,” ujarnya.

Menurut Mas Kharim, menjadi muslim itu adalah menjadi orang yang jujur, rajin bekerja dan bertanggungjawab pada keluarga. Itu saja. Sederhana sekali. Dia tidak suka dengan beberapa organisasi Islam yang terlalu fanatik.

”Tapi saya rajin sholat, Pak,” kata dia.

Mas Kharim orangnya memang suka bercerita. Dia juga angkat cerita soal Aa Gym yang menceraikan salah satu istrinya. Dia bilang, ternyata pengetahuan agama yang banyak tidak juga menjamin seseorang berakhlak baik. ”Mending seperti saya, meski begini, tapi setia kepada istri,” ujarnya bangga.

Perjalanan sudah hampir satu jam. Mas Kharim banyak bercerita daripada saya. Tak terasa kami hampir sampai di kantor Pantau. Mas Kharim berhasil lolos dari kemacetan. Sekarang melewati pompa bensin Cidodol. Sesekali dia melihat keluar, mencari tower di atas gedung bertingkat empat. Tower di atas gedung bertingkat, kata Mas Imam Sohfwan dari Pantau melelui telepon, adalah penunjuk untuk mencari kantor Pantau.

Kini, saya sudah di kantor Pantau. Berkat Mas Kharim, si sopir taxi yang ”bener-bener Islam” itu, saya bisa sampai di markasnya para pejuang demokrasi dengan jurnalisme, Pantau. Saya bayar ongkos taxinya. ”Alhamdullilah...Makasih, Pak. Sampai ketemu lagi,” ujar mas Kharim.

Mobil taxi tua yang dikendarai Mas Kharim pun segera berlalu. Hari hampir sore.

***

Halaman gedung itu tidak terlalu luas. Hanya cukup untuk memarkir beberapa mobil. Di bagian paling atas ada tower pemancar. Itu sering menjadi penanda bagi orang yang baru pertama kali ke situ. Lantai dasarnya ada toko yang menjual onderdil. Di sebelahnya ada percetakan.

Sore itu tidak terlalu ramai orang di halaman atau bagian ruangan lantai pertamanya. Hanya tampak beberapa orang sibuk mengerjakan pekerjaanya. Seorang yang masih memakai helm turun dari sepeda motor. Dia masuk ke pintu salah satu bagian gedung itu. Letaknya di sudut gedung. Dari pintu itu naik tangga, di lantai empat ada sebuah ruangan. Di dalamnya, ada seorang perempuan Amerika, berambut pirang dan berkulit terang bersama sekitar 15 laki-laki.

Ruangan itu biasanya dijadikan tempat diskusi. Kalau ada kursus, baru berfungsi sebagai kelas. Tapi, ini bukan kelas di sekolahan. Tak ada meja untuk menulis. Yang ada hanya semacam papan tulis berukuran 0,5 x 1 meter. Kursinya tidak diatur satu arah tetapi berbentuk setengah lingkaran. Muridnya juga tidak biasa. Tidak pakai seragam. Bisa pakai kaos oblong dengan celana jeans. Duduk sambil berpangku kaki santai juga tidak dilarang. Asalkan serius.

Besar ruangan kelas ini kira-kira 6 x 5 meter. Permukaan salah satu sisi dindingnya yang berwarna krem sengaja dibuat tidak rata. Seperti mentega yang melapisi kue tart. Ada gambar becak dengan tulisan ”Pantau” dalam bingkai menempel di dinding itu. AC-nya juga berwarna krem tua pas di bagian tengah atas dinding itu. Langit-langitnya dicat warna biru. Dinding di sebelahnya seperti kayu yang dicat warna coklat. Tapi sesungguhnya itu bukan kayu. Semacam plastik yang dibuat menyerupai kayu dengan urat-uratnya. Ia tidak kokoh. Dinding ini menjadi pemisah dengan ruang lain. Dua sisi dinding yang lain dihiasi tirai yang bergantungan.

Di dalam ruang kelas tadi, perempuan berambut pirang itu sedang berbicara dengan penuh semangat. Dia bisa berbicara bahasa Indonesia tapi sesekali bercampur dengan kata-kata Inggris. Dia, Janet Steele, seorang perempuan, profesor dari George Washington University, spesialis sejarah media. Juga mengajar narrative journalism. Kali ini dia memakai rok panjang berwarna coklat muda serasi dengan blusnya berwarna coklat tua.

