Latest Post

Sabtu, 14 Desember 2013

Membaca Ulang Sam Ratulagie

|0 komentar

BUKU GSSJ Sam Ratu Langie, terbit pertama kali di Batavia tahun 1937 dalam bahasa Belanda berjudul Indonesia in den Pacific– Kernproblemen van den Aziatischen Pacific. Diterbitkan ulang dalam bahasa Indonesia pada tahun 1982 dengan judul Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah-masalah Pokok Asia-Pasifik. Buku ini menganalisa mengenai kedudukan Indonesia (Hindia Belanda) yang dalam status jajahan di Asia Pasifik. Menganalisa posisi strategi Pasifik, Sam Ratu Langie, membuat kajian mendalam situasi ketika bergesernya atau beralihnya  pertarungan politik-ekonomi international ke Pasifik.

Indonesia Negara Pasif diPasifik
Perang Dunia Pertama dilatar belakangi oleh peristiwa penembakan Putra Mahkota Austria Erzherzog Frans Ferdinand di Sarajevo pada Juli 1914. Sebelum Perang Dunia I, Samudera Atlantik adalah lautan yang dipersengketan bagi hegemoni politik dan ekonomi dunia. Terutama sistem ekonomi yang bertarung disana adalah kapitalisme yang terdiri dari negara-negara kapitalis, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman dan Perancis. Sam Ratu Langie menyebut kekuatan itu dengan poros London-Paris-New York.

Tentang sistem ekonomi yang menguasai pertarungan di Samudera Atlantik, Sam Ratu Langie menyebutnya dengan, “...mengabdikan seluruh dunia kepada aturan kapitalisme.”

Tapi begitu terjadi Perang Dunia I, ekonomi Eropa berantakan. Sementara Amerika Serikat justru memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan industrinya. Kedudukannya berubah, dari dari negara yang berutang menjadi negara pemberi pinjaman yang berjumlah besar kepada seluruh Eropa, baik di bidang pemerintahan maupun di bidang swasta. Jepang, setelah terlebih dahulu melakukan modernisasi, juga mendapat untung dari perang tersebut. Jepang membangun industri-industrinya. Antara lain yang disebutkan Sam Ratu Langie adalah semakin bertambahnya kapal-kapal yang menjelajahi pelabuhan-pelabuhan dunia. Kedua kekuatan ini punya ciri atau semangat imprealis.

Pasifik menjadi penting bagi-bagi negara industri, baik yang berada tepat di tepi Pasifik maupun yang berada di luarnya. Negara-negara agraris, termasuk Indonesia (di masa itu) yang hanya memproduksi bahan-bahan mentah, lemah dalam hal posisi tawar dunia internasional, adalah pihak pasif dalam percaturan ekonomi internasional. Pun,ia berada di jalur perdagangan global yang semakin penting bagi negara-negara industri sehingga ramai. Sam Ratu Langie menegaskan, “Perjuangan perebutan pasaran dunia pada tahap pertama merupakan perjuangan pusat industri untuk menjual barang-barang dagangan mereka dengan cara yang paling menguntungkan.”(hal. 89)

Tentang persaingan antara negara-negara penghasil bahan-bahan mentah pertanian maupun bahan mentah mineral, semacam Indonesiadi masa itu (dan juga masa kini), Sam Ratu Langie menegaskan, “…dikalahkan oleh persaingan kotor pasaran negeri-negeri industri.” (hal. 89). Modernisasi, rasionalisme telah melahirkan sistem industri, semacam Revolusi Industri diInggris, yang kemudian melahirkan pula kapitalisme dan imprealisme.

Negara-negara yang memiliki kemampuan masuk ke dalam percaturan politik-ekonomi global yang menggunakan Pasifik sebagai konteks geografi menurut analisa Sam Ratu Langie, adalah negara-negara yang telah memiliki kemandirian dan kedaulatan secara politik, ekonomi dan budaya. Negara-negara ini yang mampu mengurangi intervensi asing.

Di masa itu, setidaknya menurut Sam Ratu Langie ada empat aliran politik di Pasifik: 1. Penetrasi yang berasal dari negeri-negeri kapitalis tua Eropa Barat dan Amerika. 2. Arus penentang nasional – yang berasal di negeri-negeri dan bangsa-bangsa di Pasifik itu sendiri, serta yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Barat – yang langsung diarahkan terhadap penetrasi Barat itu. 3. Propaganda komunis yan diprakarsai oleh Soviet Rusia. 4. Pan-Asiatisme, Asiatisme Baru. Dia juga menyebut Pan Islamisme di Asia Barat Laut yang meliputi Turki, Iran, Iraq, Afghanistan, Surya, negara-negara Semenanjung Arab serta menyebar ke Afrika Utara melalui Trans-Yordania dan Mesir (hal. 123, 127))

Lalu,bagaimana posisi Indonesia?

“Letak Indonesia di Asia Pasifik merupakan yang sangat istimewa,” tulis Sam RatuLangie. Indonesia berada pada posisi yang sangat penting dan menentukan dalam lalulintas ekonomi dan budaya dunia. Indonesia berada di antara dua kawasan produksi dan konsumsi.

Namun, Indonesia di Pasifik di masa itu yang adalah negeri jajahan (mungkin juag hingga sekarang dalam status jajahan pasar) seperti yang digambarkan oleh Sam Ratu Langie sebenarnya dalam wajah yang buram. Indonesia di Pasifik sebagai negara pasif dalam percaturan perdagangan internasional. Bahwa meski berada di pusat pertarungan ekonomi-global yang sangat penting, tapi negara jajahan ini dalam posisi lemah: 1. Hanya sebagai negara konsumen karena tidak memiliki kemampuan industri. 2. Indonesia hanya mampu mengekspor bahan-bahan mentah. 3. Malah, Indonesia menjadi incaran negara-negara industri untuk kepentingan investasi dan objek perdagangan. (hal. 137-149).

Lengkapnya, Sam Ratu Langie menulis begini, “Di dalam ketiga hal ini, Indonesia berlaku pasif. Indonesia adalah negeri jajahan di dalam bentuknya yang modern dan termurni.” (hal.149). Agaknya gejala ini bertahan terus hingga awal abad 21 ini.[1]

Sam Ratu Langie sadar dengan keadaan yang tidak menguntungkan itu. Tapi, dia memang tidak membahas bagaimana mengatasi itu. Dia tidak membuat prediksi, ramalan bagaimana Indonesia apalagi Sulawesi Utara/Minahasa harus maju. Dia menulis begini,  ”Dengan menandai fakta-fakta ini, maka persoalan yang sedang dibicarakan ialah – apakah posisi ekonomi yang tak syak lagi tidak menguntungkan bagi negeri ini, mesti dilanjutkan? Namun, jawaban atas pertanyaan ini, terletak di luar batas-batas jangkauan karya ini.” (hal. 149). Karyanya ini, sebagaimana dia mengakui sendiri, “hanya untuk memberikan suatu ikhtisar ringkas mengenai soal-soal yang menjadi pokok-pokok pemikiran.”(ibid).

Pesan Bagi Generasi Sekarang
Membaca pemikiran Sam Ratu Langie dalam karyanya itu pertama-tama haruslah memperhatikan konteks waktu. Sam Ratu Langie menulis pikiran-pikirannya itu dalam konteks konsolidasi politik nusantara menuju kemerdekaan sebagai suatu gejalaumum negara-negara jajahan di masa itu. Dengan menjadikan Pasifik sebagai temapokok, bukan berarti ia sedang memprediksi sesuatu yang akan datang, melainkan ia bermaksud membuat deskripsi dan analisa kekuatan-kekuatan yang sedang memperebutkan Pasifik dan ikhtisar mengenai posisi negara-negara Asia-Pasifik, seperti Indonesia dalam dunia internasional. Posisi pasifik secara geografi adalah faktual dan tetap. Sam Ratu Langie tidak sampai pada rumusan-rumusan pemikiran geopolitik, yaitu bagaimana negara-negara di Pasifik, Indonesia misalnya membangun kekuatan politik dengan mengambil untung dari posisi geografis tersebut. Dengan menyebut bahwa Pasifik di masa itu “...telah terbentuk sebuah kawasan politik tersendiri” (hal. 21) – yang menjadi kalimat pembuka bukunya itu – Sam Ratu Langie bermaksud merumuskan sebuah argumen untuk membangkitkan rasa nasionalisme (yang juga umum di masa itu) untuk keluar dari situasi terjajah bangsa Eropa, dalam hal ini Belanda. Delapan tahun setelah karyanya terbit, Indonesia merdeka

Kedua, Sam Ratu Langie bicara tentang sesuatu yang faktual di masanya. Kekuatan Amerika dan Jepang memang sedang dalam gejala yang jelas, bahwa mereka telah  menjadi dua kekuatan besar dalam perkembangan di masa itu. Seperti kata Sam Ratu Langie sendiri, dimulai ketika terjadi Perang Dunia Pertama. Anehnya, analisa dan pemetaan berdasarkan kondisi faktual itu, di kemudiaan hari disebut sebagai “pemikiran yang futuristik.” Saya kira, Sam Ratu Langie dalam karyanya itu tidak bicara sesuatu yang akan datang, tetapi sesuatu yang sudah benar-benar nyata. Begitu pula, secara geografis benar-benar dalam posisi jalur perdagangan, sudah dari dulu ketika bangsa-bangsa Eropa mulai menginjakkan kakinya di negara-negara Asia, termasuk Indonesia.[2]

Ketiga, yang sering diabaikan dalam membahas karya Sam Ratu Langie ini adalah cara pandangnya terhadap kekuatan modal. Ia memandang dengan sinis ideologi akumulasi modal yang dijadikan sebagai tujuan politik-ekonomi oleh negara-negara kapitalis Eropa Barat dan Amerika, termasuk tampak juga ketidak senangannya terhadap doktrin imprealisme-Kwodo Jepang, seperti yang dia kutip dari apa yang dikatakan oleh Jenderal Araki.(hal. 29)

Sam Ratu Langie, setidaknya seperti yang tampak di bukunya itu adalah seorang yang memiliki kesadaran besar pembangunan peradaban dan kebudayaan yang berdaulat: merdeka dari intervensi asing, mampu mengimbangi penetrasi modal asing, dan punya kemandirian dalam politik dan ekonomi. Ini sebenarnya adalah strategi kebudayaan, bukan sebagai sikap politik-ekonomi saja.

