Latest Post

Senin, 06 Februari 2012

Manado pe Panas, Basuar!

|0 komentar
Denni Pinontoan pe tulisan

Panas. Basuar. Mar, sebenarnya dorang bilang bagus kata kalu masih ja basuar. Bagus for kesehatan. Tambah lei di Tomohon so kadang ja basuar.

Manado, hari ini memang panas. Waktu kita tanya pa maitua yang dulu da ba kos di Manado sekitar 6 taon, dia bilang memang so lebe panas kata. So lebe panas dari dulu. Tu kita pe kacili, Echa, cuek dapa lia. Mar, tetap katu dia minta polo. “Pa, polo dang,” dia ba minta deng sunggu-sunggu.

Depe mama tanya,”Kiapa Echa? So lala?” Echa yang tu da tanya akang cuma badiam. Bukang dia blum mangarti tu depe mama da tanya, mar dasar anak-anak katu toh, dia suka depe papa gendong.

Torang waktu itu, ada ampa orang. Kita, maitua, Echa, deng Echa pe mama ani. Ba jalang rame-rame. Mar tu jalang, di lorong sebelah Speed komputer, di Bahu itu balubang-lubang. “Di jalang ini, tu brapa minggu lalu kita ada cilaka akang. Da ba gonceng, lantaran tu jalang ba lubang-lubang, kita ciri. So capat lei tu motor, kong jalang ba lubang lei,” Echa pe mama ani bacirita.

Tu Echa pe mama ani kwa, beberapa minggu lalu memang da cilaka di jalang ba lubang itu. Sampe kasiang maso rumah saki. Depe pala-pala riki da manjae.

Mar skrang kita kwa mo cirita tu panas.

Kita singga di Speed Computer. Di situ ada internet ja sewa. Bole pake WIFI, bole pake LAN. Kita pake WIFI. Lantara Echa pe mama ani, waktu blum ba pindah pa dia pe tampah kos skarang, langganan di situ. Masih ada depe voucher yang ta sisa sekitar sapuluh jam. Kita pake itu.

Di dalam warnet itu, depe panas, memang dapa tako. Kita pikir-pikir, apakah lantaran kita orang gunung, lahir di Kawangkoan, besar di Motoling, kong skarang tinggal di Tomohon, kong sampe dapa rasa skali Manado pe panas? Ato Manado memang so lebe panas. Lantara global warming stou, dorang bilang. Global Warming ato pemanasan global. Kita lei blum tahu jelas. Yang kita tahu, pante Manado, depe reklamasi panjang skali. Hampir sepanjang pantai teluk Manado itu. Dari Bahu, sampe blakang Jumbo.

“Mar, itu bukang kwa timbun pante. Depe nama itu, reklamasi, re-claim. Klaim ulang kata, tu garis pante yang sebenarnya,” bagitu tu salah seorang profesor pakar kelautan dari Unsrat bilang waktu ada seminar di UKIT brapa waktu lalu.

Oh, bagitu kang. Bukang mo kase kacili tu pante, mar cuma mo kase iko ulang tu garis pante kata. Kita dapa tahu kamari terakhir, tu profesor kote itu, salah satu Tim AMDAL, waktu pemerentah Manado mo reklamasi tu pante itu. Pantasan dia tahu mo balas kita pe pertanyaan.

Mar, ngoni samua tahu toh, tanggal 11 sampe 14 Mei lalu, di Manado ada acara basar. World Ocean Conference (WOC) deng Coral Triangle Initiative (CTI) Summit depe nama. Di acara itu tuang-tuang basar dari ratusan negara bakumpul, dengar-dengar kata, da bahas soal laut deng persoalan tu dunia ini yang so lebe panas. Dari Manado ada kata yang mo kase sumbang for dunia. Mantap!

Lantaran tu soal panas Kota Manado ini, dari speed computer kita batulis di pa kita Facebook pe dinding bagini: “Manado memang panas. Mar....ini komang so lebe panas...basuar so bukang suar lela...mar so suar global warming…”

Cuma brapa menit, muncul komen-komen.

Andre Gusti Bara bilang,”so bagitu manado. kan demi kota pariwisata dunia, salah satu dp syarat musti cuaca panas minta ampun.”

Kita balas di tampa komen itu, ”Pantasan...ternyata kote...lebe panas...menurut pemerentah lebe bagus...supaya tu proposal tembus di PBB...ha...ha...”

Sammy Fanly Tumbelaka tamang orang Kawangkoan mar skrang ja mancari di Amurang bilang, “+ ley RW p paso.. Puuaannaass katu ya.. :-).”

Dia bilang RW, kita dapa inga, tadi kote, waktu masih online pa Echa pe mama ani pe tampa kos, kita da bilang pa dia di chating, kita sementara makang RW Manado yang lanut.

Erlangga Mario Kansil Runtuwene, mahasiswa Fakultas Teologi UKIT di komen itu bilang, ”tapi mener...masih bitung komang lebeh panas....”

”Iyo kang. Bitung kwa panas dari dulu....ha..ha..” kita balas depe komen.

Renly Najoan, tamang di FB (kependekan dari Facebook) ba komen, ”setuju... sedangkan di tomohon sekarang so ja cari es.”

Tu tamang lama yang skarang sementara ja mancari katu di Gorontalo ba tambah, ” ato suar..............aaa.aaaaa,” tulis Rudolf Lumy.

Greenhill Glanvon Weol, dari Minut da buka kote FB pake HP. Dia bilang, ”Maka 'torang samua basu..ar'”.

Mar, kita pe cirita ini, memang bukang cuma soal tu panas (suhu yang panas) itu, mar lei tu malimbukunya Kota Manado dari segi politik, ekonomi deng sosial. So baku cako depe persoalan. “So bagini no, tu kota kosmopolitan,” bagitu tu mahasiswa Unsrat pe komentar di warnet speed. Waktu itu dia da di seblah pa kita. Sama-sama sementara online.

Waktu lalu ada diskusi di Pusat Gerakan Adat dan Budaya Minahasa di Tomohon. Di situ tu Majelis Adat Minahasa (MAM), Persatuan Adat Minahasa deng Perpustakaan Minahasa “AZR” Wenas da batampa akang. Depe pokok diskusi seputar Kota Manado, yang so mulai kata nda kentara tu depe Minahasa. Sampe tu cirita berkembang ada manuver-manuver politik dari kata tu Plt. Walikota skarang, yang so nda anggap tu Kota Manado bagian dari Tanah Minahasa. Kita tanya pa orang-orang yang hadir waktu itu,”kalo torang mo bilang Manado skarang ini harus Minahasa lagi, no apa depe penanda,?” Artinya, kira-kira apa yang torang bole bilang sebagai tanda, bahwa Kota Manado adalah bagian dari Tanah Minahasa. Sebab, dia skrang kan tampa tinggal dari macam-macam orang. Ada dari Gorontalo, Sangihe, Talaud, Bolangmongondow, Arab, Cina, deng banyak lagi.

Teddy Kumaat, salah satu yang hadir di acara bacirita itu bilang, ”Gedung Minahasa Raad, depe tanda.”

Tu tamang, yang kita cuma inga dia pe fam Maramis bilang, perlu skali kata tu hukum adat. “Supaya torang mo klaim secara hukum adat, bahwa Manado adalah bagian dari Tanah Minahasa,” bagitu dia bilang.

Di sei pa kita ada Christy Manarisip. Kita tanya pa dia,”Kota Manado pe lambang masih pake burung Manguni?”

“Nyanda no,” dia bilang.

“Pantasan,” kita bilang pa dia. Mar tu laeng-laeng di acara bacirita itu, nda da dengar stou kita da bilang itu. Soalnya kita pe suara cuma stengah.

Butul. Lambang Kota Manado nda burung Manguni. Mar katu, nda ada lei burung pompo (merpati) sama deng tu lambang Kab. Minahasa Tenggara yang Bupati Telly Tjangkulung da usul itu. Lambang Kota Manado masih ada kelapa. Mar yang depe nama lambang, ya lambang, simbol. Biar lei pake Minahasa pe lambang, kalu tu hati so balaeng, sama jo kang!

Senin, 19 Desember 2011

Minahasa dalam Facebook

|0 komentar


Situs jejaring sosial temuan Mark Elliot Zuckerberg, Facebook, adalah ruang diskusi publik yang murah tapi meriah. Manusia dari beragam ras, agama, dan status sosial bisa berjejaring dalam kata, suara dan gambar. Dalam canda, marah ataupun, bisa berujung dendam. Facebook, adalah dunia maya, yang matematis, tapi bisa membangkitkan emosi. Facebook adalah produk budaya digital. Di mana manusia tak lagi ditentukan oleh ruang dan waktu.

Ada sebuah grup Facebook yang nama belakangnya menggunakan nama Minahasa. Memang, grup itu dimaksudkan sebagai forum diskusi tentang Minahasa dan keminahasaan. Jumlah anggota grup itu telah mencapai 5000-an. Tidak semua akun menggunakan nama asli. Bahkan mungkin ada yang sudah punya dua, atau tiga nama akun yang berbeda-beda. Bermacam-macam orang dengan latar belakang keilmuan serta profesi, saling mengadu argumen di grup ini. Yang pada banyak hal, sering tidak berkenaan dengan Minahasa dan keminahasaan. Dunia maya, memang dunia maya. Siapa saja boleh menyamar.

Topik diskusi bermacam-macam. Memang namanya grup Minahasa. Tapi, di grup ini didiskusikan juga sains, iman atau agama dan beberapa pendapat yang menunjukkkan kebodohan dalam menanggapi ateisme. Minahasa, direduksi sedemikian rupa dalam cara pandang yang simplistik dan konservatif. Memang, banyak juga yang tampak kecerdasan dan keterbukaannya. Tapi yang liberal, progresif dan bahkan revolusioner ini sering mendapat makian, cercaan dan stigma negatif. Grup ini, akhirnya menjadi ruang ajang saling mendesktruksi, sedikit saja yang saling mencerdaskan.

Minahasa dalam Facebook, menggambarkan sebuah dinamika dan pergulatan intelektual. Orthodoksi, status quo, fundamentalis versus liberal, progresif dan revolusioner. Tapi, sebuah akun, tidak statis dalam satu posisi. Hari ini liberal, besok fundamentalis. Atau, hari ini berkawan dalam berkomentar, namun besok bisa berbeda pendapat. Ada juga seperti beronani, karena pernyataannya ditanggapi dengan komentarnya sendiri. Dan, banyak pula yang narsisitik. Yaitu, men-like komentar sendiri. Facebook, seolah berhasil membawa dinamika intelektual manusia-manusia berbudaya Minahasa dalam sebuah pertarungan yang tiada henti. Sebuah pertarungan yang tiada ujung, tiada kata sepakat dan bahkan tiada arti. Ada bahaya nihilistik!

Itu tentu dugaan saya, yang bisa salah. Dugaan saya berangkat dari kenyataan bahwa Facebook adalah dunia bentukan matematika. Dunia angka-angka yang sejatinya tanpa rasa. Dan, semua semu adanya. Sangat beda dengan diskusi di perampatan jalan, rumah kopi atau di lobby hotel. Di mana pribadi-pribadi saling berjumpa. Dengan wajah yang senang, marah atau kecewa karena bersepakat atau berbeda pendapat.

