Sabtu (2 April 2011) pagi, sekitar pukul 06.45 aku meluncur dari Tomohon menuju ke Bandar Udara Samratulangi, Manado. Aku diminta oleh Dian/Interfidei, Jogya untuk bersama-sama dengan mereka dalam sebuah kegiatan lintas agama di Tobelo. Sekaligus, kata Ira Sasmita, belajar bersama mereka bagaimana melakukan kegiatan lintas agama.
Udara, Laut dan Darat yang Menantang

Kami melewati kota Ternate. Dia menunjukkan kepadaku kedaton Ternate. Tapi sayang hanya tampak dari kejauhan. ”Beberapa hari ini kedaton menggelar acara. Jadi, nanti malam ramai lagi di sini. ”


”Sofifi, dia bos. Tulis saja namanya, Denni” ujar Iwan, yang ikut membantu mencarikan saya speedboat untuk menyebrang ke Sofifi. Dari Sofifi nanti saya akan ke Tobelo. Di pelabuhan kecil Sofifi seorang yang bernama Onge akan mengantar saya ke Tobelo.
Sofifi kini adalah ibukota baru Provinsi Maluku Utara sejak 4 Agustus 2010. Sofifi berada di Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore dan merupakan bagian dari poros Pulau Halmahera, di seberang Pulau Ternate.
Saya agak sedikit khawatir. Jangan-jangan ombak di laut kencang. Tapi, menurut orang-orang di pelabuhan itu, laut hari ini baik-baik saja. Sehingga bagus untuk melakukan penyeberangan. ”Sekarang laut todoh (tenang). Tiga hari lalu dia kencang,” ujar seorang lelaki di pelabuhan itu yang sempat saya kutip.
Di speedboat penumpang duduk bersesakan. Di samping saya ada seorang anak laki-laki kecil dengan ibunya yang berjilbab. Agaknya mereka itu orang Jawa. Saya ingat, anak dan ibu itu yang waktu di pesawat tadi duduk di seberang saya. Waktu di pesawat anak itu bicara terus.
Penumpang lain di speedboat itu laki-laki, mungkin asli orang Halmahera. Crew speedboat berjumlah tiga orang. Satu yang mengemudi, satu yang mengatur mesinnya dan satu yang bertindak semacam navigator. Aku menikmati perjalanan itu. Sebagai ’orang gunung’ berada di atas laut yang sedikit berombak tentu sesuatu yang menantang. Speedboat terus melaju membela ombak. Para penumpang speedboat itu agaknya lagi malas bicara sehingga yang terdengar hanya bunyi ombak yang dihamtam speedboat.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki muda. ”Pak Denni, ya?”
”Ya, saya Denni.”
”Oh, mari, pak.”
Saya langsung tahu bahwa dia yang bernama Onge meskipun saya lupa menanyakan namanya. Dia juga tidak memperkenalkan namanya. Tas yang saya pikul langsung diambilnya dan dimasukan ke bagasi mobil. Tak ada istirahat sejenak. Kami langsung berangkat menuju ke Tobelo. Di mobil itu hanya saya, dia dan ada satu laki-laki muda yang menurut Onge ikut ketika mobil lain datang dari Tobelo tadi pagi.
Perjalanan memang melelahkan tapi menyenangkan menikmati pemandangan yang masih hijau. Pohon kelapa, cengkih, dan coklat tumbuh subur di tanah Halmahera ini. Sebuah wilayah, saya lupa namanya, tampak tanahnya berwarna merah. Kami juga melewati teluk Kao. ”Anehnya, teluk ini bernama Kao, tapi Kao itu masih jauh dari sini,” ujar Onge menjelaskan.
Di salah bagian jalan trans Halmahera tampak sebuah papan nama Perusahaan Tambang Nusa Halmahera Minerals yang bergerak di pertambangan emas. Perusahaan tambang ini merupakan perusahaan patungan antara Newcrest Mining Limited dan PT Aneka Tambang. Tapi dari jalan Trans Halmahera ini, lokasi pertambangan tersebut masih jauh masuk ke dalam.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, kami singgah di sebuah rumah makan di bagian Malifut. Di situ saya makan ikan cakalang yang dimasak dengan saus rica-rica. ”Namanya ikang pampis, Pak,” kata pelayan rumah makan itu. Kurang lebih setengah jam kami singgah di rumah makan itu.