Dengannya, kalau pikiran Sam Ratu Langie mau direlevensikan sekarang, maka menurut saya sumbangannya yang terpenting adalah pesannya bagi generasi sekarang untuk pembangunan kebudayaan menuju kedaulatan semua dimensi. Untuk masuk pada percaturan politik-ekonomi internasional, bagi suatu bangsa diperlukan kemandirian berpikir, kebudayaan. Berikut, ia mengajarkan kepada kita hari ini tentang kemampuan dalam melakukan analisa politik-ekonomi global untuk suatu gerakan kebudayaan. Gerakan kebudayaan itu adalah sebuah proses, memerlukan strategi kebudayaan yang mampu menggerakkan segala sumber daya kebudayaan: tradisi, sejarah, sastra, seni, dan ilmu pengetahuan. Terutama adalah kepercayaan diri untuk menjadi setara dengan bangsa-bangsa lain. Sam Ratu Langie menutup karyanya ini dengan kalimat, “Inilah garis evolusi – yang melalui pasang surutnya, melampaui hari gelap dan hari cerah – tertera sebagai garis kekuatan keliling di lembaran-lembaran sejarah.”

© Denni H.R. Pinontoan

Talete, 24 Juli 2013



[1] Sekitar42 juta hektar daratan telah dialokasikan untuk izin pertambangan mineral danbatu bara, 95 juta hektare untuk eksploitasi migas, 32 juta hektare untuk HakPengusahaan Hutan (HPH), Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Hutan Tanaman Rakyat(HTR), dan 9 juta hektar untuk perkebunan kelapa sawit. Ini berarti sekitar 178juta hektar bumi Indonesiadikuasai swasta yang sebagian besar asing (sumber: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1979411/indonesia-dalam-cengkeraman-asing#.Ueh9udKEzU0).Mengenai ulasan padat tapi ringkas tentang dampak dominasi asing bagi ekonomisuatu negara, baca Coen Husain Pontoh, “Enam Mitos Keuntungan Investasi Asing”,http://indoprogress.com/enam-mitos-keuntungan-investasi-asing/(akses, 24 Juli 2013)
[2] Mengenaipembahasan sejarah perkembangan ekonomi Amerika, Rusia, Jepang dan Indoensialihat buku J.A.C. Mackie, SedjarahPembangunan Ekonomi dalam Dunia Modern, (Jakarta: Pustaka Sardjana, 1963). 

Kaum Tua dan Kaum Muda Minahasa

|0 komentar

I
Sering terdengar dalam forum-forum diskusi yang bertemakan kebudayaan Minahasa, baik dia intelektual, budayawan maupun aktivis yang sudah sepuh atau usianya sudah mendekat apa yang disebut ”kaum tua” berkata kepada kaum muda, ”Kami sudah tua, sekarang saatnya tongkat estefet diserahkan kepada kaum muda.” Atau juga sering terdengar kalimat dari ”kaum tua” ini, ”Apa yang kita lakukan sekarang tentu adalah untuk generasi di masa depan.”

Terdengar sungguh baik. Bahwa, persoalan generasi di masa depan, adalah juga persoalan generasi kemarin dan hari ini. Para intelektual dan budayawan tua ini berbicara seolah-olah apa yang mereka lakukan, termasuk pendekatannya kemarin, hasilnya untuk kelangsungan kebudayaan Minahasa hari depan. Termasuk di dalammnya, tentang konteks dan cara pikir kaum muda di hari ini, yang akan menjadi generasi tua di masa depan dan mereka-mereka yang akan menjadi kaum muda dimasa depan itu akan menikmati hasil capain mereka.

Namun, kaum tua mereka - di masa kaum tua ini masih sebagai kaum muda - mungkin juga punya pandangan begitu, bahwa mereka telah melakukan dan menghasilkan sesuatu untuk dinikmati generasi sekarang ini. Tapi, apa yang terjadi? Para kaum tua itu hari ini masih sibuk juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk generasi mendatang. Para kaum tua ini tidak sedang menikmati hasil sambil berpangku kaku peninggalan kaum tua mereka terdahulu. Mereka masih harus melakukan sesuatu, berpikir keras, masih hadir dalam diskusi-diskusi, menulis, mengorganisir kaum muda, memberi ceramah kebudayaan kepada yang dianggap muda. Pokoknya, mereka masih dibebankan dengan segala persoalan hari ini. Hal ini sebetulnya sebuah proses dan dinamika biasa dalam berkebudayaan.

Namun, apa yang kita sering sebut ”kaum tua” dan ”kaum muda”, perlu dibedakan dengan, ketika digunakan istilah ”generasi masa kini” dan ”generasai masa lampau”. Kaum tua yang masih eksis hingga hari ini dan kaum muda yang sedang semangat-semangatnya sebetulnya keduanya masih tergolong ”generasi masa kini”. Keduanya masih ada dan mengada. Sementara apa yang kita sebut ”kaum tua” dan ”kaum muda”, semestinya tidak hanya menunjuk pada perbedaan usia dan juga fisik tapi terutama pada cara dan orientasi berpikir. Keduanya adalah generasi masa kini. Generasi masa lampau mungkin sudah hidup sejak awal abad 20, sementara generasi masa kini terbanyak mungkin hidup sejak kira-kira tahun 1950an. Itu kalau kita ukur tarikan waktunya mundur dari masa-masa awal abad 21 ini. Yang kaum tua sudah punya pengalaman hidup yang panjang. Mereka selalu bercerita, ”Om so pernah rasa kamari tu masa penjajahan. Kong masa pergolakan Permesta, rezim orde baru, sampe sekarang.” Kaum muda berkata, ”Ya, kasiang torang da tahu kamari orang tu Presiden so Soeharto, masa orde baru, kong datang di masa reformasi sampe sekarang.”

Persoalan yang dihadapi oleh kaum tua itu semasa mereka masih segar bugar, masih aktif di organisasi-organisasi berlebel kebudayaan Minahasa tentu tidak lagi sama dengan yang dihadapi oleh kaum muda hari ini. Perubahan adalah keniscayaan yang bersamaan dengannya adalah bentuk-bentuk tantangan, yang selalu mendorong lahirnya inovasi dan kreasi kebudayaan.

II
Generasi Minahasa di akhir abad 19, berhadapan dengan kondisi di mana penjajahan kolonial begitu kuat. Generasi awal abad 20 sampai jelang pertengahan bergulat dengan perjuangan bagaimana bisa bersama-sama dengan bangsa-bangsa lain di nusantara untuk memerdekakan diri. Generasi pertengahan abad 20 ada dalam situasi perjuangan ideologi melalui organisasi politik bernafasan keminahasaan maupun partai-partai politik. Berikut adalah masa pergolakan Permesta. Ada generasi di abad 19 yang masih melewati masa awal abad 20, masih aktif dalam perjuangan, begitu juga masih ada generasi awal abad 20 yang hingga masa pertengahan abad 20 dan seterus yang aktif dalam kerja-kerja kebudayaan tersebut.

Di masa kini, kaum muda masih sering bertemu atau bergiat bersama-sama dengan generasi yang sudah aktif sejak pertengahan hingga abad 20. Generasi yang lahir tahun 1970-an, pada akhir abad 20 dan awal abad 21 ini masih sering mendengar cerita dari”kaum tua” ini tentang idealisme mereka semasa menjadi pegiat budaya, aktif di dunia politik, di bidang seni-sastra dan lain sebagainya di abad yang baru lewat. Sebagai bagian dari berkebudayaan, ini tentu sesuatu yang baik sekali.

Zaman terus bergerak, usia bertambah, masalah-masalah kebudayaan yang dihadapi di satu pihak adalah akumulasi dari persoalan yang terjadi di masa-masa sebelumnya, bertumpuk dan kemudian mewujud dalam persoalan yang seolah baru sama sekali, tapi yang lain memang adalah persoalan yang benar-benar baru.

Permasalahan-permasalahan kebudayaan ini tentu menjadi bagian dari kebudayaan itu sendiri. Itu sebuah keniscayaan. Satu hal yang sudah pasti, bahwa generasi ”hari ini” kemudian ditantang oleh, apakah persoalan yang terakumulasi itu atau yang sama sekali baru tersebut. Mereka melakukan refleksi, mengusahakan terobosan-terobosan, dan melakukan usaha-usaha yang melampaui apa yang dulu dilakukan oleh kaum tua untuk menjawabnya. Nah, bagaimanapun situasi kebudayaan hari ini tanggung jawab terbesarnya ada pada generasi hari ini, yang di dalamnya kebanyakan kaum muda dan selebihnya adalah kaum tua.  Kaum muda inilah yang harus tegas untuk mengatakan, bahwa kamilah yang harus bertanggungjawab dengan eksistensi bangsa Minahasa hari ini! Karena kami masih akan hidup lama dengan bangsa ini. Kaum muda inilah yang harus melakukan kerja-kerja kebudayaan untuk merespon dan mengatasi berbagai persoalan masa kini, yang termasuk di dalamnya mungkin adalah persoalan yang ditinggalkan oleh kaum tua, karena kekeliruan atau karena kegagalan mereka di masa mereka masih sebagai kaum muda.

Karena tanggungjawab bangsa ini tanggung jawab terbesarnya ada di tangan  kaum muda, maka mereka butuh cara pikir baru. Percuma menyandang gelar ”generasi baru” kalau cara pikirnya mengekor pada cara pikir kaum tua. Pendekatan maupun warisan-warisan pemikiran kaum tua adalah referensi dan itupun harus dipahami secara kritis, tidak boleh diterima secara mentah-mentah. Yang terutama adalah bagaimana kaum muda Minahasa hari ini merekonstruksi sejarah pemikiran, pendekatan masa lampau, dan kemudian terutama adalah merumuskan pendekatan atau cara berpikir yang baru di ”hari ini” untuk merespon persoalan-persoalan kebudayaan aktual.

III
Pendapat umum mengatakan, apa yang ada hari ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan masa lampau, yang semuanya mengarah ke masa depan. ”Masa kini” adalah ”masa depan” dari ”masa lampau”. Begitu seterusnya. Generasi “masa lampau” adalah generasi ”masa kini” di masa lampau itu. Generasi “masa kini” adalah generasi “masa lampau” di masa depan. Artinya, setiap konteks waktu ada generasinya, dan generasi inilah yang bergulat dan bertanggung jawab dengan kemasakiniannya: dengan segala persoalan kebudayaanya.