Facebook, membuka hari-hari manusia dengan pertanyaan ”What’s on Your Mind?”, Apa yang Anda Pikirkan? Facebook memperlakukan manusia sebagai makhluk pemikir. Seolah, Facebook tidak diperuntukkan bagi manusia yang tidak berpikir, manusia yang hanya berhalusinasi. Teringat adigium René Descartes, ”cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Status keberadaan seorang manusia, sangatlah rasionalistik. ”Aku” berada hanya jika ”berpikir”. Atau, adanya ”aku” kalau menyangsikan semua hal. Saya tak tahu, kalau Mark Elliot Zuckerberg, dengan Facebooknya, bermaksud mengantar manusia pada metode kensangsian. Kalau ya, bisa saja Facebook adalah jejaring sosial bagi manusia-manusia yang saling menyangsikan. Manusia Facebook, adalah manusia yang harus berpikir. Karena, tulisan pintu rumah Facebook ”What’s on Your Mind?” Maka, Facebook, adalah rumah bagi perjumpaan kebenaran yang tiap hari mestinya diverifkasi.

Bahasa Facebook, adalah bahasa tulis, yang ringkas dan padat. Untuk membuktikan bahwa seseorang adalah makhluk berpikir, cuma dibutuhkan 240 karakter. Memang, ada untuk tempat catatan, yang panjangnya bisa 1000, 2000 karakter atau lebih. Maka, untuk menegaskan rasionalistiknya Minahasa, cuma dibutuhkan 240 karakter. Tapi, berbeda dengan dinding grup. Grup Facebook meminta untuk ”tuliskan sesuatu,” yang bisa panjang, lebih dari 240 karakter. Minahasa dalam Facebook, adalah manusia yang matematis, tapi anehnya ia bisa membangkitkan emosi. Facebook juga menyediakan ruang untuk memaki dan memfitnah dalam bentuk tertulis. Sehingga terdokumentasi dan menyimpan dendam yang lama. Inilah Minahasa dalam budaya digital.

Tentu, Facebook, adalah juga ruang berbudaya. Bagi Tou Minahasa, ya, adalah ruang untuk berbudaya Minahasa. Facebook, atau situs jejaring sosial lainnya adalah media berbudaya karena dia menjadi alat saling berbagi informasi, pikiran dan mungkin juga alat propaganda. Konon, situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter telah berperan dalam revolusi di Mesir. Di Indonesia pengorganisasian massa untuk menolak atau mendukung sesuatu atau sesorang, juga menggunakan situs jejaring sosial. Misalnya, Gerakan "Koin Peduli Prita." Situs jejaring sosial telah menjadi media untuk mengajak masyarakat khususnya para pengguna internet mengumpulkan uang koin untuk disumbangkan kepada Prita Mulyasari. Uang ini untuk membayar denda Prita kepada RS OMNI Internasional Alam Sutera yang bernilai Rp 204 juta.

Minahasa dinamis. Seperti Facebook yang terus dimodifikasi. Dinamika di dalamnya dalam bentuk kata-kata, gambar dan suara. Setiap hari, ada warta yang baru di Facebook. Ada gambar yang baru. Terkadang, ada juga video yang baru. Namun, bahayanya, selain akun bisa palsu sehingga komentarnya juga palsu, informasi yang ditulis dan ditautkan di Facebook, juga sangat beragam. Terkadang, sulit menyeleksi, mana informasi yang benar-benar fakta.

Informasi mengenai Minahasa, dalam bentuk berita, pikiran dan apapun itu, juga sulit ditentukan mana yang benar-benar asli. Kebenaran absolut memang tidak bisa ditemukan di Facebook. Tapi, mestinya, interaksi atau dialog yang terbuka dan kritis serta beretika, bisa melahirkan ”kebenaran”, yaitu kesadaran bersama, atau juga kesadaran kritis. Kebenaran Facebook adalah kebenaran rasionalistik, khas modernitas yang tak harus didikotomikan dengan posmodernitas. Kesadaran akan pentingnya berpikir yang harus kritis. Minahasa dalam Facebook, adalah Minahasa yang setiap harinya bertanya, dan terus berusaha mencari jawab. Minahasa yang belum final, karena dia hidup, dan terus berubah.

Agama dan Agama yang Bernama Negara

|0 komentar
Dua institusi ini sering berkelahi. Atau juga sering berselingkuh. Padahal, mereka adalah kembar. Agama dan Negara. Agama adalah juga negara. Dan, negara, sebenarnya adalah juga agama. Agama-agama itu sesungguhnya, bukan hanya, misalnya agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi, ada agama yang bernama negara.

Kalau agama-agama pada umumnya menyembah Tuhan sebagai yang Maha Kuasa, maka bagi negara, Tuhannya adalah kekuasaan. Nabi agama negara adalah para pahlawan atau pendiri negara. Korban persembahannya adalah pajak dan sering juga bahkan nyawa rakyatnya. Umat agama negara adalah rakyat. Ritualnya dilaksanakan setiap hari raya kenegaraan, semisal agama negara Indonesia adalah setiap tanggal 17 Agustus atau setiap hari Senin di kantor-kantor pemerintah atau di sekolah-sekolah. Lalu, rumah-rumah ibadahnya? Ada. Istana negara sampai kantor-kantor pejabat pemerintah. Para pemimpin umatnya juga ada. Yaitu, presiden mungkin mirip Uskup atau Ketua Sinode. Lalu para kyai, pendeta, gembala, bikhunya agama negara adalah pejabat-pejabat negara, bupati, gubernur. Hari-hari raya keagamaan agama negara adalah hari-hari raya peristiwa bersejarah, heroik, hari kelahiran negara, hari kematian seorang pahlawan, dll. Kitab sucinya adalah dasar negara, seperti Pancasila di Indonesia atau Undang-Undang Dasar.

Agama negara juga memiliki doktrin. Pada umumnya, doktrinnya adalah nasionalisme. Setelah itu, muncul doktrin-doktrin keselamatan, seperti kesejahteraan, keadilan, perdamaian. Kalau agama negara Indonesia, doktrin tunggal yang telah berhasil mengubah kesadaran umatnya sejak agama negara ini berdiri adalah Pancasila. Dulu, hak menafsir kitab suci yang bernama Undang-undang Dasar 1945 hanya terbatas pada kaum ”klerus” agama negara ini, yaitu para elit politik dan intelektual. Reformasi 1998, sebenarnya mendesentralisasi hak tafsir, tapi manipulasi hukum dan ideologi terus saja terjadi. Buntutnya adalah kondisi benegara yang tidak menentu.

Seperti umat beragama pada umumnya yang menerima dibuai dengan iming-iming sorga di sana, umat agama yang bernama negara juga demikian. Meskipun sering disadari, harapan itu semakin menjauh, tapi doktrin nasionalisme kadang membuat umat agama negara ini tidak mampu keluar dari agama negara itu. Tetap saja umatnya mau beragama negara. Meski memang, seperti halnya agama pada umumnya, situasi seperti itu memunculkan individu atau kelompok-kelompok terbatas yang melakukan kritik tajam.

Tuhan agama negara, apalagi kalau bukan kekuasaan. Kekuasaan seperti roh yang mampu merasuk para klerus atau elit negara. Kekuasaan yang adalah tuhannya agama negara ini bisa menjadi kekuatan untuk meminggirkan, mendiskriminasi atau bahkan membunuh umat. Atas nama negara, kekerasanpun menjadi halal. Bukankah begitu juga dengan agama?

Ini sebenarnya konsekuensi dari institusionalisasi atau rasionalisasi hidup bersama. Bahwa, hidup bersama dalam institusi yang dogmatis dan politis macam agama dan negara itu sesungguhnya hanya bicara soal bagaimana institusi buatan manusia itu langgeng. Doktrin keselamatan, hidup bahagia adalah mitos yang sengaja dikonstruksi untuk memanipulasi kesadaran diri umatnya. Apakah harapan hidup selamat, bahagia dan damai hanya akan tercapai karena manusia berinstitusi? Kita memang akan sulit menjawab ”tidak” selagi kerangkeng besi bernama rasionalitas masih kuat memenjarakan pikiran dan kesadaran kita.

Nyaku mengamati itu dalam diskusi-diskusi mengenai agama-agama dan relasinya dengan negara, yang nyaku sebut negara itu adalah juga agama. Diskusi berputar-putar pada soal bahwa negara telah menyebabkan kekacauan pada hubungan agama-agama. Namun anehnya, selalu saja berharap negara dapat menyelesaikan kekacauan itu. Bagaimana torang bisa membedah orang yang kena infeksi dengan pisau yang sama yang menyebabkan orang itu sakit?

Doktrin nasionalisme agama yang bernama negara ini telah begitu merasuk hingga ke dalam jantung kesadaran manusia. Begitupula dengan doktrin agama-agama pada umumnya. Sehingga, siapa saja yang melakukan kritik atau memberontak terhadap dominasi dan hegemoni dua institusi itu harus siap mendapat stigma makar, separatis, sesat dan kafir. Agama-agama ini, baik agama wahyu maupun agama negara, selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kesadaran semunya.

Sejarah kelahiran dua institusi penjara ini, pada awalnya mungkin karena ketertindasan atau kerena penderitaan. Sejumlah nation state produk modernitas adalah buah dari pemberontakan terhadap kolonialisme. Begitu juga agama-agama semit atau agama-agama timur. Terkecuali mungkin agama-agama lokal pramodern, yang meski hanya terbatas pada suku-suku atau klan-klan tertentu tapi relatif tidak dogmatis dan politis. Kegelisahaan terhadap tujuan hidup melahirkan nabi-nabi atau para bijak yang mengkhotbahkan kebahagian sebagai tujuan hidup. Kondisi yang terjajah melahirkan patriot-patriot dengan pidato-pidato yang heroik. Setelah semua itu, apa? Setelah semua itu, adalah institusi yang memenjarakan. Institusi modern ini adalah karengkeng rasionalitas.

Waktu nyaku ke Yogyakarta 12-15 Oktober lalu, nyaku sempat bacirita dengan tiga teman, Rony Chandra Kristanto dari Semarang, Silo Abraham Wilar dari Jakarta dan Nelti dari Padang. Dua teman, Rony dan Silo adalah teolog muda yang aktif di Asosiasi Teolog Indonesia (ATI). Torang bacirita di sebuah kafe. Silo, yang sudah akrab dengan Jogja bilang, kafe itu namanya ”Ginseng”. Tempat para bule menghabiskan malam sambil minum bir dan menyanyi. Kami sempat bacirita soal beragama yang tak terikat lagi dengan institusi. Dan, ini kemudian menjadi isu hangat dalam diskusi malam itu. Ada pemikiran bahwa, gereja misalnya, bisa menjadi tempat bertemunya manusia-manusia, siapapun dia. Menjadi ruang refleksi. Tapi, tidak harus dogmatis dan struktural. Pikiran saya, mungkinkah pula kita mewacanakan agama yang bernama negara menjadi ruang terbuka yang nyaman, bebas polusi kepentingan-kepentingan politik bagi siapa saja?