Sesekali bicaranya ditanggapi orang-orang yang duduk setengah melingkar itu. Mereka bicara tentang sejarah dan unsur-unsur jurnalisme sastrawi atau Janet lebih suka menyebutnya narrative journalism. Santai tapi serius orang-orang di ruangan itu. Saya, kemudian menjadi bagian dari orang-orang itu.

***

Mobil dan sepeda motor lalu lalang dijalanan. Saling mendahului dan mengadu kecepatan. Di depan kantor Pantau, di seberangnya ada warung-warung makan berjejer. Biasanya warung-warung itu nanti dibuka sore sampai malam. Saya menyeberang dengan susah payah menuju salah satu warung. Sebuah kain putih bertuliskan: ”Ayam goreng/bakar. Bebek goreng/bakar” ditaruh di depanya sebagai petunjuk bahwa warung itu menyediakan menu yang disebut. Kain itu juga berfungsi menutupi salah salah sisi warung. Warna tulisannya merah menyolok. Di sampingnya ada gambar bebek dan ayam.

Seorang lelaki muda berdiri di sudut warung. Ia berjongkok sambil memukul-mukul sebuah batu untuk menancapkan sejenis paku ke tanah. Di paku itu terikat tali yang dihubungkan dengan satu sudut kain. Di dalam warung, di belakang gerobak yang di atasnya ada lemari kaca kecil, seorang lelaki yang lebih tua sementara mengatur tahu dan tempe di dalamnya. Paha dan dada ayam berwarna kuning muda juga ikut disusun di lemari. Saya agaknya pelanggan pertama di sore jelang malam di warung itu.

Kebisingan deru mobil dan sepeda motor membuat saya harus berbicara lebih keras. ”Ayam goreng satu, mas!”

”Iya. Silakan duduk dulu,” sahut lelaki di belakang gerobak itu.

Akupun duduk menanti pesanan. Tapi nyamuk-nyamuk kecil beterbangan. Mengganggu aku yang sementara duduk itu. Aku usir mereka. Tapi, dasar nyamuk. Yang satu pergi, yang lainnya datang lagi. Aku akhirnya harus berkelahi dengan nyamuk-nyamuk kecil itu. ”Ehmm, mereka sudah pergi,” gumamku.

Eh, tak lama, datang lagi yang satu. Nyamuk yang nakal ini, bahkan sempat menggigit tanganku. Aku pukul nyamuk itu. Tapi, bukannya nyamuk yang kena, tangaku sendiri yang kena. Gigitan nyamuk itu membekas. Sebuah benjolan kecil berwarna merah di tanganku terasa gatal. Dasar nyamuk.

Belum selesai masalah nyamuk, terasa ada yang menyentuh pahaku. Aku kira tangan seseorang. Ternyata seorang kucing. Aku dan dia sempat bertatapan. Tatapannya memelas. Barangkali dia sedang mengharapkan sesuatu dari aku. Tapi, belum ada yang aku bisa beri. Ayam goreng yang dipesan belum selesai digoreng. Melihat aku hanya menatap saja, kucing itupun berlalu.

Gemericik minyak goreng yang mendidih samar-samar terdengar dari tempat dudukku. Bau ayam sedang digoreng semakin membuat perut menjadi lapar. Bau sedap itu seakan memanggil pelanggan yang lain. Satu dua pelanggan mulai berdatangan.

Sekira lima menit kemudian, paha ayam goreng pesananku datang. Masih panas, kentara dari uapnya yang masih mengepul. Ditaruh di atas nampan seukuran piring dialas daun pisang yang hijau, ayam goreng itu terlihat lebih gurih. Baunya enak. Ada mentimun yang dipotong-potong. Juga sayur kol yang diiris. Sambelnya merah. Bawang merah goreng ditabur di atas nasi putih. Emm, aku tak tahan langsung menyantapnya. Tapi, tunggu ada yang kurang. Kemanginya tidak ada. ”Mas, kemanginya?”

”Belum diantar, pak,” jawab lelaki muda yang sibuk menggoreng itu.

Tak apalah. Ini saja sudah enak. Aku pun segera mencuci tangan di baskom kecil berwarna merah berisi air bersih. Aku makan tak pakai sendok. Dengan jari-jari di tangan kiri, kusantap ayam goreng itu. Enak dan kenyang.