Persoalan kebudayaan masa kini, jelas adalah tanggung jawab dari kaum muda, intelektual, budayawan, aktivis, dan semua yang masih eksis pada masa ini. Kaum muda Minahasa butuh, bukan cuma semangat yang menggebu-gebu dan sering membabi-buta, melaikan pengetahuan, kesadaran dan tentu komitmen serta keberanian dalam usahanya merespon situasi kebudayaan. Karena tanggung jawab terbesarnya ada pada kaum muda, maka kaum muda Minahasa masa kini, perlu tahu dan memahami mitologi Karema-Lumimuut-Toar, apa watu tumotowa dan waruga itu, sejarah bangsanya, dan lain sebagainya. Kaum ini harus berpijak pada akar.Tapi, apakah sekadar akar yang “mati”? Hanya sebatas cerita yang indah didengar? Tentu tidak! Akar itu harus bertumbuh. Harus diinterpretasi agar dia mengalirkan air-air kehidupan, semangat baru.

Sejarah mengajarkan kepada kaum muda Minahasa hari tentang pengetahuan kebudayaan. Ada pengetahuan tentang bagaimana cara berkebudayaan. Itu yang penting. Kaum muda memilih jalan berbeda dengan jalan yang ditempuh kaum tua, sah-sah saja, dan bahkan itu yang harus dilakukan. Tapi, nilai serta visi dalam melalui jalan, itu yang diperlukan dalam merekonstruksi sejarah masa lampau dan dalam menginterpretasi warisan-warisan leluhur, termasuk melakukan kreasi dan inovasi pemikiran untuk menjawab persoalan masa kini.

Cara berpikir kaum tua yang menghasilkan rumusan-rumuan pemikiran dan pengetahuan tentang bagaimana melepaskan diri dari kolonial di akhir abad 19 dan awal 20 yang perlu dipelajari adalah semangat dan sistem nilai yang ada. Kita tidak perlu mengikuti, misalnya jalan mereka untuk beroerientasi hanya pada politik saja, perjuangan fisik saja. Sebab, situasi masa kini sudah jauh berbeda. Begitu pula dengan masa orde lama dan orde baru, kaum tua kita ada yang harus mengambil langkah praktis, menerima dengan sukarela sentralisme politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan ke Jakarta. Kaum muda Minahasa masa kini sudah harus berbelok dari jalan itu, menemukan jalan alternatif atau bahkan mengusahakan jalan baru. Kalau kaum tua Minahasa di masa lampau itu terpesona dengan investasi ekonomi dari asing sehingga sumber daya alam dieksploitasi, tata sosial dan budaya ikut mengalami degradasi yang katanya demi modernisasi, maka kaum muda Minahasa hari ini perlu memikirkan alternatif-alternatif lain dalam hal ekonomi dan kemajuan tersebut. Kalau dulu, kaum tua Minahasa tidak kritis atau bahkan menjadi bagian dari pembelokan dan pemanipulasian sejarah bangsa Minahasa atas nama nasionalisme Indonesia, maka kaum muda di masa kini perlu menulis ulang sejarah Minahasa.

Deskripsi paragraf di atas bermaksud memberi gambaran tentang masalah yang ada pada ”kaum tua.” Dan, fakta-fakta itu sungguh tidak membatalkan keminahasaan mereka. Tapi, biarlah itu menjadi bagian dari masa lampau bangsa ini. Sekarang ini, terpenting bagi kaum muda Minahasa adalah keberanian dan konsistensinya menempuh  jalan yang dipilih serta komitmennya pada usaha menjaga dan memeliharan agar bangsa Minahasa dapat terus berkembang.

Kaum muda Minahasa masa kini tidak perlu menerima ”tongkat estafet” dari kaum tua, sebab bisa saja ”tongkat estafet” itu sudah tidak diperlukan di jalan yang dipilih sekarang ini. Kaum muda Minahasa membutuhkan cara baru, dan perangkat baru, tapi sistem nilainya  berasal dari akar kebudayaan Minahasa dalam usahanya melakukan gerakan kebudayaan di masa kini.


Talete,29 Juli 2013

Teladan Opa dan Oma Saya: Dari Kisah Anggota Brimob asal Jawa, PPK hingga PKI

|0 komentar

DULU, di sekitaran tahun 1980, semasa Opa dan Oma saya masih hidup, ketika makan malam mereka sering bercerita di meja makan - tentu usai makan-makan - pengalaman mereka di masa jelang, masa pergolakan Permesta hingga kekacauan akibat G30-S tahun 1965. Ada kisah yang saya masih ingat, dan kisah itu juga pernah diceritakan kembali oleh ibu saya. Kisahnya begini:

Di suatu hari di tahun 1956, opa dan oma saya mengantar anak-anaknya menuju ke Ongkaw di Selatan Minahasa. Perjalanan ini sebenarnya sekadar pesiar. Karena opa dan beberapa om saya sedang bekerja sebagai tukang gerobak (bas roda sapi) di Ongkaw.

Dari Kawangkoan mereka naik mobil angkutan umum menuju ke Amurang. Dari Amurang menumpang lagi semacam bus tempo doeloe. Di mobil menuju Ongkaw, selain keluarga Opa dan Oma, ada salah seorang penumpang yang ternyata ia adalah anggota Brimob yang bertugas di Kotamobagu. Ia seorang Jawa, mungkin juga muslim.

Setelah mobil penuh dengan penumpang, merekapun berangkat. Namun, di ujung Amurang, tepatnya di sebuah tempat yang disebut Mobongo (hingga sekarang orang masih menyebut lokasi itu dengan nama yang sama), sepasukan tentara Pasukan Pembela Keadilan (PPK) sedang berjaga-jaga untuk mencegat mobil-mobil atau kendaraan lainnya yang lewat.

Dari kejauhan sudah tampak pasukan PPK tersebut. Penumpang seisi mobil jadi ketakutan. Pasukan ini terkenal liar. Terlebih yang sangat panik si anggota Brimob tersebut. PPK sangat memusuhi baik tentara maupun anggota Polisi Indonesia dan tak tanggung-tanggung membunuh mereka. Untuk menyelamatkan nyawa si anggota Brimob tersebut, opa saya menyuruh dia bersembunyi di dalam tempat duduk, yang di masa itu dibuat semacam ”kas”  yang fungsinya antaran lain untuk menaruh barang. Untung kas itu bisa memuat tubuh si anggota brimob tersebut. Untuk sementara dia aman di situ.

Pas di tempat pencegatan itu, mobil pun berhenti. Tentara PPK menyuruh semua penumpang turun. Tak disangka, salah satu anggota PPK yang mencegat itu saling kenal dengan opa saya. Nama anggota PPK itu Alo Palit.

”Oh, Andries reen. Mange re ambisya ko?”, tanyanya kepada opaku.
”Mange pe ang Ongkaw. Ma tawoi eta ang Ongkaw.”
”Oh. Keitu reen ko ca tumumpa?” tanya si Alo.
”Yo eta tumumpa yaku. Ma’ali-a’li to’yang eta,” jawab opa saya.

Percakapan antara Opa saya dengan salah satu anggota PPK itu membuat pemeriksaan berlangsung tidak lama. Dengannya, mereka tidak sampai memeriksa isi mobil. Kalau sampai itu terjadi, entah bagaimana nasib si anggota Brimob yang orang Jawa itu.

Perjalananpun dilanjutkan. Tidak ada orang di mobil itu yang ditahan, termasuk si anggota Brimob tersebut. Semua selamat dari PPK. Di tengah perjalanan lanjutan, si anggota Brimob tersebut menyampaikan terima kasihnya kepada opa dan oma saya. Kalau tidak tindakan berani menyembunyikan dia di dalam kas dan kebetulan opa saya kenal salah seorang PPK itu maka nyawanya mungkin sudah melayang.

Sebelum pergolakan Permesta, di Minahasa sudah ada Pasukan Pembela Keadilan (PPK). Di kemudian hari, banyak anggota PPK yang bergabung dengan Permesta. PPK sudah lama eksis di Minahasa sebelum Permesta. Para pemimpinnya yaitu Sam Mangindaan, No Korompis, Jan Timbuleng, juga ada nama Goan Sangkaeng, yang adalah seorang berdarah Tionghoa. Para pendiri PPK ini kebanyakan terdiri dari tentara-tentara eks KNILdan gerilyawan sebelum kemerdekaan yang merasa didiskriminasi oleh TNI. Misalnya, Sam Mangindaan maup un No Korompis merasa sakit hati, karena merasa sudah berjasa secara militer maupun politik bagi kepentingan perjuangan Indonesia tapi diturunkan pangkatnya oleh Panglima Kawilarang. Kapten No Korompis diturunkan menjadi Sersan, begitu juga teman-teman mereka yang lainnya. Termasuk Goan Sangkaeng kena desersi.

Ada juga kisah lain dari opa dan oma sekeluarga.
Kisah ini terkait dengan gerakan G30-S tahun 1965. Opa saya dan keluarganya bukan anggota Permesta meskipun bersimpati dengan perjuangannya. Begitupula, opa saya tidak sampai masuk anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Opa pernah bercerita, dia bahkan pernah berdebat dengan seorang anggota PKI di rumah kopi di Kawangkoan.

Namun, adak eluarga oma saya yang bergabung menjadi anggota PKI, meskipun hanya simpatisan biasa. Nah, dampak dari G30-S, yang berlanjut hingga tahun 1980-an adalah usaha secara sistematis dari rezim Soeharto untuk membersihkan warga negara dan keluarganya yang menjadi anggota PKI. Sampai tahun 1980-an masih ada istilah yang saya ingat, ”wajib lapor” bagi mereka yang terlibat. Di tahun 1990-an saya masih mendengar orang memaki dengan berkata, ”dasar ontak PKI ngana!” Selain sejarah bikinan rezim yang menyebutkan bahwa dalang dari G30-S itu adalah PKI,tapi stigma yang kuat ditanamkan di masyarakat bahwa PKI adalah anti Tuhan. Anak-anak yang orang tuanya dulu anggota PKI mendapat stigma yang berat itu, sehingga diperlakukan secara diskriminatif di kehidupan sosial, politik dan kesempatan kerja.

Nah, di saat di Kawangkoan sedang panas-panasnya isyu PKI dan keluarga-keluarga yang terlibat di partai ini dipinggirkan oleh masyarakat, maka salah satu keluarga oma saya ini harus menyingkir ke Motoling, mungkin maksudnya untuk mencari aman dari perlakuan masyarakat di Kawangkoan. Dan, itu ternyata umum terjadi di mana-mana di masa itu.

Opa dan Oma serta keluarga mereka yang telah menetap di Motoling sejak masa pergolakan Permesta usai, kira-kira sejak tahun 1962, hidup mereka sudah lumayan baik. Opa dan om-om saya melanjutkan keahlian mereka, bekerja sebagai tukang roda sapi. Opa saya disapa oleh masyarakat Motoling dengan sebutan “Om Bas”. Bengkel opa saya lumayan maju. Opa dan oma sudah bisa bikin rumah besar.