Apa yang kami perbincangkan itu sesungguhnya adalah ideal-ideal, yang sangat jauh dengan realitas dan maksud dari banyak orang beragama dan beragama yang bernama negara itu. Memang, ide atau gagasan itu subversif. Karena wacana itu masih akan berhadapan dengan banyak orang yang mau dan senang hati pikirannya dijajah oleh mitos-mitos surga dan neraka kedua institusi itu. Terlebih, wacana ini akan berhadapan dengan tuhan yang bernama kekuasaan itu.


19 Oktober 2011 (Rabu: 21:37 wita)

Elang, Nuri dan Lelaki Pincang

|0 komentar
Suatu pagi jelang siang di akhir November 2011.
Di sebuah lorong kecil, beberapa orang berjalan saling berpapasan. Seekor elang terbang rendah dengan bebas di atas sawah. Langit berawan, sepertinya hujan akan segera turun. Seekor burung nuri kecil kakinya terikat tali. Ia ditenggerkan di atas pagar depan rumah pemiliknya. Kicauannya menyedihkan. Ia ingin bebas, tapi ia tersandera.

Di lorong itu, seorang lelaki parubaya berjalan lambat. Kaki kanannya pincang. Ia memikul beberapa parang yang diikat untuk dijual. Ia sempat singgah di sebuah warung. Seorang kemungkinan bermaksud membeli parang yang dijualnya.

Kehidupan seperti elang yang bebas terbang. Tapi, sewaktu-waktu ia akan bernasib seperti nuri itu. Atau bahkan ia akan mati. Nuri yang indah hanya menjadi pajangan bagi si manusia. Lelaki pincang berjuang hidup. Lorong-lorong kehidupan menampilkan beragam wajah manusia.

Manusia dan kehidupannya, sesungguhnya paradoks. Bermula dari manusia itu yang paradoks adanya. Banyak orang berharap hidup damai dan sejahtera. Bersamaan dengan itu, manusia-manusia lain merusak harapan-harapan sesamanya. Entah apa tujuan hidup manusia-manusia perusak itu. Tapi, ego adalah aku yang selalu berhadapan dengan macam-macam godaan. Pada satu titik si aku harus memilih. Hidup benar, namun mungkin harus berhadapan dengan kesusahan-kesusahan. Atau hidup salah dengan segala kenikmatan yang semu.

Tapi tak terlalu baik menyalahkan si aku. Sebab, aku selain hadir bersama aku-aku yang lain, ia juga lahir dan terbentuk oleh alam ideologi dan kebudayaanya. Aku tidak bermain-main bebas di alamnya itu. Ia seperti nuri yang terikat. Kicaunnya tak lagi mendendangkan sukacita bersama alam. Aku terikat dan mengikatkan diri dengan tali-tali kebudayaannya. Aku tak bisa bebas seperti elang di udara. Pun elang yang bebas itu, entah kapan akan jatuh jua ke bumi.

Manusia memberadakan diri dalam alam hidup yang pada banyak hal dibuatnya. Anehnya, buatannya itu juga yang pada banyak hal kemudian mengontrol dia. Memaksa dia. Memerintah dia. Atau menyuruh dia membunuh. Atau bahkan membunuh dia. Alam hidup yang paradoks. Karena yang membentuknya, si aku adalah paradoks.

Manusia tak seperti elang yang bisa terbang bebas. Ia lebih mirip nuri yang terikat itu. Lorong-lorong kehidupan tak lurus. Ia berbelok-belok. Kadang-kadang buntu pada rumah penguasa. Atau juga buntu pada jurang. Manusia, si aku itu harus pandai-pandai menentukkan arah yang benar.

Elang terbang bebas di atas sawah yang padinya baru dituai. Padi yang menguning sudah tak ada lagi. Lumpur sawah telah merubah warna pemandangan menjadi kecoklat-coklatan. Keong-keong berjalan lambat. Ikan-ikan kecil bermain riang. Nanti malam kodok-kodok berpesta.

Lelaki berkaki pincang entah dari mana. Berjalan di lorong memikul parang berharga seliter beras untuk malam nanti. Berjalan tidak rata di atas aspal yang berlubang. Tapi, ia adalah manusia yang penuh semangat. Kentara dari tangannya yang berurat. Otot-otot tua menjadi saksi tentang hidup yang keras.

Nuri ditegenggerkan di atas pagar yang keras. Pagar yang membatasi aku dengan aku yang lain. Kicauannya tak seindah ketika menyanyi di hutan. Nuri masuk ke alam hidup manusia. Ia menyaksikan hiruk-pikuk manusia mencari arah hidup. Kalau ia masih sempat pulang ke habitatnya, mungkin ia akan bercerita kepada pohon-pohon. Cerita tentang dunia manusia yang terus bergerak. Dinamis. Tapi sering tanpa arah. Sebab, arah itu tidak lurus.

Cerita elang kepada anak-anaknya, saudara-saudaranya, atau kepada kekasihnya tentang dunia manusia yang penuh dengan kepalsuan. Saling sikut. Saling pukul. Saling tipu. Tapi ia mungkin masih akan jujur, ada seorang lelaki pincang yang berjalan tidak rata tapi penuh semangat. Atau cerita tentang seorang perempuan tua yang bangun pagi-pagi sebelum suami atau anak-anaknya tersadar dari mimpi. Pagi-pagi sekali ia pergi ke pasar. Tanah masih basah. Udara masih dingin. Ia akan pergi menjual apa yang dipetiknya di kebun kemarin sore. Cerita elang itu mungkin berjudul ”dunia manusia yang paradoks.”

Lelaki berkaki pincang mungkin akan bercerita kepada istri atau anak-anaknya tentang lorong itu. Di sana ada manusia-manusia yang menanyai dia tentang harga sebilah parang. Tapi mereka tidak membeli. Karena memang hanya ingin bertanya. Lain dengan si petani tua yang berjumpa dengannya di ujung lorong. ”Kalau kau datang lagi besok, saya akan beli parangmu. Hari ini, aku masih akan ke kebun. Semoga hari ini rejeki akan berpihak kepadaku,” ujar si petani tua itu. Atau cerita tentang sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang berpakaian kantoran yang hampir menabraknya di lorong itu. ”Hei, kamu punya mata atau tidak!!” bentak si orang itu.

Ini akhir November. Besok bulan Desember. Udara akan semakin dingin. Elang dan Nuri akan menghangatkan tubuh dengan bungkusan sayapnya. Namun. lelaki berkaki pincang itu, justru akan semakin lama di jalanan demi seremoni agama nanti.

30 November (- 3 Desember 2011)

Bakar Diri, Bakar Kerasnya Kemapanan

|0 komentar
Seorang aktivis, yang selalu gelisah dengan kondisi bernegara, Sondang Hutagalung, 7 Desember lalu membakar dirinya. Memang tak tahu motivasinya apa. Yang jelas, Sondang melakukan bakar diri itu di depan istana negara. Biasanya, kita mendengar orang – yang kemudian disebut-sebut teroris – melakukan bom bunuh diri. Kalau Sondang bakar diri, korbannya adalah dia seorang. Tapi kalau teroris bom bunuh diri, korbannya, selain pelakunya juga sering dengan orang lain.

Di Tunisia, Mohamed Bouazizi, seorang lulusan sebuah universitas, juga melakukan aksi bakar diri. Ia seorang pedagang buah-buahan dan sayuran di pasar. Bouazizi sering berhadapan dengan polisi Tunisia yang menyita barang dagangannya dengan alasan ia tidak memiliki izin berjualan. Di Mesir di Kairo, Abduh Abdulmoneim dari Qantara, juga bakar diri. Ia melakukan aksi nekat itu di depan gedung parlemen. Menurut media, alasannya sederhana, Abdulmoneim protes karena tidak mendapatkan jatah roti untuk restorannya.

Di Tibet, protes terhadap kerasnya peraturan pemerintah terhadap ajaran Budha di sana, seorang biksu berusia sekira 17-18 nekat pula melakukan aksi bakar diri. Saat membakar dirinya, Biksu bernama Kalsang tersebut memegang foto Dalai Lama, pemimpin Budha yang diasingkan. Dia meminta kebebasan beragama serta kemerdekaan di Tibet.

Di abad pertengahan, gereja Roma Katolik, dengan hukum inkuisisinya banyak kali melakukan hukum bakar hidup-hidup orang-orang yang dituduh sesat, kafir, penyihir dan yang melawan ajaran gereja. Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad pertengahan yang pertam-tama diperuntukkan bagi yang dituduh bidat, atau sesat.

Tentu, aksi bakar diri sebagai protes oleh Sondang, Bouazizi, Abdulmoneim, Kalsan, dan banyak kasus lain lagi, berbeda dengan yang dilakukan oleh gereja Roma Katolik pada abad pertengahan. Namun, semua itu berkenaan dengan kerasnya ”kemapanan”, baik ideologi, kekuasaan politik negara maupun agama.

Setelah gugatan dalam bentuk pamflet, poster, spanduk, massa yang turun ke jalan sambil berteriak-teriak lantang memprotes ketidakadilan, bakar ban mobil dan berbagai cara lainnya dirasa tak lagi efektif untuk menggugat kemapanan ideologi, kekuasaan dan juga doktrin-doktrin absolut konstruksi elit, maka, bakar diri adalah pilihan yang dirasa tepat oleh beberapa orang itu. Membakar diri, mengingatkan kita pada praktek agama-agama, korban yang dipersembahkan kepada Sang Khalik yang dibakar. Seolah membakar kefanaan ragawi menuju kekekalan roh.

Membakar diri untuk menggugat, merefleksikan kepada kita hubungan yang timpang antara Penguasa dan yang dikuasai. Doktrin mempersembahkan yang terbaik bagi sesuatu yang kita tidak tahu apa atau siapa dan di mana itu telah menyesatkan kesadaran kaum yang dikuasai agar menjadi hamba yang tidak berarti apa-apa. Membakar diri sendiri tentu berbeda dengan diri yang dibakar secara pasif oleh penjagal. Membakar diri secara aktif adalah gugatan, dan diri yang dibakar orang adalah korban yang tidak berdaya. Namun, keduanya menunjuk pada kekuasaan yang membakar. Absolutisme ideologi, kekuasaan dan dogma begitu dahsyat, yang pada titik panas tertentu dia menghasilkan api amarah yang luar biasa panasnya!

Membakar diri untuk aksi protes, sepertinya menunjukkan sebuah ritual. Betapa sesuatu yang tidak kasat mata, yang bernama ideologi, kekuasaan atau dogma itu sudah begitu berkuasa atas diri manusia. Dia seperti dewa atau sesembahan yang oleh mitos dan mistifikasi berhasil mencabut manusia dari kesadaran nuraninya. Sehingga untuk menggugatnya tubuhpun harus menjadi korban. Dalam kesementaraan di dunia, tubuh sebenarnya begitu berharga. Meskipun, eksistensi, keberadaan si manusia itu juga ditentukkan oleh roh, jiwa, kehendak, dan ide. Dengan demikian, tubuh dan roh, mestinya tidak lagi harus dipahami sebagai dua yang sementara bersatu, dan nanti bercerai dengan kematian.