Kini, perjalanan dilanjutkan. Dari Malifut menuju ke Tobelo, perjalanan ditempuh kira-kira satu jam lebih lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami pun tiba di Tobelo. Kota ini, tampak lebih maju dari beberapa wilayah yang kami lewati, termasuk Sofifi yang sudah menjadi ibu Kota Provinsi Maluku Utara. Salib-salib yang ditaruh di pinggir jalan tampak menghiasi beberapa desa di wilayah Tobelo ini. Gedung gerejanya lumayan bagus. Didominasi oleh denominasi Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH).
Di Tobelo saya dan tim dari Interfidei menginap di Villahermosa. Sebuah hotel kecil, yang menurut Andreas Harsono yang datang ke sini tahun 2005, adalah hotel para aktivis ”NGO.”
Menikmati Pluralitas Kultur di Halmahera Utara


Ada ratusan pulau di kabupaten ini. Tercatat sekitar 115 pulau yang tersebar di laut Maluku dan laut Halmahera. Hampir setiap pulau memiliki keindahan alam yang khas. Pulau-pulau kecil dengan panorama pantai pasir putihnya, keindahan taman laut yang sangat indah dengan aneka ragam ikannya, keanekaragaman flora-fauna dan budaya serta situs-situs sejarah masa perang dunia II dapat dijumpai di daerah ini.
Berjalan-jalan di kabupaten ini kita akan menikmati indahnya laut, nyiur melambai-lambai seolah memanggil kita untuk menikmatinya. Pala, juga cengkih banyak sini. Kulinernya sangat kaya dengan macam-macam jenis ikan hasil tangkapan para nelayan.
Tobelo, sebagai ibu kota kabupaten memang tampak nuansa kristianinya. Tapi, secara keseluruhan di Halmahera Utara, pemeluk agama Islam juga banyak. Situs The Free Encyclopedia (http://en.wikipedia.org/) menyebutkan, umat Muslim dan Kristen telah hidup secara damai di kota Halmahera Utara sejak abad ke-16. Berjalan-jalan di pesisir pantai dari Galela ke Tabelo akan tampak desa-desa yang penduduknya Muslim dan Kristen saling bertetangga. Secara kultural, hidup damai antara dua komunitas ini mengikuti tradisi budaya lokal yang disebut ”Lamo Hibua”, yaitu semacam pakta antara umat Muslim dan Kristen untuk hidup bersama secara damai.
Sayang sekali, keindahan perdamaian antara komunitas muslim dengan kristen di Halmahera Utara pernah ternoda dengan kerusuhan yang menelan korban jiwa cukup banyak. Kerusuhan yang melibatkan simbol-simbol agama di Halmahera Utara terjadi pada tahun 1999. Jan Aritonang dalam bukunya ”Sejarah Perjumpaan Islam dan Kristen di Indonesia” (2004) menuliskan, kerusuhan tersebut terjadi dalam tiga babak. Babak pertama terjadi mulai 18 Agustus, babak kedua dimulai 24 Oktober dan babak ketiga terjadi 26 Desember tahun 1999. Kerusuhan ini melibatkan suku Makian yang mayoritas beragama Islam dengan suku Kao, Galela, Tobelo dan Jailolo yang mayoritas beragama Kristen. Korban jiwa selama kerusuhan tersebut diperkirakan mencapai 3000 jiwa, sementara secara keseluruhan di kepulaun Maluku, menurut sosiolog Universitas Indonesia yang berasal dari Galela, Thamrin Amal Tomagola, korban jiwa mencapai 8000 jiwa.
Ketika saya di sana, tokoh-tokoh agama dan masyarakat dari Halmahera Utara yang mengikuti kegiatan yang difasilitasi Dian/Interfidei, merefleksikan konflik tersebut sebagai masa kelam Halmahera Utara. Kini, sejarah kerusuhan ini memang tidak dilupakan sebagai pembelajaran bagi generasi muda, namun berangkat dari masa kelam itu, mereka berkomitmen untuk membangun kehidupan bersama secara baik. Hj.Umar Pono, tokoh pendidikan Halmahera Utara mengatakan, kerusuhan tersebut memang sangat disesali, sebab yang berkelahi itu meski berbeda agama tapi berasal dari satu keturunan, satu sejarah. ”Kami di sini, di Halmahera Utara ini, di Tobelo, Kao, Galela, Jailolo berasal dari satu keturunan. Jadi satu keluarga. Namun sangat disesali kerusuhan yang terjadi beberapa tahun lalu itu. Peristiwa ini mungkin dipicu oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan popularitas demi kepentingan politik, sehingga terjadi kerusuhan. Sebarnya tidak ada permusuhan antara orang-orang Islam dan Kristen di sini. Sebab kita ini satu suku. Jangan lagi terulang kerusuhan semacam itu,” terang Hj. Pono.