Keluarga oma yang menyingkir ke Motoling gara-gara dampak G30-S itu ditampung oleh opa dan oma sekeluarga di rumah mereka. Anak-anak keluarga oma saya bekerja dengan opa, bantu-bantu di bengkel roda sapi. Opa saya yang mungkin bisa dikatakan anti komunis tokh bisa menerima mereka dengan lapang dada. Rumah panggung opa saya penuh dengan keluarga dari Kawangkoan yang PKI itu.

Hingga opa dan oma meninggal, saya tidak pernah tanya alasan atau setidaknya apa yang membuat mereka bersikap seperti itu. Baik terhadap anggota Brimob di masa jelang pergolakan Permesta atau terhadap keluarga oma saya yang anggota PKI di jelang tahun 1970-an itu. Mungkin tidak perlu ada pertanyaan, tokh, jawabannya sudah jelas dari perilaku mereka yang sangat manusiawi. Saya belajar banyak hal dari teladan opa dan oma saya ini. Ras, agama dan ideologi boleh berbeda. Bahkan secara ideologis boleh menolaknya, tapi di atas semua itu adalah kemanusiaan. Pada bulan Juli tahun ini, di Yogyakarta saya beli buku berjudul Compassion karya Karen Armstrong. Bukunya ini mengulas tentang ”belas kasih” yang digali dari nilai-nilai tua kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama. Opa dan Oma saya sangat Minahasa sekali. Meskipun, mungkin banyak orang meragukan kekristenan mereka.

”Opa dan oma saya serta keluarga mereka melakukan hal yang mereka inginkan agar apa yang mereka lakukan itu juga dilakukan oleh orang lain terhadap cucu-cucu mereka.” Saya akan berusaha mengajarkan teladan itu kepada anak-anak saya. Semoga.


Makapulu sama,

Kuranga, Sabtu,24 Agustus 2012

Belajar dari Tragedi Masa Lalu, Pilih Jalan Pembebasan

|0 komentar

Di Manado ada acara bedah buku, tepatnya di aula Teater Fakultas Ilmu Budaya Unsrat Manado. Hari itu, Kamis, 5 Desember 2013. Ada dua buku yang dibedah, buku 1965: Indonesia dan Dunia dan buku Sulawesi Bersaksi. Pembicara pada bedah buku itu mner Alex Ulaen, Fredy S. Wowor, keduanya dosen di fakultas setempat dan Putu Oka Sukanta dari Lembaga Kreatifitas Kemanusiaan, Jakarta. Cukup banyak orang yang berminat mengikuti diskusi bedah buku tersebut.

Kedua buku tersebut bicara tentang peristiwa tahun 1965 atau yang lebih dikenal dengan “G30S” (Gerakan 30 September). Lebih khusus buku "Sulawesi Bersaksi" berisi kisah-kisah dari ingatan para penyintas, yang telah mengalami stigmatisasi, diskriminasi dan bahkan trauma sepanjang hidupnya karena peristiwa G30S tersebut.

Saya tidak akan membahas tanggapan saya atas isi kedua buku itu dalam tulisan ini. Saya lebih tertarik untuk bicara refleksi pribadi saya atas tragedi Permesta (1957-1962) dan G30S (1965). Dua tragedi yang terjadi di saat saya belum lahir, namun dampaknya terasa ketika saya masih kanak-kanak (tahun 80-an) hingga remaja (90-an).

Saya generasi yang lahir pertengahan tahun 70-an. Sehingga, relatif nanti di tahun 80-an baru mulai mengerti apa yang terjadi di akhir tahun 50-an dan awal hingga pertengahan tahun 60-an itu. Yang masih jelas tersimpan dalam ingatanku mengenai Permesta adalah cerita-cerita dari opa dan oma saya.

“Ngoni kira sedap tu perang. Torang so rasa kamari tu perang sudara, kasiang. Menderita.” Beberapa kali saya mendengar ucapan itu dari oma dan mama saya.

Ungkapan itu adalah refleksi atas pengalaman mereka sebagai para penyintas karena Perang Sodara di masa Pergolakan Permesta tahun 1957 hingga 1962. Dari Kawangkoan menyingkir ke Ongkaw, pernah di tempat penyingkiran sekitar Roong Tondei, ke Raanan Baru lalu ke Motoling dan menetap di sana. Opa dan oma saya memiliki 7 orang anak, 2 perempuan dan 5 lainnya laki-laki. Mereka semua selamat dalam perjalanan penyingkiran: dari Kawangkoan hingga Motoling. Satu hal yang pernah saya dengar dari oma dan mama saya, bahwa mereka bisa lolos karena keminahasaannya. “Opa tahu ja ba dengar burung,” kata mama saya.

Cerita-cerita mengenai perjuangan keluarga opa dan oma saya di masa pergolakan Permesta juga kondisi mengerikan karena perang sudara itu kebanyakan saya dengar di meja makan, biasanya acara makan di malam hari. Kami sekeluarga makan bersama, setelah itu mulai opa, oma, mama dan om-om saya bercerita. Itu di saat saya kanak-kanak. Di masa dewasa, sekarang, saya merasakan betapa berartinya cerita-cerita itu.

Cerita yang pernah menimbulkan pertanyaan, dan akhirnya menemukan jawabannya sekarang adalah tentang apa yang mereka saksikan sendiri di masa itu: orang-orang mengungsi, termasuk mereka. Melihat langsung mayat-mayat, rumah-rumah yang hancur, keluarga tercerai-berai, dan sekeluarga di sebuah “sabuah” di tempat pengungsian semuanya mati dibunuh. Lebih mengerikan lagi, cerita opa saya, ada seorang laki-laki muda yang baru menikah, tidak lewat beberapa hari setelah pernikahannya, mati dibunuh oleh kelompok orang-orang Minahasa lain yang berbeda garis ideologi.

Perang sudara di masa pergolakan Permesta benar-benar terjadi. Sesama tou Minahasa, satu roong, satu garis keturunan, cuma karena yang satu PKI dan yang satu Permesta, mereka saling tuduh, saling lapor, dan saling bunuh. Sebuah tragedi yang pernah terjadi di Minahasa. Kisah atau narasi yang saya dengar dari keluarga saya mungkin kecil secara kuantitas dibandingkan dengan cerita heroik Permesta dalam cerita versi para elit-elitnya seperti yang tertuang dalam buku Permesta: Pemberontakan Setengah Hati karya Barbara S. Harvey (1984) atau buku-buku Permesta lainnya. Namun, bagaimanapun, pergolakan Permesta, yang rillnya ada di kampung-kampung, perang sudara itu, adalah sebuah tragedi yang telah mengubah tata sosial, politik dan budaya Minahasa. Tragedi ini telah mewariskan sebuah cara pandang lain sama sekali terhadap makna sebagai Tou Minahasa dengan kebudayaannya. Ada Permesta dan negara memperhadapkannya dengan isu komunis (PKI). Dalam konteks Minahasa, tentu orang-orang Permesta dan PKI itu adalah Tou Minahasa. Mereka saling tuduh, saling lapor dan saling bunuh. Negara di mana? Negara mengirim tentara-tentara dari pusat. Tapi juga, Perang Dingin, kapitalisme versus komunisme menjadi konteks global perang sudara Permesta tersebut.

Dan, di tahun 1965, terjadi lagi sebuah tragedi. Ia di Jakarta sebenarnya. Tapi, dampaknya sampai ke Minahasa pula. Setelah hancur-hancuran dengan tragedi perang sudara Permesta beberapa tahun sebelumnya, isu komunisme, ateisme yang ditujukan kepada orang-orang PKI, setelah 1 Oktober 1965 begitu cepat menyebar dengan daya rusak yang luar biasa. Hingga tahun 90-an, dampaknya masih sangat terasa. Orang-orang PKI banyak yang masuk penjara, hilang, dibantai, dan anak-anaknya mengalami stimatisasi, diskriminasi dan marginalisasi.

“Dasar PKI,” sebuah makian yang sering saya dengar di masa saya remaja. Begitu kuatnya stigma bahwa PKI adalah partai yang mengkudeta presiden Soekarno, ajarannya ateisme dan lain sebagainya, maka PKI kemudian jadi makian. “PKI” menjadi kata teror dalam masyarakat. Ia selain disamaartikan dengan ateisme, juga diidentikkan dengan makar terhadap negara. Dengan demikian, agaknya kata “PKI” telah dipakai oleh rezim untuk meneror kesadaran massa demi kokohnya nasionalisme negara, demi mulusnya pembangunisme dan demi langgengnya Soeharto dan kroni-kroninya.

Karena begitu kuatnya stigma yang dilekatkan pada PKI dan orang-orangnya, di tahun 90-an, bahkan pernah ada seorang teman sekolah saya, ditegur oleh guru sekolah kami, “Bilang pa ngana pe papa, kase turung tu bendera PDI di muka rumah pa ngoni. Kalo nyanda, ngana nda mo nae kelas.” Rupanya, maksud guru itu, dan itu tertanam benar dalam otaknya, bahwa PDI sama dengan PKI. Artinya, karena PDI bukan partai pemerintah (Golkar yang sebagai partai pemerintah di masa itu), maka ia semacam mau bilang, bahwa partai itu “subversif” atau “makar”. Guru itu sangat terpengaruh dengan stigma yang ditanamkan pemerintah, bahwa PKI adalah partai dan ideologi terlarang. Maklum, setiap orang yang akan melamar menjadi PNS dan tentara atau polisi di masa itu pasti akan melewati apa yang disebut Litsus (penelitian khusus), "bersih diri" dan "bersih lingkungan."

***
Kemudian, kira-kira 50 tahun setelah dua tragedi itu, saya lalu bertanya, “Lalu, apa untungnya orang Minahasa dengan perang sudara itu?” “Apakah orang-orang Minahasa di masa itu, dan generasinya hari ini benar-benar berkepentingan dengan perang atau pilihan-pilihan ideologi itu?” “Apa yang generasi Minahasa hari ini boleh rasakan dengan dua tragedi itu?”

Hal yang menjadi refleksi saya sebagai orang Minahasa mengenai, baik Permesta tahun 1957-1962 maupun G30S tahun 1965, adalah bahwa ternyata di satu masa orang-orang Minahasa harus terjebak pada sebuah kepentingan yang sebenarnya bukan kepentingan atau kebutuhannya. Mereka harus menerima akibat dari pertarungan kepentingan elit, pertarungan ideologi (global), yang sebenarnya tidak harus demikian kalau seandainya Jakarta bukan sebagai pusat kekuasaan yang hegemonik. Tidak perlu ada perang sudara kalau keminahasaan itu adalah kemerdekaan. Merdeka dari kepentingan politis-ideologis yang sesaat dan ‘batantu” dalam keminahasaan.