Sondang membakar raganya di depan mezbah bernama istana negara. Di situ sang raja, sang penguasa bertakhta dengan segala ideologi dan dogmanya. Yang oleh Sondang, ideologi dan dogma-dogma itu mungkin dianggap sebagai bentuk arogansi, kesemuan ataupun keberdosaan yang harus disucikan dengan tubuhnya. Kerelaan menjadikan tubuh sebagai korban penyucian, adalah sebuah pilihan tertinggi bagi seorang hamba. Dan, itu mestinya sebuah persembahan yang bernilai tinggi, karena ia mulia. Lebih dari itu, ini mestinya simbol gugatan pada sesuatu yang sudah sangat destruktif. Yang hanya dapat dihancurkan dengan korban bakaran tubuh sang manusia. Dan mestinya, kabar tentang tubuh Sondang yang hangus terbakar dapat menyalakan kesadaran, membakar segala kesemuan yang melekat dalam nurani massa negeri ini.

Raga telah hangus terbakar. Namun, ia meninggalkan pesan yang tidak perlu susah-susah dicari di beberapa detik sebelum api itu menyala di tubuh. Pesanya, ideologi, kekuasaan dan dogma bernegara, nasionalisme atau apalah istilahnya yang menunjuk pada sesuatu yang status quo dan absolut, selalu menuntut korban. Kita tak perlu mengulang cara bakar diri itu, tetapi yang terpenting adalah maknanya. Ritual bakar diri mengisyaratkan kemarahan yang sangat terhadap apa yang selalu menuntut disembah, yaitu negara, tetapi tidak (pernah) memberi kebahagian.

Bagi saya, pesan tubuh Sondang yang menyala adalah sebuah panggilan untuk segera menghancurkan segala kesadaran semu hasil indoktrinasi ideologi, kekuasaan dan dogma nasionalisme. ”Kenapa harus ada rakyat yang merelakan tubuhnya terbakar hangus di depan istana negara?” Ini tentu tidak harus dibaca sebatas ungkapan kekecewaan saja. Pesannya, bisa saja, agar jangan ada lagi tubuh-tubuh lain yang hancur, rusak, hangus karena ideologi, kekuasaan dan dogma nasionalisme. Inilah gugatan paling keras atas kegagalan bernegara.

Nation state produk modernitas ini, harus segera direkonstruksi. Nasionalisme adalah agama modern yang kelakuannya sama dengan agama-agama yang dipahami secara sempit. Semua itu sering tidak menciptakan kebahagian, malah hanya menciptakan kehancuran, permusuhan, kematian dan kebinasaan. Negara, jangan pernah jadi agama, dan agama jangan pernah jadi negara. Negara harus segera berhenti meminta korban, dan agama kembalilah ke asalnya, sebagai kritik atas ketidakadilan.

Selasa, 13 Desember 2011

Senin, 07 November 2011

Jejak-jejak Makna Kehidupan

|0 komentar

Kasih yang Menghidupkan

Suatu hari di Jepang:

Seorang tukang sedang merenovasi sebuah rumah. Si tukang itu mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Si tukang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Tukang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu. Dalam hati ia bertanya apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan hidup selama 10 tahun itu? Sesuatu yang tak terduga ia saksikan. Tak tahu dari mana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya. Melihat hal tersebut, si tukang itu merasa takjub. Ternyata kadal yang terperangkap mendapat perhatian dan bantuan makanan dari seekor kadal lain.

Kadal yang lain itu, ternyata telah menunjukkan kasihnya yang tak terhingga dan tak pernah menyerah serta tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Sungguh sebuah inspirasi bagi kita manusia, betapa cinta dan kasih kepada sesama, mestinya adalah tanpa pamrih, sehingga menghidupkan.

Demikian sebuah kisah yang saya kutip dari situs http://kisah-ku.blogspot.com. Kata si penulis kisah ini, cerita ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.

Kisah tentang hubungan kasih dua kadal ini, seolah-olah mengoreksi cara hidup kita manusia yang semakin individualis dan konsumeris. Ketika kepentingan pribadi dan kelompok menjadi fokus hidup, maka penderitaan sesama manusia yang lain kadang harus diabaikan, bahkan banyak yang menyebabkan penderitaan. Kita memang masih sering saling menolong dan membantu orang lain, tapi kebanyakan di antaranya telah terjadi dalam sebuah hubungan dagang.

Memang, selain makhluk social, manusia adalah juga makhluk ekonomi. Kalau ingin bertahan hidup, maka manusia harus siap masuk ke dalam wilayah pasar yang kadang liar dan ganas. Itu fakta dalam kehidupan manusia modern. Tapi mestinya pada saat-saat tertentu, ketika kehidupan telah sangat terancam oleh kemiskinan dan ketidakadilan, panggilan kemanusiaan kita mestinya tak harus lagi memperdulikan soal untung rugi secara ekonomis untuk melakukan suatu kebaikan pada manusia di sekitar.

Kita memang tak bisa memungkiri kenyataan hidup ini telah dipenuhi dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politik. Tapi setidaknya, kasih dan cinta yang terkandung dalam nurani kita mestinya melampaui kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi itu. Sebab, manusia pada dasarnya ada dan berada dalam hubungan yang tak terpisahkan dari kehidupan sosialnya. Manusia tak akan dapat bertahan hidup bila tak bersosialisasi, yang di dalamnya terjadi sinergi: saling memberi dan saling menerima. Kasih dan cinta terhadap kehidupan, menjadi dasar hubungan-hubungan itu.

Kadalpun bisa tergerak nalurinya untuk membantu dan menolong sesamanya yang sedang dalam keadaan sulit, apa lagi kita manusia yang hidup bukan hanya karena naluri tapi juga akal pikiran. Kita manusia mestinya tetap berproses dalam suatu tujuan yang mulia, yaitu kehidupan.

Hidup manusia, sejatinya tidak hanya untuk dirinya sendiri. Kita rajin bekerja, tentu tidak pertama-tama adalah untuk kekayaan kita sendiri. Selain memang adalah untuk melanjutkan proses hidup pribadi, tapi, dari proses gerak yang sementara kita kerjakan mestinya akan menjadi cahaya dan pengerak peradaban. Seorang pemulung sampah pun, dari kerjanya seperti itu, sadar atau tidak, sebenarnya sedang melakukan sesuatu untuk proses keberlanjutan hidup banyak orang. Bayangkan, kalau tidak ada orang yang memilih menjadi pemulung, seperti apa keadaan sampah kita? Sampah yang bertumpuk terus menerus, tanpa dikurangi dengan kerja pemulung tentu akan membawa dampak bagi lingkungan dan kerja pembangunan negara. Seorang pemulung, dari kerjanya, sebenarnya sedang dalam usaha memberi suatu bagi peradaban, yaitu demi keberlanjutan kehidupan banyak orang. Ini suatu contoh kepada kita betapa hidup ini sejatinya adalah untuk semua, untuk keberlangsungan kehidupan dunia ini.

Kasih sesungguhnya tak pernah berharap imbalan dan menembus batas-batas perbedaan. Kasih yang menghidupkan laksana lilin yang siap mengorbankan dirinya demi seberkas cahaya dalam kegelapan. Ketika semua di sekitar kita seolah-olah telah kesetanan berlomba untuk kekayaan dan kekuasaan diri sendiri, kasih sekecil apapun dari kita bisa memberi cahaya pengharapan bagi manusia-manusia yang menderita karena struktur yang tidak adil dan kerakusan sekelompok orang mengejar harta kekayaannya sendiri. Kasih yang sejati sesungguhnya menghidupkan dan membangkitkan gairah hidup. Tanpa kasih dunia pasti sudah lama hancur!

Rabu, 17 Agustus 2011

Rakyat Tanpa Negara

|0 komentar

Oleh: Denni Pinontoan (catatan ini pernah dimuat di Harian Media Sulut)

Pagi itu, bersama Greenhill Weol, saya hadir di Pasific TV. Kami diundang oleh tv lokal itu untuk tampil di dialog pagi. Kami bicara soal "Pancasila dan Keberagaman Budaya." Topik yang usang. Sudah banyak seminar dan orang yang bicara soal itu. Tulisan esai, makalah ataupun buku yang menyinggung soal itu juga sudah banyak. Tapi, menurut saya topik ini menjadi penting lagi ketika tampak gejala seolah-olah Pancasila mau dijadikan lagi sebaga ideologi tunggal, seperti pada massa orde baru. .

Tapi kali ini saya tidak akan menulis soal dialog itu. Meski yang akan saya tulis ini mungkin memiliki hubungan dengan kontradiksi seputar idealisme Pancasila dengan realitas.

Ceritanya begini: Habis dialog itu saya dan Green pulang ke Tomohon. Lewat di SPBU Winangun tampak antrian mobil memanjang untuk mengisi BBM. Sebuah pemandangan yang semakin biasa di daerah ini. Motor Green haus. Harus segera diisi BBM. Karena SPBU tadi banyak kendaraan antri, kami tidak singgah di SPBU itu. Sekira beberapa menit dari situ ada sebuah kios yang menjual bensin. Botol-botol coca-cola 1 liter dipajang. Isinya bensin. Kami singgah di situ. Di sebelah kios bensin itu ada warung makan. Saya menjadi lapar melihat RW yang dipajang. Kamipun singgah di warung makan itu. Saya pesan nasi RW. Tapi Green lebih suka menyantap daging ayam yang disantan.

Pemilik warung makan itu adalah seorang bapak dan ibu, yang kalau ditaksir usianya sekitar 50-an tahun. Sementara pemilik kios bensin agaknya anak mereka. Menu makanannya lumayan enak. Meski tidak terlalu rapih dan bersih bagian dalam warungnya. Sesekali kami harus mengusir lalat yang tidak sopan mau makan bersama. Bensin yang dijual di kios bensin itu, menurut penjualnya diambil dari SPBU.

Beginilah kehidupan rakyat dari negara yang disebut berdasarkan Pancasila ini. Kalau ditanya mungkin mereka tidak hafal 5 sila Pancasila itu. Tapi, untuk mencapai visi hidup sejahtera tampak mereka lakukan secara serius. Mungkin juga mereka tak hafal ayat-ayat kitab suci yang diajarkan oleh agama mereka. Jelas, banyak orang melakukan kerja adalah untuk hidup.

Pun, kisruh elit-elite politik gencar ditayangkan setiap hari oleh media, rakyat yang bekerja itu tidak ambil pusing. Petani tetap bertani. Nelayan tetap melaut. Para buruh tetap memproduksi. Para pedagang tetap menggelar dagangannya untuk dijual. Ini sebenarnya sebuah realitas bahwa rakyat yang paling banyak tidak bergantung pada negara. Jadi, apa fungsi negara?