Halmahera Utara memang majemuk dari segi agama dan suku. Orang-orang keturunan Tionghoa yang tinggal di Tobelo, meski pada waktu kerusuhan banyak yang ikut mengungsi ke Manado dan Minahasa, Sulawesi Utara, tapi sebagian masih tetap bertahan di sana. Suatu malam, kami (saya dan tim Dian/Interfidei) pergi ke sebuah rumah makan yang pemiliknya keturuan Tionghoa-Minahasa. Rumah makan itu bernama ”Orion”. Kami pesan ikan goreng. ”Nama ikan ini, sikuda,” ujar pelayan rumah makan itu. Pernah juga suatu kali, di Gorua Selatan, seorang ibu berkata kepada saya, ”Pisang ini depe nama pisang Manado.” Saya langsung teringat dengan pisang Ambon di Minahasa. Segera saya menulis status di facebook: ” Di Minahasa ada 'pisang ambon', di Tobelo, Halmahera ada 'pisang Manado.” Tentu, ini adalah hasil dari sebuah perjumpaan antara kultur.
Di Tobelo, kata orang sana banyak orang Manado. Di pusat kota Tobelo ada toko handphone yang bernama ”Manado Seluler”. Di ruas jalan Tobelo menuju ke Galela ada juga rumah makan Tinoor yang menyediakan menu khas Minahasa, seperti Tinoransak, RW dan Tinutuan. Bahkan, di ruas jalan yang sama ada orang-orang Leilem, Minahasa yang berprofesi sebagai tukang kayu. ”Dorang di sini so lama. Dorang biasa bikin lemari, kursi deng barang-barang meubel yang lain,” ujar sopir yang mengantar kami ketika jalan-jalan mengelilingi Tobelo.
Tobelo dan juga kabupaten Halmahera Utara pada umumnya kini sedang menatap masa depan hidup bersamanya. Ada keinginan untuk melakukan sebuah transformasi pasca peristiwa kelam beberapa tahun lalu. Di Tobelo kini berdiri Universitas Halmahera (UNIERA) milik GMIH. Sejarah UNIERA seperti yang tercantum pada situs resmi UNIERA (sumber: http://www.uniera.ac.id/ ) disebutkan bermula dari Akademi Teologi yang didirikan pada 1 September 1967 di Ternate oleh Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Perkuliahan perdana dimulai 28 Januari 1968 dan momen inilah yang kemudian diperingati sebagai hari ulang tahun lembaga. Awalnya, Akademi Teologi menerima para lulusan SMP atau yang sederajat untuk dididik menjadi tenaga pelayan di lingkungan gereja. Pada tahun 1985, Akademi Teologi berubah menjadi Sekolah Tinggi Teologi (STT) GMIH. Rencananya merubah STT ini menjadi univesitas diputuskan pada Sidang Sinode GMIH XXIII tahun 1992 di Daruba-Morotai. Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Halmahera sebagai penyelenggaran pada tahun 2006 mulai merancang usaha-usaha pengembangan STT GMIH menjadi universitas. Usaha itu kemudian mendapatkan hasil dengan dikeluarkannya Surat Keputusan bernomor 200/D/O/2008 tentang Pemberian Ijin Penyelenggaraan Program-Program Studi Baru dan Perubahan Bentuk STT GMIH menjadi Universitas Halmahera dari Menteri Pendidikan Nasional pada tanggal 22 September 2008.
Universitas Halmahera memulai kuliah perdana pada 1 September 2008 sedangkan acara peresmian pembukaan universitas dilaksanakan pada 11 Oktober 2008 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional RI yang diwakili Kopertis Wilayah XII.
Berdamai Demi Masa Depan


Peserta juga berdialog dalam keterbukaan soal prasangka-prasangka yang ada selama ini. Mereka dengan kejujurannya mengungkap apa yang selama ini dicurigai, dianggap tidak baik dan juga yang baik. Kemudian ditambah dengan acara kunjungan ke gereja bagi yang muslim, dan ke mesjid atau pesantren bagi yang Kristen. “Setelah berdialog dan juga berkunjung ke Mesjid atau ke komunitas muslim, kesimpulan yang kami peroleh, bahwa banyak hal yang kami tidak tahu kini menjadi tahu dan dengannya membantu kami untuk menghilangkan prasangka-prasangka selama ini dari kami yang Kristen,” ujar Pdt. Manasye Ngongira salah satu tokoh Kristen Tobelo.