Sebagai generasi Minahasa hari ini, pelajaran yang saya bisa petik dari dari dua peristiwa dan tragedi itu bahwa, pertama-tama adalah keharusan untuk menjadi generasi yang berani memilih jalan yang dipilih dengan kesadaran penuh agar tidak terantuk pada batu yang sama. Sebuah jalan yang bukan hasil indoktrinasi ideologis-politis sekelompok orang yang berkuasa; sebuah jalan yang tidak menyempitkan makna luhur dari keminahasaan hanya dengan logika politik-ekonomi kekuasaan belaka; sebuah jalan yang tidak menurut ambisi seseorang atau kelompok elit. Jalan atau cara itu adalah sesuatu yang lahir dari refleksi mendalam atas sejarah dan pengetahuan-pengetahuan warisan leluhur, atas harapan masa depan Minahasa dan kemanusiaan serta refleksi mendalam atas pergulatan hidup komunitas hari ini. Itulah JALAN PEMBEBASAN....


Talete, 5 Desember 2013

Senin, 06 Februari 2012

Manado pe Panas, Basuar!

|0 komentar
Denni Pinontoan pe tulisan

Panas. Basuar. Mar, sebenarnya dorang bilang bagus kata kalu masih ja basuar. Bagus for kesehatan. Tambah lei di Tomohon so kadang ja basuar.

Manado, hari ini memang panas. Waktu kita tanya pa maitua yang dulu da ba kos di Manado sekitar 6 taon, dia bilang memang so lebe panas kata. So lebe panas dari dulu. Tu kita pe kacili, Echa, cuek dapa lia. Mar, tetap katu dia minta polo. “Pa, polo dang,” dia ba minta deng sunggu-sunggu.

Depe mama tanya,”Kiapa Echa? So lala?” Echa yang tu da tanya akang cuma badiam. Bukang dia blum mangarti tu depe mama da tanya, mar dasar anak-anak katu toh, dia suka depe papa gendong.

Torang waktu itu, ada ampa orang. Kita, maitua, Echa, deng Echa pe mama ani. Ba jalang rame-rame. Mar tu jalang, di lorong sebelah Speed komputer, di Bahu itu balubang-lubang. “Di jalang ini, tu brapa minggu lalu kita ada cilaka akang. Da ba gonceng, lantaran tu jalang ba lubang-lubang, kita ciri. So capat lei tu motor, kong jalang ba lubang lei,” Echa pe mama ani bacirita.

Tu Echa pe mama ani kwa, beberapa minggu lalu memang da cilaka di jalang ba lubang itu. Sampe kasiang maso rumah saki. Depe pala-pala riki da manjae.

Mar skrang kita kwa mo cirita tu panas.

Kita singga di Speed Computer. Di situ ada internet ja sewa. Bole pake WIFI, bole pake LAN. Kita pake WIFI. Lantara Echa pe mama ani, waktu blum ba pindah pa dia pe tampah kos skarang, langganan di situ. Masih ada depe voucher yang ta sisa sekitar sapuluh jam. Kita pake itu.

Di dalam warnet itu, depe panas, memang dapa tako. Kita pikir-pikir, apakah lantaran kita orang gunung, lahir di Kawangkoan, besar di Motoling, kong skarang tinggal di Tomohon, kong sampe dapa rasa skali Manado pe panas? Ato Manado memang so lebe panas. Lantara global warming stou, dorang bilang. Global Warming ato pemanasan global. Kita lei blum tahu jelas. Yang kita tahu, pante Manado, depe reklamasi panjang skali. Hampir sepanjang pantai teluk Manado itu. Dari Bahu, sampe blakang Jumbo.

“Mar, itu bukang kwa timbun pante. Depe nama itu, reklamasi, re-claim. Klaim ulang kata, tu garis pante yang sebenarnya,” bagitu tu salah seorang profesor pakar kelautan dari Unsrat bilang waktu ada seminar di UKIT brapa waktu lalu.

Oh, bagitu kang. Bukang mo kase kacili tu pante, mar cuma mo kase iko ulang tu garis pante kata. Kita dapa tahu kamari terakhir, tu profesor kote itu, salah satu Tim AMDAL, waktu pemerentah Manado mo reklamasi tu pante itu. Pantasan dia tahu mo balas kita pe pertanyaan.

Mar, ngoni samua tahu toh, tanggal 11 sampe 14 Mei lalu, di Manado ada acara basar. World Ocean Conference (WOC) deng Coral Triangle Initiative (CTI) Summit depe nama. Di acara itu tuang-tuang basar dari ratusan negara bakumpul, dengar-dengar kata, da bahas soal laut deng persoalan tu dunia ini yang so lebe panas. Dari Manado ada kata yang mo kase sumbang for dunia. Mantap!

Lantaran tu soal panas Kota Manado ini, dari speed computer kita batulis di pa kita Facebook pe dinding bagini: “Manado memang panas. Mar....ini komang so lebe panas...basuar so bukang suar lela...mar so suar global warming…”

Cuma brapa menit, muncul komen-komen.

Andre Gusti Bara bilang,”so bagitu manado. kan demi kota pariwisata dunia, salah satu dp syarat musti cuaca panas minta ampun.”

Kita balas di tampa komen itu, ”Pantasan...ternyata kote...lebe panas...menurut pemerentah lebe bagus...supaya tu proposal tembus di PBB...ha...ha...”

Sammy Fanly Tumbelaka tamang orang Kawangkoan mar skrang ja mancari di Amurang bilang, “+ ley RW p paso.. Puuaannaass katu ya.. :-).”

Dia bilang RW, kita dapa inga, tadi kote, waktu masih online pa Echa pe mama ani pe tampa kos, kita da bilang pa dia di chating, kita sementara makang RW Manado yang lanut.

Erlangga Mario Kansil Runtuwene, mahasiswa Fakultas Teologi UKIT di komen itu bilang, ”tapi mener...masih bitung komang lebeh panas....”

”Iyo kang. Bitung kwa panas dari dulu....ha..ha..” kita balas depe komen.

Renly Najoan, tamang di FB (kependekan dari Facebook) ba komen, ”setuju... sedangkan di tomohon sekarang so ja cari es.”

Tu tamang lama yang skarang sementara ja mancari katu di Gorontalo ba tambah, ” ato suar..............aaa.aaaaa,” tulis Rudolf Lumy.

Greenhill Glanvon Weol, dari Minut da buka kote FB pake HP. Dia bilang, ”Maka 'torang samua basu..ar'”.

Mar, kita pe cirita ini, memang bukang cuma soal tu panas (suhu yang panas) itu, mar lei tu malimbukunya Kota Manado dari segi politik, ekonomi deng sosial. So baku cako depe persoalan. “So bagini no, tu kota kosmopolitan,” bagitu tu mahasiswa Unsrat pe komentar di warnet speed. Waktu itu dia da di seblah pa kita. Sama-sama sementara online.

Waktu lalu ada diskusi di Pusat Gerakan Adat dan Budaya Minahasa di Tomohon. Di situ tu Majelis Adat Minahasa (MAM), Persatuan Adat Minahasa deng Perpustakaan Minahasa “AZR” Wenas da batampa akang. Depe pokok diskusi seputar Kota Manado, yang so mulai kata nda kentara tu depe Minahasa. Sampe tu cirita berkembang ada manuver-manuver politik dari kata tu Plt. Walikota skarang, yang so nda anggap tu Kota Manado bagian dari Tanah Minahasa. Kita tanya pa orang-orang yang hadir waktu itu,”kalo torang mo bilang Manado skarang ini harus Minahasa lagi, no apa depe penanda,?” Artinya, kira-kira apa yang torang bole bilang sebagai tanda, bahwa Kota Manado adalah bagian dari Tanah Minahasa. Sebab, dia skrang kan tampa tinggal dari macam-macam orang. Ada dari Gorontalo, Sangihe, Talaud, Bolangmongondow, Arab, Cina, deng banyak lagi.

Teddy Kumaat, salah satu yang hadir di acara bacirita itu bilang, ”Gedung Minahasa Raad, depe tanda.”

Tu tamang, yang kita cuma inga dia pe fam Maramis bilang, perlu skali kata tu hukum adat. “Supaya torang mo klaim secara hukum adat, bahwa Manado adalah bagian dari Tanah Minahasa,” bagitu dia bilang.

Di sei pa kita ada Christy Manarisip. Kita tanya pa dia,”Kota Manado pe lambang masih pake burung Manguni?”

“Nyanda no,” dia bilang.

“Pantasan,” kita bilang pa dia. Mar tu laeng-laeng di acara bacirita itu, nda da dengar stou kita da bilang itu. Soalnya kita pe suara cuma stengah.

Butul. Lambang Kota Manado nda burung Manguni. Mar katu, nda ada lei burung pompo (merpati) sama deng tu lambang Kab. Minahasa Tenggara yang Bupati Telly Tjangkulung da usul itu. Lambang Kota Manado masih ada kelapa. Mar yang depe nama lambang, ya lambang, simbol. Biar lei pake Minahasa pe lambang, kalu tu hati so balaeng, sama jo kang!

Senin, 19 Desember 2011

Minahasa dalam Facebook

|0 komentar


Situs jejaring sosial temuan Mark Elliot Zuckerberg, Facebook, adalah ruang diskusi publik yang murah tapi meriah. Manusia dari beragam ras, agama, dan status sosial bisa berjejaring dalam kata, suara dan gambar. Dalam canda, marah ataupun, bisa berujung dendam. Facebook, adalah dunia maya, yang matematis, tapi bisa membangkitkan emosi. Facebook adalah produk budaya digital. Di mana manusia tak lagi ditentukan oleh ruang dan waktu.

Ada sebuah grup Facebook yang nama belakangnya menggunakan nama Minahasa. Memang, grup itu dimaksudkan sebagai forum diskusi tentang Minahasa dan keminahasaan. Jumlah anggota grup itu telah mencapai 5000-an. Tidak semua akun menggunakan nama asli. Bahkan mungkin ada yang sudah punya dua, atau tiga nama akun yang berbeda-beda. Bermacam-macam orang dengan latar belakang keilmuan serta profesi, saling mengadu argumen di grup ini. Yang pada banyak hal, sering tidak berkenaan dengan Minahasa dan keminahasaan. Dunia maya, memang dunia maya. Siapa saja boleh menyamar.