Saya tidak mau bicara fungsi negara. Sebab itu terlalu abstrak. Mungkin yang menarik ditegaskan bahwa rakyat adalah kenyataan yang tidak boleh dianggap hanya sebagai lampiran dalam sebuah proses membangun. Pemerintah mestinya tidak meminggirkan para nelayan yang melaut di pantai manado hanya demi alasan pembangunan mall untuk PAD. Tidak perlu juga mengorbankan petani cap tikus demi program stabilitas. Dan kebijakan lain yang tidak berpihak pada rakyat hanya karena ambisi membangun secara kuantitas.

Pemerintah yang adil bukan terutama alasan idealisme ideologi apapaun, termasuk Pancasila. Bukan juga karena pemimpinnya berpura-pura baik hati. Tapi karena membangun secara adil dan menempatkan rakyat sebagai subjek adalah kewajiban pemerintah. Hidup sejahtera adalah hak rakyat. Jika kebijakan pemerintah hanya untuk menguntungkan pemodal; sekelompok orang dalam lingkaran kekuasaan; hanya untuk mempertahankan kekuasaan atau hanya sekadar membuai rakyat, maka mungkin pemerintah tidak diperlukan. Sebab, sehari-hari rakyat masih bisa makan tanpa bantuan ini dan itu, atau tanpa kebijakan apa saja. Justru, rakyat sering sulit hidupnya karena tanahnya dirampas oleh negara, politik minyak bikin susah atau kisruh korupsi dana pembangunan di level elit.

Bulan Agustus ini akan semakin gencar lagi pemerintah berwacana soal nasionalisme. Tanggal 17 Agustus akan datang Republik ini akan merayakan HUT Proklamasinya yang 66 tahun. Nantinya rakyat akan menyaksikan lagi seremonial kenegaraan yang kontras dengan korupsi yang kian menggila; perseteruan elit politik dan pembangunan yang meminggirkan rakyat. Nasionalisme semu akan mengusik keseharian rakyat yang sibuk dengan urusan hidupnya.

Namun, setidaknya bulan ini adalah juga bulan Ramadhan bagi umat Islam. Ibadah puasa kembali mengingatkan para elit negara soal makna menjadi manusia yang tidak serakah. Tapi, apakah mereka akan memaknai itu dalam kekuasaannya? Lihat, dengar dan rasakan saja.

Nazar Pulang

|0 komentar

Oleh: Denni Pinontoan (catatan ini pernah dimuat di Harian Media Sulut)

Perhatian publik beberapa bulan terakhir ini tersedot pada nama Muhammad Nazaruddin, atau kita sebut saja Nazar. Dia disebut-sebut sebagai orang yang tahu banyak soal korupsi di lingkaran kekuasaan di Jakarta.

Dari pangkalan ojek sampai restoran mahal, nama Nazar dikenal. Dan sudah tentu orang-orang yang pernah disebutnya. Nama Nazar cepat menjadi terkenal. Nazar mahal. Butuh dana 4,3 miliar untuk memulangkan dia dari Kolombia pada Sabtu, 13 Agustus. Apakah biaya mahal itu semahal 'kicauannya' nanti? Entahlah. Sebab, Nazar pulang bawa "tas hitam". Dia pulang bawa misteri.

Satu yang jelas, banyak pihak yang berkepentingan dengan Nazar. Partai Demokrat, KPK dan terutama nama-nama yang pernah dia sebut. Namun, apa kepentingan rakyat dengan Nazar?

Sesungguhnya ini pertarungan elit. Coba saja jika Nazar bukan bendahara umum Partai Demokrat, partai berkuasa, dan partainya SBY. Atau jika dia tidak pernah menyebut beberapa nama top. Pasti saja namanya tak setenar ini. Nazar sebenarnya tidak mahal. Dia bukan politisi senior.

Nama Nazar menjadi tenar menyusul terungkapnya kasus suap Wisma Atlit. Sejumlah nama politisi beken disebut-sebut terkait dengan kasus ini.

Usia Nazar masih muda. Pada 26 Agustus 2011 ini usianya genap 33 tahun. Dia lahir di Bangun, Sumatera Utara.

Nazar sempat "berkicau" soal keterlibatan Partai Demokrat dengan proyek pembangunan pusat olahraga Hambalang di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Menurut Nazar, fee dari proyek sebesar Rp 1,2 triliun itu, diigunakan untuk dana politik dalam Kongres Partai Demokrat. "Kicauan" itu agaknya tidak merdu di telinga Anas Urbaningrum, Ketua Umum Partai Demokrat. Anas marah besar. Dia merasa Nazar telah mencemarkan nama baiknya. Padahal, konon Anas dan Nazar sudah berteman sejak 2007.

Publik masih ingat betul, ketika dia menghilang mulai 23 Mei lalu. Hari itu adalah juga hari pencopotannya sebagai Bendahara Umum Partai Demokrat. Keterangan dari para petinggi Partai Demokrat, bahwa Nazar ke Singapura untuk berobat, bukan lari. "Nazaruddin pulang setelah selesai menjalani pengobatan di Singapura," ujar Anas saat menggelar jumpa pers 6 Juni lalu.

SBY, sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, pada 22 Juli lalu, mengatakan senang jika Nazar kembali ke Tanah Air. Waktu itu Nazar disebut-disebut masih di Singapura. Kata SBY, dia sangat berharap Nazar memberikan informasi selengkap-lengkapnya. "Kembalilah Nazaruddin ke Indonesia, ke Tanah Air, kembalilah," kata SBY.

Media memberitakan Nazar. Publik dibuat berharap akan terjadi pengungkapan kebenaran. Namun, jika semua kebusukan yang disimpan Nazar akan mengungkap sumber bau busuknya, apakah rakyat otomatis sejahtera? Apakah tidak akan terjadi lagi penggusuran? Apakah tidak akan terjadi lagi pelanggaran HAM di Papua? Apakah rakyat akan benar-benar merdeka? Hmmm, rasanya tidak. Seperti reformasi, yang dulunya ideal bagi rakyat, tapi ternyata tidak.

Kini, Nazar telah pulang. Dia ternyata tidak lagi di Singapura untuk berobat. Dia sudah terbang jauh ke Kolombia sampai ditangkap oleh polisi negara itu. Dia bawa tas hitam yang misterius. Apakah benar kepergiannya ke Singapura untuk berobat, benar-benar karena dia sakit bukan lari atau dilarikan? Jangan-jangan ini hanya sandiwara.

Muhammad Nazaruddin, bisa saja memang benar, bahwa dia menyimpan rahasia kebobrokan para elit penguasa negeri ini. Apakah, kepulangannya ini - yang mahal itu - akan melahirkan perubahan mendasar dalam sistem politik republik yang pada 17 Agustus ini akan berusia 66 tahun? Saya masih ragu. Sebab, ini adalah masalah pertarungan elit politik yang tidak memiliki korelasi dengan kehidupan rakyat yang susah. Sistem yang korup akan menghasilkan proses hukum yang korup pula. Nazar adalah juga komoditi politik para pembesar negara ini.

Di saat hampir selesai menulis catatan ini, pesan masuk di BBM saya. Teman Latief dari Makassar mengirim pesan begini, "Kita bersyukur karena nazar telah tertangkap..ini membuktikan bahwa kalau polisi serius, ke ujung dunia pun koruptor pasti tertangkap...tapi mengapa buron lain seperti nunung masih bebas berkeliaran? Apa karena tidak membahayakan sby,anas dan partainya?" Ehmm.

Jumat, 29 Juli 2011

Membaca Indonesia dari Nagari Djogja

|0 komentar
Oleh: Denni H.R. Pinontoan

Catatan ini bagian dari perjalanan saya di Yogyakarta dalam rangka mengikuti program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” yang bertajuk “The Role of Christian Higher Education in Interrelious Peacebulding”. Cerita perjalanan lainnya telah saya tulis dengan judul “Ziarah Damai di Nagari Djogja”.

KOTA Yogyakarta adalah Ibu Kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kota ini adalah salah satu kota besar di Pulau Jawa. Di kota inipula tempat kedudukan Sultan Yogyakarta dan Adipati Pakualam. Salah satu wilayahnya, yaitu Kotagede pernah menjadi pusat Kesultanan Mataram antara 1575-1640. Keraton (Istana) yang masih berfungsi dalam arti yang sesungguhnya adalah Karaton Ngayogyakarta dan Puro Pakualaman, yang merupakan pecahan dari Mataram.

Cikal bakal Provinsi DIY adalah Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Pakualam. Sejak zaman VOC, daerah itu telah memiliki status sebagai “Kerajaan vasal/Negara bagian/Dependent state”. Belanda menyebut status ini sebagai Zelfbestuurende Lanschappen. Jepang menyebutnya Koti/Kooti. Di masa Indonesia, oleh Soekarno, sebagai presiden pertama RI, Yogyakarta ditetapkan sebagai daerah yang diistimewakan, bukan lagi sebagai sebuah negara berdiri sendiri.

Senin pagi, menuju ke kampus UKDW, kami menyusuri jalan Prof. H. Yohannes. Nama jalan ini diambil dari nama mantan rektor UGM, Prof. Ir. Herman Johannes. Dia mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta periode tahun 1961–1966.

Jalan Prof. H. Yohannes pagi itu ramai. Becak lalu-lalang menyusuri sisi kanan dan kiri jalan. Sepeda motor dan mobil beragam merk bergerak cepat, mengancam pejalan kaki dan becak di jalanan. Di perampatan lampu merah, arah ke Jl. Sudirman, berdiri Rumah Sakit Bethesda. Rumah sakit milik Gereja Kristen Jawa Tengah dan Gereja Kristen Jawa ini resmi berdiri pada 20 Mei 1899. Pendirinya Dr. J. Gerrit Scheurer. Awalnya rumah sakit ini bernama Petronella Zienkenhuis. Masyarakat setempat menyebutnya RS Toeloeng/Pitulungan. Nama ini muncul sesuai dengan semangatnya yaitu menolong atau melayani dengan tidak memandang latar belakang pasien.

Di era Jepang (1942-1945) namanya diganti dengan Yogyakarta Tjuo Bjoin. Setelah Indonesia, rumah sakit ini dikenal sebagai rumah sakit pusat. Untuk mempertegas warna kekristenannya, pada tanggal 28 Juni 1950 namanya dirubah menjadi Rumah Sakit Bethesda.

Sekira 500 meter dari lampu merah itu berdiri megah gedung Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). ”Duta Wacana” berarti ”utusan firman”. Universitas ini berawal dari Fakultas Theologia yang dikembangkan dari Sekolah Guru Injil pada tahun 1906. Sekolah ini pertama-tama berkembang menjadi Akademi Theologia Yogyakarta (ATY). Ketika pendidikan Theologia Balewiyoto, Malang bergabung pada tahun 1962, ATY menjadi Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana (S.T.Th. Duta Wacana). Pada 31 Oktober 1985 S.T.Th. Duta Wacana dikembangkan menjadi universitas. Fakultas Theologia menjadi salah satu fakultas dalam Universitas Kristen Duta Wacana.