Haji Mansyur Yoba, imam Desa Gorua Selatan yang juga sebagai peserta dalam kegiatan tersebut, mengatakan kegiatan ini sangat bagus. Sebab, kegiatan ini memberi ruang bagi kami yang berbeda agama tapi hidup bersama di Halmahera Utara untuk bisa secara terbuka berbicara mengenai hal-hal yang selama ini kami anggap tabu untuk dibicarakan. “Keyakinan itu kan sifatnya pribadi. Jadi, mestinya itu tidak membuat kita yang berbeda agama saling berbenturan,” ujar Haji Mansyur.
Kegiatan ini kemudian membuahkan sejumlah komitmen dari peserta untuk melakukan aksi bersama lintas agama bagi Halmahera Utara dengan berbagai persoalannya. “Diharapkan komitmen ini tidak hanya sampai di kegiatan ini. Namun, mudah-mudahan kita bisa merealisasikan komitmen bersama itu dalam aksi bersama demi masa depan Halmahera Utara,” tandas Elga Sarapung.
Pulang ke Minahasa Membawa Sejuta Makna
Kegiatan bersama Dian/Interfidei berakhir pada tanggal 7 April dengan diselenggarannya seminar di Kampus UNIERA. Saya dan tim harus pulang pada keesokan harinya tanggal 8 April. Semula, direncanakan kami akan pulang melewati Bandar Udara Ternate dengan perjalanan darat selama 4 jam. Tapi, ternyata di Bandara Udara Galela ada pesawat yang melayani rute penerbangan Galela-Ternate. Di kabupaten Halmahera Utara ini ada dua bandara, yaitu di Kao dan di Galela. Tapi dari Tobelo menuju ke bandara Kao waktu perjalanan sekitar 2 jam, sementara ke Galela hanya sekitar 1 jam. Agar lebih cepat, kami memilih melalui Bandar Udara Gamar Malamo, Galela.
Waktu perjalanan ke Ternate dengan pesawat jenis Dornier 328 milik Express Air berpenumpang 33 itu hanya sekitar 30 menit. Kami tiba di Ternate sekitar pukul 12.00 WIT. Tim Dian/Interfidei, sesuai jadwal keberangkan lebih dulu dari saya. Mereka terlebih dahulu akan ke Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Sedangkan saya sesuai waktu penerbangan berangkat pukul 13.30 WIT langsung ke Manado. Tapi, pesawat berbaling-baling milik maskapai penerbangan Wings/Lion yang akan saya tumpangi mengalami keterlambatan dari Manado sekitar 2 jam lebih. Saya nanti berangkat sekitar pukul 16.15 WITA.
Di ruang tunggu Bandara Sultan Babullah Ternate saya merenungi kenangan selama di Halmahera Utara, khususnya di Tobelo. Betapa, sebuah wilayah kepulauan yang kaya dengan sumber daya alam, beratus-ratus pulau, dan beragam suku itu, ketika mereflesikan sejarah kelam tentang tanah pijakan mereka yang pernah porak-poranda akibat kerusuhan, akhirnya harus kembali dalam kesadaran “ke-Halmahera-an” mereka. Itu tampak jelas ketika mereka yang dulunya bermusuhan – mungkin anak, suami atau istri mereka adalah korban dari kerusuhan itu – duduk bersama dalam keterbukaan untuk bicara masa depan hidup, tanah pijakan bersama akhirnya menjadi penting untuk direfleksikan kembali. “Kitorang samua satu keturunan, kitorang basudara. Kiapa musti bakalae?”, ungkapan itu setidaknya mencerminkan kesadaran hidup bersama dalam kepelbagaian tapi diikat oleh sejarah dan ingatan kolektif yang sama.

Sambil menunggu pesawat datang dari Manado, masih di ruang tunggu itu, saya teringat Minahasa, di sana kami juga sedang berbicara tentang narasi kolektif sebagai orang-orang Minahasa. Dan, kami memang punya itu. Tapi, “apa narasi kolektif Indonesia, sebagai sebuah nation state?” Ah, saya belum atau mungkin tidak akan menemukan sama sekali narasi kolektifnya. Sebab, sejarah negara ini terlalu politis, dogmatis dan sentralistik! Mudah-mudahan saya tidak keliru merenung.
Tobelo-Ternate-Minahasa, April 2011
0 komentar:
Posting Komentar