Topik diskusi bermacam-macam. Memang namanya grup Minahasa. Tapi, di grup ini didiskusikan juga sains, iman atau agama dan beberapa pendapat yang menunjukkkan kebodohan dalam menanggapi ateisme. Minahasa, direduksi sedemikian rupa dalam cara pandang yang simplistik dan konservatif. Memang, banyak juga yang tampak kecerdasan dan keterbukaannya. Tapi yang liberal, progresif dan bahkan revolusioner ini sering mendapat makian, cercaan dan stigma negatif. Grup ini, akhirnya menjadi ruang ajang saling mendesktruksi, sedikit saja yang saling mencerdaskan.

Minahasa dalam Facebook, menggambarkan sebuah dinamika dan pergulatan intelektual. Orthodoksi, status quo, fundamentalis versus liberal, progresif dan revolusioner. Tapi, sebuah akun, tidak statis dalam satu posisi. Hari ini liberal, besok fundamentalis. Atau, hari ini berkawan dalam berkomentar, namun besok bisa berbeda pendapat. Ada juga seperti beronani, karena pernyataannya ditanggapi dengan komentarnya sendiri. Dan, banyak pula yang narsisitik. Yaitu, men-like komentar sendiri. Facebook, seolah berhasil membawa dinamika intelektual manusia-manusia berbudaya Minahasa dalam sebuah pertarungan yang tiada henti. Sebuah pertarungan yang tiada ujung, tiada kata sepakat dan bahkan tiada arti. Ada bahaya nihilistik!

Itu tentu dugaan saya, yang bisa salah. Dugaan saya berangkat dari kenyataan bahwa Facebook adalah dunia bentukan matematika. Dunia angka-angka yang sejatinya tanpa rasa. Dan, semua semu adanya. Sangat beda dengan diskusi di perampatan jalan, rumah kopi atau di lobby hotel. Di mana pribadi-pribadi saling berjumpa. Dengan wajah yang senang, marah atau kecewa karena bersepakat atau berbeda pendapat.

Facebook, membuka hari-hari manusia dengan pertanyaan ”What’s on Your Mind?”, Apa yang Anda Pikirkan? Facebook memperlakukan manusia sebagai makhluk pemikir. Seolah, Facebook tidak diperuntukkan bagi manusia yang tidak berpikir, manusia yang hanya berhalusinasi. Teringat adigium RenĂ© Descartes, ”cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Status keberadaan seorang manusia, sangatlah rasionalistik. ”Aku” berada hanya jika ”berpikir”. Atau, adanya ”aku” kalau menyangsikan semua hal. Saya tak tahu, kalau Mark Elliot Zuckerberg, dengan Facebooknya, bermaksud mengantar manusia pada metode kensangsian. Kalau ya, bisa saja Facebook adalah jejaring sosial bagi manusia-manusia yang saling menyangsikan. Manusia Facebook, adalah manusia yang harus berpikir. Karena, tulisan pintu rumah Facebook ”What’s on Your Mind?” Maka, Facebook, adalah rumah bagi perjumpaan kebenaran yang tiap hari mestinya diverifkasi.

Bahasa Facebook, adalah bahasa tulis, yang ringkas dan padat. Untuk membuktikan bahwa seseorang adalah makhluk berpikir, cuma dibutuhkan 240 karakter. Memang, ada untuk tempat catatan, yang panjangnya bisa 1000, 2000 karakter atau lebih. Maka, untuk menegaskan rasionalistiknya Minahasa, cuma dibutuhkan 240 karakter. Tapi, berbeda dengan dinding grup. Grup Facebook meminta untuk ”tuliskan sesuatu,” yang bisa panjang, lebih dari 240 karakter. Minahasa dalam Facebook, adalah manusia yang matematis, tapi anehnya ia bisa membangkitkan emosi. Facebook juga menyediakan ruang untuk memaki dan memfitnah dalam bentuk tertulis. Sehingga terdokumentasi dan menyimpan dendam yang lama. Inilah Minahasa dalam budaya digital.

Tentu, Facebook, adalah juga ruang berbudaya. Bagi Tou Minahasa, ya, adalah ruang untuk berbudaya Minahasa. Facebook, atau situs jejaring sosial lainnya adalah media berbudaya karena dia menjadi alat saling berbagi informasi, pikiran dan mungkin juga alat propaganda. Konon, situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter telah berperan dalam revolusi di Mesir. Di Indonesia pengorganisasian massa untuk menolak atau mendukung sesuatu atau sesorang, juga menggunakan situs jejaring sosial. Misalnya, Gerakan "Koin Peduli Prita." Situs jejaring sosial telah menjadi media untuk mengajak masyarakat khususnya para pengguna internet mengumpulkan uang koin untuk disumbangkan kepada Prita Mulyasari. Uang ini untuk membayar denda Prita kepada RS OMNI Internasional Alam Sutera yang bernilai Rp 204 juta.

Minahasa dinamis. Seperti Facebook yang terus dimodifikasi. Dinamika di dalamnya dalam bentuk kata-kata, gambar dan suara. Setiap hari, ada warta yang baru di Facebook. Ada gambar yang baru. Terkadang, ada juga video yang baru. Namun, bahayanya, selain akun bisa palsu sehingga komentarnya juga palsu, informasi yang ditulis dan ditautkan di Facebook, juga sangat beragam. Terkadang, sulit menyeleksi, mana informasi yang benar-benar fakta.

Informasi mengenai Minahasa, dalam bentuk berita, pikiran dan apapun itu, juga sulit ditentukan mana yang benar-benar asli. Kebenaran absolut memang tidak bisa ditemukan di Facebook. Tapi, mestinya, interaksi atau dialog yang terbuka dan kritis serta beretika, bisa melahirkan ”kebenaran”, yaitu kesadaran bersama, atau juga kesadaran kritis. Kebenaran Facebook adalah kebenaran rasionalistik, khas modernitas yang tak harus didikotomikan dengan posmodernitas. Kesadaran akan pentingnya berpikir yang harus kritis. Minahasa dalam Facebook, adalah Minahasa yang setiap harinya bertanya, dan terus berusaha mencari jawab. Minahasa yang belum final, karena dia hidup, dan terus berubah.

Agama dan Agama yang Bernama Negara

|0 komentar
Dua institusi ini sering berkelahi. Atau juga sering berselingkuh. Padahal, mereka adalah kembar. Agama dan Negara. Agama adalah juga negara. Dan, negara, sebenarnya adalah juga agama. Agama-agama itu sesungguhnya, bukan hanya, misalnya agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Sikh, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi, ada agama yang bernama negara.

Kalau agama-agama pada umumnya menyembah Tuhan sebagai yang Maha Kuasa, maka bagi negara, Tuhannya adalah kekuasaan. Nabi agama negara adalah para pahlawan atau pendiri negara. Korban persembahannya adalah pajak dan sering juga bahkan nyawa rakyatnya. Umat agama negara adalah rakyat. Ritualnya dilaksanakan setiap hari raya kenegaraan, semisal agama negara Indonesia adalah setiap tanggal 17 Agustus atau setiap hari Senin di kantor-kantor pemerintah atau di sekolah-sekolah. Lalu, rumah-rumah ibadahnya? Ada. Istana negara sampai kantor-kantor pejabat pemerintah. Para pemimpin umatnya juga ada. Yaitu, presiden mungkin mirip Uskup atau Ketua Sinode. Lalu para kyai, pendeta, gembala, bikhunya agama negara adalah pejabat-pejabat negara, bupati, gubernur. Hari-hari raya keagamaan agama negara adalah hari-hari raya peristiwa bersejarah, heroik, hari kelahiran negara, hari kematian seorang pahlawan, dll. Kitab sucinya adalah dasar negara, seperti Pancasila di Indonesia atau Undang-Undang Dasar.

Agama negara juga memiliki doktrin. Pada umumnya, doktrinnya adalah nasionalisme. Setelah itu, muncul doktrin-doktrin keselamatan, seperti kesejahteraan, keadilan, perdamaian. Kalau agama negara Indonesia, doktrin tunggal yang telah berhasil mengubah kesadaran umatnya sejak agama negara ini berdiri adalah Pancasila. Dulu, hak menafsir kitab suci yang bernama Undang-undang Dasar 1945 hanya terbatas pada kaum ”klerus” agama negara ini, yaitu para elit politik dan intelektual. Reformasi 1998, sebenarnya mendesentralisasi hak tafsir, tapi manipulasi hukum dan ideologi terus saja terjadi. Buntutnya adalah kondisi benegara yang tidak menentu.

Seperti umat beragama pada umumnya yang menerima dibuai dengan iming-iming sorga di sana, umat agama yang bernama negara juga demikian. Meskipun sering disadari, harapan itu semakin menjauh, tapi doktrin nasionalisme kadang membuat umat agama negara ini tidak mampu keluar dari agama negara itu. Tetap saja umatnya mau beragama negara. Meski memang, seperti halnya agama pada umumnya, situasi seperti itu memunculkan individu atau kelompok-kelompok terbatas yang melakukan kritik tajam.

Tuhan agama negara, apalagi kalau bukan kekuasaan. Kekuasaan seperti roh yang mampu merasuk para klerus atau elit negara. Kekuasaan yang adalah tuhannya agama negara ini bisa menjadi kekuatan untuk meminggirkan, mendiskriminasi atau bahkan membunuh umat. Atas nama negara, kekerasanpun menjadi halal. Bukankah begitu juga dengan agama?

Ini sebenarnya konsekuensi dari institusionalisasi atau rasionalisasi hidup bersama. Bahwa, hidup bersama dalam institusi yang dogmatis dan politis macam agama dan negara itu sesungguhnya hanya bicara soal bagaimana institusi buatan manusia itu langgeng. Doktrin keselamatan, hidup bahagia adalah mitos yang sengaja dikonstruksi untuk memanipulasi kesadaran diri umatnya. Apakah harapan hidup selamat, bahagia dan damai hanya akan tercapai karena manusia berinstitusi? Kita memang akan sulit menjawab ”tidak” selagi kerangkeng besi bernama rasionalitas masih kuat memenjarakan pikiran dan kesadaran kita.

Nyaku mengamati itu dalam diskusi-diskusi mengenai agama-agama dan relasinya dengan negara, yang nyaku sebut negara itu adalah juga agama. Diskusi berputar-putar pada soal bahwa negara telah menyebabkan kekacauan pada hubungan agama-agama. Namun anehnya, selalu saja berharap negara dapat menyelesaikan kekacauan itu. Bagaimana torang bisa membedah orang yang kena infeksi dengan pisau yang sama yang menyebabkan orang itu sakit?