Gedung UKDW tiga lantai, yang memanjang dari utara ke selatan. Setiap kira-kira lima belas menit pesawat-pesawat milik Lion Air, Garuda, Air Asia, Batavia Air dan Sriwiyaja Air melintas di atasnya. Bunyi mesin pesawat menderu. Bandara Adisutjipto terletak kira-kira 3-4 km dari kampus ini.

Ke Yogyakarta, kalo blum ke Malioboro, orang bilang sama deng blum ke Djogja. Suatu malam saya dan beberapa teman ke sana. Seperti yang saya dengar, kawasan ini memang ramai. Di sepanjang jalan itu, andong, kendaraan tradisional Yogyakarta yang ditarik oleh kuda berbaris rapih menunggu penumpang. Emperen toko dipadati dengan pedagang kaki lima. Mereka menjual kaos oblong bermerek ”dagadu”. Motifnya bergambar orang memakai pakaian khas Jawa. Atau tulisan-tulisan dengan berbagai variasi tentang Djogja. Ada blankon. Ada sendal berwarna-warni. Kemeja batik. Daster batik. Di sisinya yang lain warung-warung berjejer menjual soto ayam, nasi uduk, pecel lele, sate ayam.

WAKTU menuju ke Malioboro, dari dalam taxi, saya melihat beberapa spanduk yang terpampang di sejumlah perempatan. Spanduk yang menarik perhatian saya itu bertuliskan ”Bergabung tak berarti Melebur.”

”Apa artinya itu, mas?” Saya bertanya kepada Mas Udin, kusir andong yang mengantar saya mengelilingi alun-alun keraton.

”Mas, itu khan waktu pemerintah mau rubah Jogja. Lha, wong orang-orang sini gak mau. Sultan itu junjugan kami,” balas mas Udin.

Mas Udin, waktu itu memakai blankon. Tampak sekali ke-djogja-annya. Bicaranya medok Jawa. Dia cerita tentang kedatangan Presiden SBY ke Yogyakarta waktu lalu. ”Wah, waktu SBY dateng, rakyat pada menyorakin dia. Huuuuuu...,” ujar Mas Udin.

Rakyat Yogyakarta bereaksi atas Rancangan Undang-undangan Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat di senayan, mulai akhir tahun lalu. Intinya, gubernur dan wakil gubernur DIY akan melalui pemilihan secara langsung oleh rakyat, bukan penetapan. Sontak hal tersebut memunculkan reaksi dari rakyat Yogyakarta.

Drs Sudomo Sunaryo, mantan Asekwilda I Provinsi DIY menulis di harian Kedaulatan Rakyat. Dia menjelaskan posisi Yogyakarta dalam NKRI. ”Pertama, sejarah hubungan Yogya dengan RI adalah penggabungan dua entitas politis, karena baik RI maupun Yogya sebenarnya merupakan negara-negara tersendiri,” tulis Sunaryo.

Sunaryo menulis, Nagari Yogya bersifat monarki. Ia terdiri dari dua kerajaan Jawa, yaitu Kasultanan dan Pakualaman, yang sebelum Indonesia merdeka telah melakukan reunifikasi. ”Jauh sebelum RI merdeka, Kasultanan dan Pakualaman Yogya telah mempunyai dasar hukum atau koninklijke besluit dari Ratu Negeri Belanda Wilhelmina sebagai daerah yang berdaulat sehingga secara internasional kedudukannya sama dengan sebuah negara merdeka!” tulisnya.

Bagi Sunaryo, penggabungan Yogyakarta ke republik Indonesia tidak sama dengan penaklukkan diri atau penyerahan kedaulatan. Bahkan, menurut dia saat itu Yogyakarta dimungkinkan untuk merdeka sendiri karena sudah memiliki syarat untuk menjadi sebuah negara yaitu, ada pemerintahan, wilayah, penduduk (rakyat), dan pengakuan internasional.

”Bahkan Belanda menawarkan Sultan HB IX menjadi super wali nagari atas Jawa dan Madura. Keputusan bergabung dilakukan oleh penguasa Nagari Yogya (Sultan HB IX dan Paku alam VIII) karena jiwa kenegarawanan dan visi keindonesiaan mereka,” tulis Sunaryo.

Maret 2011 terbit buku berjudul ” Monarki Yogya, Inkonstitusional?” Pengarannya adalah para kolumnis dan wartawan Kompas. M Abdurrahman, Pegiat Komunitas Rindu Alas IAIN Walisongo Semarang, Juli lalu, menulis resensi buku itu di news.okezone.com.

Menurut Abdurrahman, buku ini memberi tiga alasan mengapa RUU DIY banyak ditolak oleh masyarakat Yogyakarta. Ketiga argumentasi tersebut meliputi: sejarah Keraton Yogyakarta terhadap kemerdekaan RI, yuridis ketatanegaraan, dan kebudayaan. ”Pada saat Indonesia merdeka, posisi Keraton Yogyakarta masih sebagai kerajaan yang merdeka dan belum bergabung dengan NKRI,” tulisnya/

Secara yuridis ketatanegaraan, keistimewaan Yogyakarta telah diakui oleh Undang-Undang No 3 tahun 1950 tentang pembentukan kepala daerah dan predikat keistimewaannya. Salah unsur keistimewaan Yogyakarta adalah kebudayaan. Keraton Yogyakarta memiliki simbol kebudayaan Jawa yang sampai saat ini masih tetap dilestarikan.

Kebudayaan unik yang terdapat di Keraton Yogyakarta diantaranya ada buku kuno, serat, babad, dan tembang yang masih tersimpan di sana. Di sana juga mengoleksi jenis tari-tarian, seperti tari bebaya, sirimpi, golek, dan maeso lawenga. ”Kekhasan pemerintah di Yogyakarta adalah kerajaan,” tulis Abdurrahman.

Sedangkan rakyat Yogyakarta yang berada dekat pusat kekuasaan RI di Jakarta bermasalah dengan dominasi pemerintah pusat, apalagi rakyat yang berada di daerah-daerah luar Jawa. Suatu pagi di sebuah pondok kecil Wisma MM UGM, saya bertemu dengan Aan dan Joni Asmosyah, pegawai negeri sipil di kantor Sekretaris Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mereka datang ke Yogyakarta untuk mengikuti sebuah kegiatan yang membahas wilayah-wilayah perbatasan.

”Orang-orang di Kaltim kalau menjual pisang ke Malaysia harganya bisa capai Rp. 15.000 tapi di Kaltim sendiri mungkin harganya hanya Rp. 5.000,” ujar Aan.

Dua orang abdi negara ini berharap pemerintah pusat memberi perhatian pada daerah. Menurut Joni, mungkin karena wilayah Pemerintahan Indonesia terlalu luas maka perhatian ke daerah dari pemerintah pusat tidak terlalu baik. ”Daerah susah berkembang karena semua diatur oleh pemerintah pusat.”

Ketika hendak ke beberapa tempat religi di Yogyakarta dan sekitarnya, saya menulis di status akun Facebook, ” Hari ini ke Ponpes Pabelan, vihara Mendut dan gereja katolik Ganjuran. Belajar sambilan pesiar.. Sbantar malam acara ’Malioboro Nigth’...dapa rasa sekali katu depe Jogja...he..he..”

Ini kali pertama saya ke Kota Djogja. Jadi, dapa rasa sekali depe ke-jogja-an. Begitu orang Minahasa dalam bahasa Melayu Manado ketika menyebut sesuatu yang dirasa khas. Apa lagi ketika di Malioboro, berkeliling di alun-alun keraton, mendengar orang berbicara dalam bahasa Jawa dengan dialek yang medok, melihat para laki-lakinya yang memakai blankon di kepalanya, para perempuannya yang berkebaya batik, naik andong, termasuk ketika melihat spanduk-spanduk bertuliskan, ” Bergabung Tak Berarti Melebur” itu.

”Kalu datang di tomohon, apa dorg dapa rasa sama deng Denni rasa di Yogya? hehehe...” Augustien Kaunang, dekan Fakultas Teologi UKI Tomohon berkomentar membalas status facebook-ku.

Saya balas komentar tersebut,”So musti usul Daerah Istimewa Tomohon supaya depe rasa Tomohon memang muncul. He..he...di sini depe tata kota bagus ada cita rasa kultur jogja. Tomohon pe ’ketombuluan’ musti hidupkan, bukan bangun mall atau tanam merry gold...he..he...”

Saya membandingkan Djogja dengan Kota Tomohon, tempat saya tinggal, sebuah kota kecil di kaki gunung Lokon yang beberapa hari meletus itu. Kultur Jawa yang masih kuat, mungkin antara lain sehingga rakyat Djogja sadar betul keistimewaan Yogyakarta.

”Coba trg lia Toraja jadi tujuan wisata karna dapa rasa tu toraja kalu pi sana. Yogya, Toraja, Bali sama dapa rasa di sana,” Kaunang kembali berkomentar.

”Berharap dr pemerintah untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Minahasa untuk menjadi objek wisata, agak sulit. Daerah2 itu, pemerintahnya sadar betul soal potensi budaya untuk pariwisata,” demikian komentar balasan saya.

Yogyakarta adalah kota pariwisata. Banyak objek wisata budaya di sana. Saya bersama-sama peserta program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” sempat berkunjung ke Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran, Bantul. Bantul adalah salah satu kabupaten yang masuk wilayah pemerintahan Provinsi DIY.

Di samping gedung gereja Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran ada sebuah candi kristiani. Namanya Candi Hati Kudus Yesus Tuhan Ganjuran. Candi ini menjadi tempat ziarah dari warga yang datang dari beragam agama. Mereka ke candi ini untuk sembayang dan memohon berkat. Candinya khas candi Hindu-Jawa. Tapi di dalam candi ada pahatan Yesus yang memakai baju khas bangsawan Jawa.

”Berka dalem,” ujar Fransiskus Xaverius Sujud wakil ketua II Paroki Gunjaran menyambut kami.

Para hadirin diminta menjawab dengan ”berkah dalem”.

”Berka dalem,” kami serempak membalas.

Mungkin arti salam itu seperti tabea yang sering orang Minahasa ucap. Atau juga seperti ”syalom” bagi orang Yahudi. ”Wassalam” bagi orang Arab. Mendengar salam itu ke-jawa-annya langsung terasa.

Gedung gereja dibuat terbuka dengan beberapa tiang yang berdiri kokoh. Dominan berwarna hijau, yang melambangkan kesuburan. Langit-langitnya dihiasi dengan relief bermotif tumpang sari, sejenis tumbuhan yang merambat. Relief ini melambangkan prinsip saling mengikat dan berkasih-kasihan. Di depan atas altar ada burung pelikan yang menjaga anak-anaknya. Ini, menyimbolkan seorang ibu yang setia menjaga anak-anaknya. Atap gedung gereja ini lazimnya rumah Joglo Jawa.

Ketika berada di gedung gereja ini terasa sekali Jawanya. Pada altar utama ada mimbar, meja untuk pastor, dan tabernakel dengan dengan pahatan Yesus tersalib. Di bagian kanan dan kirinya ada dua malaikat memakai mahkota pembesar kerajaan Jawa duduk bersimpuh. Ada juga sebuah payung kebesaran kerajaan di bagian kirinya. Ia dilengkapi sebuah lentera bergaya keraton Jawa.