Doktrin nasionalisme agama yang bernama negara ini telah begitu merasuk hingga ke dalam jantung kesadaran manusia. Begitupula dengan doktrin agama-agama pada umumnya. Sehingga, siapa saja yang melakukan kritik atau memberontak terhadap dominasi dan hegemoni dua institusi itu harus siap mendapat stigma makar, separatis, sesat dan kafir. Agama-agama ini, baik agama wahyu maupun agama negara, selalu berusaha memenjarakan manusia dalam kesadaran semunya.

Sejarah kelahiran dua institusi penjara ini, pada awalnya mungkin karena ketertindasan atau kerena penderitaan. Sejumlah nation state produk modernitas adalah buah dari pemberontakan terhadap kolonialisme. Begitu juga agama-agama semit atau agama-agama timur. Terkecuali mungkin agama-agama lokal pramodern, yang meski hanya terbatas pada suku-suku atau klan-klan tertentu tapi relatif tidak dogmatis dan politis. Kegelisahaan terhadap tujuan hidup melahirkan nabi-nabi atau para bijak yang mengkhotbahkan kebahagian sebagai tujuan hidup. Kondisi yang terjajah melahirkan patriot-patriot dengan pidato-pidato yang heroik. Setelah semua itu, apa? Setelah semua itu, adalah institusi yang memenjarakan. Institusi modern ini adalah karengkeng rasionalitas.

Waktu nyaku ke Yogyakarta 12-15 Oktober lalu, nyaku sempat bacirita dengan tiga teman, Rony Chandra Kristanto dari Semarang, Silo Abraham Wilar dari Jakarta dan Nelti dari Padang. Dua teman, Rony dan Silo adalah teolog muda yang aktif di Asosiasi Teolog Indonesia (ATI). Torang bacirita di sebuah kafe. Silo, yang sudah akrab dengan Jogja bilang, kafe itu namanya ”Ginseng”. Tempat para bule menghabiskan malam sambil minum bir dan menyanyi. Kami sempat bacirita soal beragama yang tak terikat lagi dengan institusi. Dan, ini kemudian menjadi isu hangat dalam diskusi malam itu. Ada pemikiran bahwa, gereja misalnya, bisa menjadi tempat bertemunya manusia-manusia, siapapun dia. Menjadi ruang refleksi. Tapi, tidak harus dogmatis dan struktural. Pikiran saya, mungkinkah pula kita mewacanakan agama yang bernama negara menjadi ruang terbuka yang nyaman, bebas polusi kepentingan-kepentingan politik bagi siapa saja?

Apa yang kami perbincangkan itu sesungguhnya adalah ideal-ideal, yang sangat jauh dengan realitas dan maksud dari banyak orang beragama dan beragama yang bernama negara itu. Memang, ide atau gagasan itu subversif. Karena wacana itu masih akan berhadapan dengan banyak orang yang mau dan senang hati pikirannya dijajah oleh mitos-mitos surga dan neraka kedua institusi itu. Terlebih, wacana ini akan berhadapan dengan tuhan yang bernama kekuasaan itu.


19 Oktober 2011 (Rabu: 21:37 wita)

Elang, Nuri dan Lelaki Pincang

|0 komentar
Suatu pagi jelang siang di akhir November 2011.
Di sebuah lorong kecil, beberapa orang berjalan saling berpapasan. Seekor elang terbang rendah dengan bebas di atas sawah. Langit berawan, sepertinya hujan akan segera turun. Seekor burung nuri kecil kakinya terikat tali. Ia ditenggerkan di atas pagar depan rumah pemiliknya. Kicauannya menyedihkan. Ia ingin bebas, tapi ia tersandera.

Di lorong itu, seorang lelaki parubaya berjalan lambat. Kaki kanannya pincang. Ia memikul beberapa parang yang diikat untuk dijual. Ia sempat singgah di sebuah warung. Seorang kemungkinan bermaksud membeli parang yang dijualnya.

Kehidupan seperti elang yang bebas terbang. Tapi, sewaktu-waktu ia akan bernasib seperti nuri itu. Atau bahkan ia akan mati. Nuri yang indah hanya menjadi pajangan bagi si manusia. Lelaki pincang berjuang hidup. Lorong-lorong kehidupan menampilkan beragam wajah manusia.

Manusia dan kehidupannya, sesungguhnya paradoks. Bermula dari manusia itu yang paradoks adanya. Banyak orang berharap hidup damai dan sejahtera. Bersamaan dengan itu, manusia-manusia lain merusak harapan-harapan sesamanya. Entah apa tujuan hidup manusia-manusia perusak itu. Tapi, ego adalah aku yang selalu berhadapan dengan macam-macam godaan. Pada satu titik si aku harus memilih. Hidup benar, namun mungkin harus berhadapan dengan kesusahan-kesusahan. Atau hidup salah dengan segala kenikmatan yang semu.

Tapi tak terlalu baik menyalahkan si aku. Sebab, aku selain hadir bersama aku-aku yang lain, ia juga lahir dan terbentuk oleh alam ideologi dan kebudayaanya. Aku tidak bermain-main bebas di alamnya itu. Ia seperti nuri yang terikat. Kicaunnya tak lagi mendendangkan sukacita bersama alam. Aku terikat dan mengikatkan diri dengan tali-tali kebudayaannya. Aku tak bisa bebas seperti elang di udara. Pun elang yang bebas itu, entah kapan akan jatuh jua ke bumi.

Manusia memberadakan diri dalam alam hidup yang pada banyak hal dibuatnya. Anehnya, buatannya itu juga yang pada banyak hal kemudian mengontrol dia. Memaksa dia. Memerintah dia. Atau menyuruh dia membunuh. Atau bahkan membunuh dia. Alam hidup yang paradoks. Karena yang membentuknya, si aku adalah paradoks.

Manusia tak seperti elang yang bisa terbang bebas. Ia lebih mirip nuri yang terikat itu. Lorong-lorong kehidupan tak lurus. Ia berbelok-belok. Kadang-kadang buntu pada rumah penguasa. Atau juga buntu pada jurang. Manusia, si aku itu harus pandai-pandai menentukkan arah yang benar.

Elang terbang bebas di atas sawah yang padinya baru dituai. Padi yang menguning sudah tak ada lagi. Lumpur sawah telah merubah warna pemandangan menjadi kecoklat-coklatan. Keong-keong berjalan lambat. Ikan-ikan kecil bermain riang. Nanti malam kodok-kodok berpesta.

Lelaki berkaki pincang entah dari mana. Berjalan di lorong memikul parang berharga seliter beras untuk malam nanti. Berjalan tidak rata di atas aspal yang berlubang. Tapi, ia adalah manusia yang penuh semangat. Kentara dari tangannya yang berurat. Otot-otot tua menjadi saksi tentang hidup yang keras.

Nuri ditegenggerkan di atas pagar yang keras. Pagar yang membatasi aku dengan aku yang lain. Kicauannya tak seindah ketika menyanyi di hutan. Nuri masuk ke alam hidup manusia. Ia menyaksikan hiruk-pikuk manusia mencari arah hidup. Kalau ia masih sempat pulang ke habitatnya, mungkin ia akan bercerita kepada pohon-pohon. Cerita tentang dunia manusia yang terus bergerak. Dinamis. Tapi sering tanpa arah. Sebab, arah itu tidak lurus.

Cerita elang kepada anak-anaknya, saudara-saudaranya, atau kepada kekasihnya tentang dunia manusia yang penuh dengan kepalsuan. Saling sikut. Saling pukul. Saling tipu. Tapi ia mungkin masih akan jujur, ada seorang lelaki pincang yang berjalan tidak rata tapi penuh semangat. Atau cerita tentang seorang perempuan tua yang bangun pagi-pagi sebelum suami atau anak-anaknya tersadar dari mimpi. Pagi-pagi sekali ia pergi ke pasar. Tanah masih basah. Udara masih dingin. Ia akan pergi menjual apa yang dipetiknya di kebun kemarin sore. Cerita elang itu mungkin berjudul ”dunia manusia yang paradoks.”

Lelaki berkaki pincang mungkin akan bercerita kepada istri atau anak-anaknya tentang lorong itu. Di sana ada manusia-manusia yang menanyai dia tentang harga sebilah parang. Tapi mereka tidak membeli. Karena memang hanya ingin bertanya. Lain dengan si petani tua yang berjumpa dengannya di ujung lorong. ”Kalau kau datang lagi besok, saya akan beli parangmu. Hari ini, aku masih akan ke kebun. Semoga hari ini rejeki akan berpihak kepadaku,” ujar si petani tua itu. Atau cerita tentang sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang berpakaian kantoran yang hampir menabraknya di lorong itu. ”Hei, kamu punya mata atau tidak!!” bentak si orang itu.

Ini akhir November. Besok bulan Desember. Udara akan semakin dingin. Elang dan Nuri akan menghangatkan tubuh dengan bungkusan sayapnya. Namun. lelaki berkaki pincang itu, justru akan semakin lama di jalanan demi seremoni agama nanti.

30 November (- 3 Desember 2011)

Bakar Diri, Bakar Kerasnya Kemapanan

|0 komentar
Seorang aktivis, yang selalu gelisah dengan kondisi bernegara, Sondang Hutagalung, 7 Desember lalu membakar dirinya. Memang tak tahu motivasinya apa. Yang jelas, Sondang melakukan bakar diri itu di depan istana negara. Biasanya, kita mendengar orang – yang kemudian disebut-sebut teroris – melakukan bom bunuh diri. Kalau Sondang bakar diri, korbannya adalah dia seorang. Tapi kalau teroris bom bunuh diri, korbannya, selain pelakunya juga sering dengan orang lain.

Di Tunisia, Mohamed Bouazizi, seorang lulusan sebuah universitas, juga melakukan aksi bakar diri. Ia seorang pedagang buah-buahan dan sayuran di pasar. Bouazizi sering berhadapan dengan polisi Tunisia yang menyita barang dagangannya dengan alasan ia tidak memiliki izin berjualan. Di Mesir di Kairo, Abduh Abdulmoneim dari Qantara, juga bakar diri. Ia melakukan aksi nekat itu di depan gedung parlemen. Menurut media, alasannya sederhana, Abdulmoneim protes karena tidak mendapatkan jatah roti untuk restorannya.

Di Tibet, protes terhadap kerasnya peraturan pemerintah terhadap ajaran Budha di sana, seorang biksu berusia sekira 17-18 nekat pula melakukan aksi bakar diri. Saat membakar dirinya, Biksu bernama Kalsang tersebut memegang foto Dalai Lama, pemimpin Budha yang diasingkan. Dia meminta kebebasan beragama serta kemerdekaan di Tibet.