Pada dinding gereja terpajang lukisan batik tulis yang menceritakan kisah kesengsaraan Yesus. Pada sisi kanan altar utama, duduk arca Yesus mengenakan pakaian kebesaran Raja Jawa. Di sisi lainnya, ada patung Yesus kecil dalam pelukan Maria. Si ibu Yesus itu memakai pakaian adat Jawa.

”Semua ini adalah simbol-simbol khas Jawa, yang dipakai sebagai media untuk inkulturasi teologi. Kami berusaha menjadikan gereja kami sebagai gereja Kristen Jawa,” tambah Sujud.

Waktu gempa bumi tahun 2006, gedung gereja Hati Kudus Yesus Tuhan yang lama roboh. Waktu itu sedang acara misa pagi. Ada kira-kira enam orang umat yang meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan gereja yang roboh akibat gempa. Gedung gereja yang waktu itu sudah berusia 62 tahun pun ikut roboh. Gedung gereja yang sekarang mulai dibangun 22 Juni 2008.

Gedung gereja tua yang roboh itu dibangun tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara asal Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Smutzer bersaudara adalah pengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro sejak tahun 1912. Mereka menganut agama Katolik. Dalam mengelolah pabrik gula itu mereka menerapkan ajaran sosial gereja yang disebut rerum novarum. Ajaran ini dimulai Paus Leo XIII pada tahun 1891 yang mengatur prinsip hubungan majikan dan buruh sebagai mitra kerja, bukan atasan dan bawahan.

”Dalam menerapkan ajaran itu, Smutzer bersaudara menetapkan kebijakan, bahwa selain mendapat upah, buruh juga mendapatkan pembagian keuntungan yang adil,” ujar Sujud.

Perancang bangunan gereja ini adalah seorang arsitek berkebangsaan Belanda bernama J. Yh van Oyen. Pemberkatan gereja dilakukan oleh Vicaris Apostolik Batavia Mgr. JM van Velsen pada 20 Agustus 1924. Tiga tahun kemudian yakni pada 1927, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan sebuah candi yang dinamai Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Tahun 1948, pabrik gula dibumihanguskan menyusul terjadinya Agresi Militer Belanda ke II, namun Gereja Ganjuran, Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, sekolah-sekolah, dan rumah sakit dibiarkan tetap berdiri.

Orang-orang yang datang dari latar belakang agama yang berbeda banyak yang datang berziarah ke Candi Hati Kudus Yesus Tuhan. Orang beragama Islam, Budha, Hindu yang datang dari berbagai wilayah di Jawa datang berziarah ke candi.

”Dalam bahasa Jawa, kata ’ziarah’ diambil dari kata ’siji’ yang berarti ’satu’ dan ’arah’ berarti ’tujuan’”. Jadi, ’ziarah’ berarti ’satu tujuan’,” ujar Sujud.

”Satu tujuan, yaitu hidup damai.”

Hidup damai, adalah harapan semua. Tapi, melebur dalam satu kesatuan politis yang terpusat, agaknya tidak. Rakyat Nagari Djogja menolak dominasi itu dengan berteriak, ”Bergabung tak berarti Melebur!”

Senin, 25 Juli 2011

Ziarah Damai di Nagari Djogja

|0 komentar
(Catatan Perjalanan Seminggu di Djogja)

Oleh: Denni H.R. Pinontoan

Terminal Bandar udara Adisutjipto, Yogyakarta, sore itu agak lengang. Pesawat Boeing 737 milik maskapai Lion Air baru saja mendarat dengan mulus. Saya salah satu dari ratusan penumpang pesawat itu. Keluar dari pesawat penumpang melewati sebuah ruangan untuk mengambil bagasinya. Di bagian kiri ruangan itu seorang perempuan muda menggunakan kebaya batik berwarna coklat dengan motif daun serasi dengan blus putih yang dipakainya. Dia sedang tekun membantik.

Perempuan muda itu duduk di dingklik. Dengan lincah dia memainkan canting di kain mori putih yang terbentang di gawangan. Uap mengepul dari sebuah wajan. Kompor yang digunakan tak lagi anglo yang terbuat dari tanah liat, melainkan kompor listrik. Di pahanya ada taplak putih. Tekun sekali dia membatik. Para penumpang yang baru turun dari pesawat, sebelum mengambil bagasi, banyak yang menyempatkan diri untuk memperhatikan si perempuan muda yang sedang membatik itu. Saya, salah satu yang ikut memperhatikan dia. Terasa sekali ”ke-jogja-an” kala itu.

Minggu 17 Juli 2011, saya berkesempatan ke Yogyakarta untuk mengikuti program ”Interreligious Understanding and Peacebulding Initiatives (IUPI)” yang bertajuk “The Role of Christian Higher Education in Interrelious Peacebulding”. Program ini dilaksanakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta bekerjasama dengan Board United.

Kegiatan ini berlangsung dari Senin 18 sampai Jumat 22 Juli 2011 dan dipusatkan di kampus UKDW. Pesertanya datang dari puluhan perguruan tinggi Kristen senusantara. Selama hampir seminggu kami menginap di Wisma MM UGM. Kegiatan ini membahas pentingnya keterlibatan perguruan tinggi Kristen dalam membangun budaya damai.

”Pendidikan agama kita menerapkan model apartheid,” kata Pdt. Tabita Kartika Christiani, P.hD, ahli pendidikan Kristen dari UKDW. ”Ternyata apartheid itu tidak hanya di Afrika, tapi juga di sini.”

Pdt. Tabita mengatakan itu terkait dengan kritiknya terhadap fenomena pembelajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah. ”Pelajaran agama memisahkan para murid di sekolah. Misalnya, mata pelajaran agama Islam, yang ada di kelas tentu hanyalah para murid beragama Islam. Sebaliknya, mata pelajaran agama Kristen, hanya murid beragama Kristenlah yang mengikutinya,” katanya.

Hadir di ruangan seminar Pdt. Harun Hadiwijono UKDW itu adalah dosen-dosen dari berbagai perguruan tinggi Kristen senusantara. Pdt. Tabita bicara di hadapan mereka mengenai pentingnya pendidikan agama yang berwawasan perdamaian di sekolah-sekolah.

Pendidikan berwawasan peace building, dirasa semakin penting untuk menjadi semangat bagi paradigma, sistem dan kurikulum di perguruan tinggi-perguruan tinggi. Konflik antar agama dan etnis yang terjadi, setidaknya pasca reformasi, akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000 sampai kini adalah alasan penting untuk menjadi perhatian terkait dengan semangat peace building itu.

Menurut Pdt. Dr. Judowibowo Poerwowidagdo, di Indonesia yang berkonflik itu sebenarnya bukan agama, melainkan antar umat beragama. Konflik-konflik di Indonesia, menurut rektor UKDW pertama ini, antara lain disebabkan oleh pembagian kekuasaan yang tidak adil dan dalam konteks keagamaan penyebabnya adalah perbedaan nilai dan ideologi. ”Bukan agama sebenarnya yang berkonflik. Sebab, pada dasarnya semua agama mengajarkan perdamaian.”

Selain berdiskusi di kelas, kami juga mengunjungi beberapa tempat religi di sekitar Kota Djogja. Yaitu Ponpes Pabelan di Muntilan dan Vihara Mendut di Desa Mendut, Magelang, Jawa Tengah. Saya juga berkesempatan jalan-jalan ke Malioboro, sebuah nama jalan yang tersohor itu.

Menuju ke Ponpes Pabelan, kami melewati sebuah dusun di kec. Muntilan, Kab. Magelang, Jateng. Di dusun itu tampak sisa-sisa terjangan lahar dingin letusan Merapi. Ada beberapa bangunan roboh. Batu-batu besar terserak. Pasir vulkanik Merapi masih kentara, seperti letusannya baru beberapa minggu lalu.

Waktu merapi meletus November 2010 lalu Muntilan kena imbasnya. Hujan abu vulkanik Merapi membuat wilayah Muntilan hampir lumpuh. Jalan raya Muntilan berjarak kira-kira 20 kilometer dari puncak Merapi. Waktu Merapi meletus, listrik mati total. Muntilan mencekam kala itu. ”Abu ini adalah hadiah dari Merapi,” ujar pimpinan Ponpes Pabela, KH. Nadjib berseloroh.

Hari sudah siang ketika kami tiba di Ponpes Pabelan. Suasananya agak lenggang. Para santrinya sibuk belajar di kelas. Ketika bus yang kami tumpangi berhenti, mata saya lansung tertuju pada sebuah kalimat yang ditulis di papan berwarna kuning. Papan itu menempel dinding salah satu gedung di ponpes itu. ”Janganlah Berdoa agar hidup ini menjadi ringan. Tapi, berdoalah kau jadi orang yang tahan banting.” Demikian bunyi kalimat itu. Di samping kalimat yang ditulis berwarna hitam itu ada gambar seorang duduk bersila, seperti menatap matahari yang akan tenggelam dari atas bukit.

Ada juga kalimat yang menarik perhatian kami. Kalimat itu hanya ditulis di sebuah kertas yang ditempel menggunakan lakban. Sekilas kertas itu seolah tidak bermakna. Tapi kalimat itu sebenarnya menarik. ”Pikiran kita ibarat parasut, hanya berfungsi ketika terbuka.” Memang, ponpes ini disebut-sebut terbuka.

Ponpes ini sebetulnya berbentuk balai pendidikan. Ia berada di bawah naungan Yayasan Wakaf Pondok Pabelan. Resmi sebagai Balai Pendidikan Ponpes sejak 28 Agustus 1965. Pendirinya K.H. Hamam Dja'far. Sekarang jumlah santrinya sekitar 600-an. Seimbang laki-laki dan perempuan.

K.H. Hamam Dja’far lahir di Desa Pabelan 26 Februari 1938. Ia adalah anak sulung dari dua putra pasangan Kiai Dja’far dan Nyai Hadijah. Hamam besar di bawah pengasuhan adik kakek pihak ibu, yaitu K.H. Kholil yang tinggal di sebelah selatan masjid pondok. Dalam keluarga Hamam mengalir darah ulama yang diturunkan oleh Kiai Haji Muhammad Ali bin Kiai Kertotaruno, pendiri Pondok Pabelan (sekitar tahun 1800-an). Kertotauno adalah salah satu ulama pengikut setia Pangeran Diponegoro. Menurut masyarakat setempat, Kiai Kertotaruno adalah keturunana Sunan Giri, salah satu wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Hamam pernah mondok di Ponpes Gontor. Dia tamat dari sana ketika berusia 25 tahun. Setamat di Gontor Hamam kembali ke kampung halamannya dan kemudian mendirikan Balai Pendidikan Pondok Pabelan pada 28 Agustus 1965. Dia penerima Aga Khan Award pada tahun 1980 untuk arsitektur dan Kalpataru untuk lingkungan hidup pada tahun 1982.