Di abad pertengahan, gereja Roma Katolik, dengan hukum inkuisisinya banyak kali melakukan hukum bakar hidup-hidup orang-orang yang dituduh sesat, kafir, penyihir dan yang melawan ajaran gereja. Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad pertengahan yang pertam-tama diperuntukkan bagi yang dituduh bidat, atau sesat.

Tentu, aksi bakar diri sebagai protes oleh Sondang, Bouazizi, Abdulmoneim, Kalsan, dan banyak kasus lain lagi, berbeda dengan yang dilakukan oleh gereja Roma Katolik pada abad pertengahan. Namun, semua itu berkenaan dengan kerasnya ”kemapanan”, baik ideologi, kekuasaan politik negara maupun agama.

Setelah gugatan dalam bentuk pamflet, poster, spanduk, massa yang turun ke jalan sambil berteriak-teriak lantang memprotes ketidakadilan, bakar ban mobil dan berbagai cara lainnya dirasa tak lagi efektif untuk menggugat kemapanan ideologi, kekuasaan dan juga doktrin-doktrin absolut konstruksi elit, maka, bakar diri adalah pilihan yang dirasa tepat oleh beberapa orang itu. Membakar diri, mengingatkan kita pada praktek agama-agama, korban yang dipersembahkan kepada Sang Khalik yang dibakar. Seolah membakar kefanaan ragawi menuju kekekalan roh.

Membakar diri untuk menggugat, merefleksikan kepada kita hubungan yang timpang antara Penguasa dan yang dikuasai. Doktrin mempersembahkan yang terbaik bagi sesuatu yang kita tidak tahu apa atau siapa dan di mana itu telah menyesatkan kesadaran kaum yang dikuasai agar menjadi hamba yang tidak berarti apa-apa. Membakar diri sendiri tentu berbeda dengan diri yang dibakar secara pasif oleh penjagal. Membakar diri secara aktif adalah gugatan, dan diri yang dibakar orang adalah korban yang tidak berdaya. Namun, keduanya menunjuk pada kekuasaan yang membakar. Absolutisme ideologi, kekuasaan dan dogma begitu dahsyat, yang pada titik panas tertentu dia menghasilkan api amarah yang luar biasa panasnya!

Membakar diri untuk aksi protes, sepertinya menunjukkan sebuah ritual. Betapa sesuatu yang tidak kasat mata, yang bernama ideologi, kekuasaan atau dogma itu sudah begitu berkuasa atas diri manusia. Dia seperti dewa atau sesembahan yang oleh mitos dan mistifikasi berhasil mencabut manusia dari kesadaran nuraninya. Sehingga untuk menggugatnya tubuhpun harus menjadi korban. Dalam kesementaraan di dunia, tubuh sebenarnya begitu berharga. Meskipun, eksistensi, keberadaan si manusia itu juga ditentukkan oleh roh, jiwa, kehendak, dan ide. Dengan demikian, tubuh dan roh, mestinya tidak lagi harus dipahami sebagai dua yang sementara bersatu, dan nanti bercerai dengan kematian.

Sondang membakar raganya di depan mezbah bernama istana negara. Di situ sang raja, sang penguasa bertakhta dengan segala ideologi dan dogmanya. Yang oleh Sondang, ideologi dan dogma-dogma itu mungkin dianggap sebagai bentuk arogansi, kesemuan ataupun keberdosaan yang harus disucikan dengan tubuhnya. Kerelaan menjadikan tubuh sebagai korban penyucian, adalah sebuah pilihan tertinggi bagi seorang hamba. Dan, itu mestinya sebuah persembahan yang bernilai tinggi, karena ia mulia. Lebih dari itu, ini mestinya simbol gugatan pada sesuatu yang sudah sangat destruktif. Yang hanya dapat dihancurkan dengan korban bakaran tubuh sang manusia. Dan mestinya, kabar tentang tubuh Sondang yang hangus terbakar dapat menyalakan kesadaran, membakar segala kesemuan yang melekat dalam nurani massa negeri ini.

Raga telah hangus terbakar. Namun, ia meninggalkan pesan yang tidak perlu susah-susah dicari di beberapa detik sebelum api itu menyala di tubuh. Pesanya, ideologi, kekuasaan dan dogma bernegara, nasionalisme atau apalah istilahnya yang menunjuk pada sesuatu yang status quo dan absolut, selalu menuntut korban. Kita tak perlu mengulang cara bakar diri itu, tetapi yang terpenting adalah maknanya. Ritual bakar diri mengisyaratkan kemarahan yang sangat terhadap apa yang selalu menuntut disembah, yaitu negara, tetapi tidak (pernah) memberi kebahagian.

Bagi saya, pesan tubuh Sondang yang menyala adalah sebuah panggilan untuk segera menghancurkan segala kesadaran semu hasil indoktrinasi ideologi, kekuasaan dan dogma nasionalisme. ”Kenapa harus ada rakyat yang merelakan tubuhnya terbakar hangus di depan istana negara?” Ini tentu tidak harus dibaca sebatas ungkapan kekecewaan saja. Pesannya, bisa saja, agar jangan ada lagi tubuh-tubuh lain yang hancur, rusak, hangus karena ideologi, kekuasaan dan dogma nasionalisme. Inilah gugatan paling keras atas kegagalan bernegara.

Nation state produk modernitas ini, harus segera direkonstruksi. Nasionalisme adalah agama modern yang kelakuannya sama dengan agama-agama yang dipahami secara sempit. Semua itu sering tidak menciptakan kebahagian, malah hanya menciptakan kehancuran, permusuhan, kematian dan kebinasaan. Negara, jangan pernah jadi agama, dan agama jangan pernah jadi negara. Negara harus segera berhenti meminta korban, dan agama kembalilah ke asalnya, sebagai kritik atas ketidakadilan.

Selasa, 13 Desember 2011

Senin, 07 November 2011

Jejak-jejak Makna Kehidupan

|0 komentar

Kasih yang Menghidupkan

Suatu hari di Jepang:

Seorang tukang sedang merenovasi sebuah rumah. Si tukang itu mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku.

Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Si tukang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Tukang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu. Dalam hati ia bertanya apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan hidup selama 10 tahun itu? Sesuatu yang tak terduga ia saksikan. Tak tahu dari mana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya. Melihat hal tersebut, si tukang itu merasa takjub. Ternyata kadal yang terperangkap mendapat perhatian dan bantuan makanan dari seekor kadal lain.

Kadal yang lain itu, ternyata telah menunjukkan kasihnya yang tak terhingga dan tak pernah menyerah serta tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Sungguh sebuah inspirasi bagi kita manusia, betapa cinta dan kasih kepada sesama, mestinya adalah tanpa pamrih, sehingga menghidupkan.

Demikian sebuah kisah yang saya kutip dari situs http://kisah-ku.blogspot.com. Kata si penulis kisah ini, cerita ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang.

Kisah tentang hubungan kasih dua kadal ini, seolah-olah mengoreksi cara hidup kita manusia yang semakin individualis dan konsumeris. Ketika kepentingan pribadi dan kelompok menjadi fokus hidup, maka penderitaan sesama manusia yang lain kadang harus diabaikan, bahkan banyak yang menyebabkan penderitaan. Kita memang masih sering saling menolong dan membantu orang lain, tapi kebanyakan di antaranya telah terjadi dalam sebuah hubungan dagang.

Memang, selain makhluk social, manusia adalah juga makhluk ekonomi. Kalau ingin bertahan hidup, maka manusia harus siap masuk ke dalam wilayah pasar yang kadang liar dan ganas. Itu fakta dalam kehidupan manusia modern. Tapi mestinya pada saat-saat tertentu, ketika kehidupan telah sangat terancam oleh kemiskinan dan ketidakadilan, panggilan kemanusiaan kita mestinya tak harus lagi memperdulikan soal untung rugi secara ekonomis untuk melakukan suatu kebaikan pada manusia di sekitar.

Kita memang tak bisa memungkiri kenyataan hidup ini telah dipenuhi dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politik. Tapi setidaknya, kasih dan cinta yang terkandung dalam nurani kita mestinya melampaui kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi itu. Sebab, manusia pada dasarnya ada dan berada dalam hubungan yang tak terpisahkan dari kehidupan sosialnya. Manusia tak akan dapat bertahan hidup bila tak bersosialisasi, yang di dalamnya terjadi sinergi: saling memberi dan saling menerima. Kasih dan cinta terhadap kehidupan, menjadi dasar hubungan-hubungan itu.

Kadalpun bisa tergerak nalurinya untuk membantu dan menolong sesamanya yang sedang dalam keadaan sulit, apa lagi kita manusia yang hidup bukan hanya karena naluri tapi juga akal pikiran. Kita manusia mestinya tetap berproses dalam suatu tujuan yang mulia, yaitu kehidupan.

Hidup manusia, sejatinya tidak hanya untuk dirinya sendiri. Kita rajin bekerja, tentu tidak pertama-tama adalah untuk kekayaan kita sendiri. Selain memang adalah untuk melanjutkan proses hidup pribadi, tapi, dari proses gerak yang sementara kita kerjakan mestinya akan menjadi cahaya dan pengerak peradaban. Seorang pemulung sampah pun, dari kerjanya seperti itu, sadar atau tidak, sebenarnya sedang melakukan sesuatu untuk proses keberlanjutan hidup banyak orang. Bayangkan, kalau tidak ada orang yang memilih menjadi pemulung, seperti apa keadaan sampah kita? Sampah yang bertumpuk terus menerus, tanpa dikurangi dengan kerja pemulung tentu akan membawa dampak bagi lingkungan dan kerja pembangunan negara. Seorang pemulung, dari kerjanya, sebenarnya sedang dalam usaha memberi suatu bagi peradaban, yaitu demi keberlanjutan kehidupan banyak orang. Ini suatu contoh kepada kita betapa hidup ini sejatinya adalah untuk semua, untuk keberlangsungan kehidupan dunia ini.

Kasih sesungguhnya tak pernah berharap imbalan dan menembus batas-batas perbedaan. Kasih yang menghidupkan laksana lilin yang siap mengorbankan dirinya demi seberkas cahaya dalam kegelapan. Ketika semua di sekitar kita seolah-olah telah kesetanan berlomba untuk kekayaan dan kekuasaan diri sendiri, kasih sekecil apapun dari kita bisa memberi cahaya pengharapan bagi manusia-manusia yang menderita karena struktur yang tidak adil dan kerakusan sekelompok orang mengejar harta kekayaannya sendiri. Kasih yang sejati sesungguhnya menghidupkan dan membangkitkan gairah hidup. Tanpa kasih dunia pasti sudah lama hancur!