Ponpes ini lahir dari semangat Kiai Raden Muhammad Ali. Pada tahun 1800 ia memulai kegiatan mengaji di Pabelan. Tapi di tahun 1825-1830 terjadi Perang Jawa. Banyak ulama yang terlibat dalam perang itu. Sekitar 70 tahun kegiatan mengaji ini menghilang. Nanti pada tahun 1900-an Kiai Anwar dan Kyai Anshor melanjutkan kegiatan itu dalam bentuk pondok pesantren tradisional. Karena mungkin perang yang terus berkecamuk, ponpes ini mengalami kevakuman. Ia aktif lagi pada tahun 1965, oleh Hamam Dja'far. Kali ini tampilan dan isinya disesuaikan dengan kurikulum modern. Nama “Balai Pendidikan Pondok Pesantren Pabelan” berawal dari sini.

Nama “Pabelan” sendiri diambil dari nama desa di mana ponpes ini berdiri. ’Pabelan’ berarti ’membela’. ”Pabelan atau membela karena di sini dulu banyak warga dan ulama yang membela Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa,” ujar Dr. H. Mahfudz Masduki, wakil ketua pengurus Yayasan Wakaf Pondok Pesantren Pabelan.

Konon, di Pabelan, Kyai Modjo, ulama dan pejuang Perang Jawa yang dibuang ke Tondano, Minahasa pernah tinggal di sebuah kebun, mungkin bersembunyi dari Belanda waktu perang. ”Orang Pabelan menyebut tempat itu ’kebon Modjo’,” kata Masduki.

Di Ponpes ini berdiri sebuah mesjid tua yang dibangun tahun 1820. Mesjid ini masih kokoh. Tapi dia tidak bisa lagi menampung banyak umat untuk sembayang. Atap gentengnya bertingkat dua. Arsiteturnya khas rumah adat Jawa, Joglo. ”Sekarang sudah ditambah gedung baru karena mesjid tua tak lagi bisa menampung jemaah,” kata Masduki.

Ponpes ini, menurut cerita Kiai Najib sering didatangi oleh orang-orang dari berbagai latar belakang agama. Baik mereka sebagai tokoh masyarakat, intelektual, maupun mahasiswa untuk melakukan penelitian tentang Islam. Romo Mangun, semasa dia hidup sering ke datang ke sini. Pdt. Djaka Soetapa, intelektual yang mengkaji Islam dari UKDW juga sering ke ponpes ini. Di ponpes ini juga pernah tinggal pengajar bahasa Inggris dari luar negeri selama tiga tahun. ”Dia itu beragama Kristen. Tapi, tiga tahun tinggal di sini tidak mengubah agamanya. Dia tetap sebagai orang Kristen,” ujar Kiai Nadjib.

Kiai Nadjib bercerita. Pernah suatu waktu, ada orang yang datang mencari ayahnya di ponpes itu. Bertepatan Romo Mangun sedang ada di ponpes itu. Dia memakai peci dan sarung. ”Si orang yang mencari ayah saya mengira Romo Mangun adalah kiai yang dicarinya karena penampilannya seperti kiai betulan,” jelas Kiai Nadjib sambil tertawa.

Kurikulum Ponpes Pabelan mengikuti kurikulum Ponpes Gontor dan disesuaikan dengan kurikulum nasional. Para alumninya kini banyak yang menjadi intelektual, aktivis dan wiraswasta yang sukses. ”Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, MA, yang sekarang sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta adalah alumni Ponpes ini. Ada juga yang menjadi aktivis perempuan.”

Saya sempat mewawancarai salah satu santri pria. Namanya Irfan Zidni. Zidni berasal dari Pekalongan. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya yang perempuan sudah menikah, yang laki-laki bekerja. Zidni aktif di Organisasi Pondok Pelajar Pria (OPPP) urusan penerimaan tamu.

”Mengapa mondok di Ponpes ini”?

”Cari ilmu. Khan kita mencari ilmu tidak hanya di daerah sendiri”

”Kamu betah tinggal di sini?”

”Iya. Kayak rumah sendiri."

Menurut Zidni, waktu Merapi meletus semua santri dipulangkan. Ponpes mereka waktu itu dijadikan tempat untuk menampung pengungsi. ”Waktu itu kami harus dipulangkan. Sebab, listrik mati. Makan aja susah karena hujan debu,” Zidni mengenang kejadian beberapa bulan lalu.

Relasi antara santri laki-laki dan perempuan, seperti Ponpes pada umumnya sangat terbatas. Santri laki-laki dan perempuan dipisahkan. Ada banyak aturan yang tidak membolehkan para santri yang berbeda jenis kelamin ini berhubungan. Zidni sendiri punya sepupu perempuan yang mondok di ponpes itu. Tapi mereka nanti bisa bertemu kalau orang tua Zidni menitipkan uang. ”Ketemu dengan santri perempuan kalau ada perlunya.”

Saya memberanikan diri bertanya soal tatacara berjabatan tangan antara laki-laki dan perempuan. Menurut Zidni sesuai yang dia dapat dari pelajaran agama oleh para ustad, memang antara laki-laki dan perempuan tidak sembarangan dalam berhubungan. Pun itu hanya berjabatan tangan. ”Ya tidak boleh, karena bukan muhrim.”

Zidni bercerita, waktu SD di Pekalongan, sebelum masuk ke ponpes ini, dia punya teman beragama Kristen. Namanya, Teguh. Tapi begitu dia ke pindah belajar di ponpes Pabelan, temannya yang kristen itu juga ikut orang tuanya pindah kerja di luar Pekalongan. Teguh, kata Zidni adalah teman baiknya. Mereka akrab tapi tidak pernah bercerita mengenai agama masing-masing. ”Saya tidak pernah ketemu lagi dengan dia sejak saya masuk ke ponpes ini. Rindu sebenarnya,” kata Zidni.

Di sebelah barat Pebelan, sekira 4 km jaraknya ada Vihara Mendut. Vihara ini berdiri di dekat Candi Mendut. Ia terletak di desa Mendut, Kec. Mungkid, Kab. Magelang, Jateng. Vihara ini dahulunya adalah sebuah biara Katholik yang kemudian tanahnya dibagi-bagi kepada rakyat pada tahun 1950-an. Lalu tanah-tanah rakyat ini dibeli oleh sebuah yayasan Buddha dan di atasnya dibangun vihara.

Samping kiri bagian muka Vihara itu ada patung Buddha sedang tidur. Stupa candi diatur di samping kiri dan kanan jalan menuju ke bagian dalam Vihara. Bunga teratai ungu yang tengahnya kekuning-kuningan sedang mekar di kolam kecil bagian depan ketika masuk di vihara itu. Dalam vihara ini terdapat asrama, tempat ibadah, taman dan beberapa patung Buddha. Beberapa di antaranya adalah sumbangan dari Jepang. ”Patung Budha sedang tidur di depan itu asalnya dari Burma yang terbuat dari marmer,” ujar Bhikkhu Jotidhammo yang juga ketua Sangha Theravāda Indonesia.

Vihara ini berdiri karena banyak umat Buddha yang datang berkunjung ke candi Mendut untuk sembayang. Warga desa Mendut sendiri mayoritas beragama Islam. Sisanya beragama Katolik dan Kristen. Selain vihara, di desa ini berdiri masjid dan gereja. ”Hubungan antar umat budhha dengan umat beragama lain di sini baik. Tuh, para tukang kebun di vihara ini adalah orang-orang dari desa sini yang beragama Islam,” kata Bhikkhu Jotidhammo.

Inti ajaran agama Buddha, menurut Bhikkhu Jotidhammo adalah bagaimana mengantar manusia manuju ke pencerahan. Meditasi antara lain adalah cara mengendalikan nafsu untuk mencapai pencerahan. ”Tapi tidak semua meditasi itu buddhis lho. Kalau kita ke toko-toko buku, banyak buku yang bicara meditasi. Tidak semua meditasi itu buddhis.”

Simple life, menurut Bhikkhu Jotidhammo adalah prinsip hidup yang sering diajarkan kepada umat buddha. Intinya adalah pengendalian diri. Umat buddha diajarkan bagaimana mengendalikan nafsu yang ada di pikiran. ”Nafsu itu ada di pikiran. Jangan sampai blank dari kesadaran,”

Candi Mendut yang berdiri di depan vihara ini adalah sebuah candi Buddhis. Menurut sejarah, candi ini didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Seorang ahli arkeologi asal Belanda, J.G. de Casparis mengkaitkan cerita itu dengan Candi Mendut.

Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru, dua bidadari, Harītī dan Āţawaka. Konon, dua bidadari itu adalah yaksi yang bertobat dan mengikuti Buddha. Di dalam induk candi terdapat tiga arca Buddha besar masing-masing Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan (mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda yang diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi). Di sebelahnya arca Wajrapāņi.

Hari terakhir di Kota Djogja, saya sempat mampir di kantor Dian/Interfidei. Sebuah NGO yang sejak tahun 1991 konsern pada persoalan agama-agama. Sore itu, Dian/Interfidei kedatangan tamu. Mbak Nina Mariani mahasiswa program doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRCS), UGM, mengantar enam mahasiswa asing untuk berdialog dengan Dian/Interfidei. Keenam mahasiswa asing tersebut, masing-masing Kellyann Conners, dari USA kuliah di Union Theological Seminary New York; Zeyneb Temnenko, dari Ukraine kuliah di Temple University,Philadelphia; Daeseop Yi, warga negara Korea kini kuliah di Graduate Theological Union, Berkeley; Jillian Schedneck, dari USA kuliah di Adelaide University, Australia; Kyeong Il dari Korea, kuliahnya Union Theological Seminary, New York; dan Michael Bender, dari USA, kuliah di Florida International University, Florida.

Bersama Elga Sarapung dan Indro Suprobo dari Dian/Interfidei, para mahasiswa tersebut banyak bertanya mengenai situasi keagamaan di Indonesia. Diskusi sempat menyinggung relasi agama dan kekuasaan. Elga Sarapung, sebagai direktur Dian/Interfidei dengan fasih menjelaskan mengenai kondisi keberagaman agama di Indonesia beserta masalah-masalahnya dalam relasi dengan kekuasaan. Elga Sarapung juga menyinggung soal merebaknya gerakan fundamentalisme agama-agama, baik di Islam maupun di Kristen.

Elga Sarapung mengambil contoh kasus yang dialami Ardha, seorang pemuda yang tinggal di Surakarta. Pada Kamis, 15 Juni 2011, Ardha memakai kaos produksi Dian/Interfidei bertuliskan ”Tuhan Agamamu Apa?”. Gara-gara memakai kaos itu dia harus berurusan dengan Front Pembela Islam (FPI) dan pihak kepolisian. ”Kafir...kafir!” begitu FPI meneriakan Ardha.

”Anehnya, pihak kepolisian justru meminta Ardha untuk meminta maaf kepada FPI dengan alasan yang tidak jelas. Apa salahnya sih, orang bertanya kepada Tuhan?”

Ardha pun wajib lapor setiap hari di kantor polisi setempat.

Hukum di Indonesia, aneh, ya...